Penulis dan Karya di Indonesian Poetry Battle on Facebook 7

Tema: ‘Seribu Bentuk Rasa Takut.’

Kurator:

Narudin Pituin (Penyair)

Eka Budianta (Penyair)

Soni Farid Maulana (Penyair)

Dewi Kharisma Michellia (Penulis)

Abu Nabil Wibisana (Penyair & Champion IPBoF Season 2)

Penulis yang berpartisipasi:

Linggar Rimbawati Puwrowardhoyo
Kau boleh menukarnya
Dengan sepuluh butir gula-gula
Yang akan menghabisi lidahmu
Di atas lembar kumal itu
Kita pernah iseng bertukar pesan nakal

Eko Rhagiel
Anak yang ingin menawar alam

Ibu, aku ingin menggantung uang di atas pohon. Karena aku ingin menawar pada alam, agar mereka tidak marah pada manusia. Memberi waktu untuk berubah, kembali kita berkasih sayang.

Anita Kusuma Dewi
Menguatkan akar rupiah,
Menata senyum tuk kembali merekah,
Menjinakan tangan-tangan jahil yang menjarah,
Melalui sadiwara nan jinak hingga yang parah,
Bersatu agar bunga kesejahteraan kian merekah.

Eko Rhagiel

Perihal luka

Kepada ranting-ranting kecil, beritahu aku cara menawar luka. Baik itu dengan luka, atau balada. Yang kumau adalah kebahagiaan. Sebelum lahir cinta yang kedua, atau perginya cinta kesekian.

Arif Rohman
seribu rupiah dan pot

tanamanku bernilai seribu rupiah
akarnya masih menancap
sayang daunnya berguguran
masih pantaskah aku bersyukur
atau pantasnya aku tersungkur

Fajar Setio Utomo
PERBATASAN
Di balik negeri, ada yang menyamar dan diam-diam menjadi lian
Sibuk membagi, mana Hak dan Keinginan.
Sampai isu pembangunan datang, ia hanya beku di perbatasan

Anggi Putri W

Seribu Rupiah yang Tersisa

Meranggas lamat-lamat ranting rupiah
dikunyah tikus berdasi di kolong rumah
hanya tersisa
seribu saja

Khair Lazuardi
Di mabuk ranting-ranting
Seorang pria mengacungkan samurainya
Di ruang segalanya, angka-angka itu menjerit
Bersama akar yang tersabit
Terbunuh oleh ego dan nafsu yang mengampit

(Januari, 2015)

Vindy Putri
JUDUL: Dilema Dolar

Ini yang disuka, tebal atau hanya selembar saja…
Mudah menusuk tetapi mudah merayu
Ah, pusing memikirkannya!
Memiliki salah, tak punya satu pun sengsara!

Andrian Eksa

ANGKA KEHIDUPAN

“aku ingin hidup seribu tahun lagi,”)* katamu
ruh jiwa puisi, membingkaimu dalam kenang

Jogja, Januari 2015
_
)* potongan puisi karya Chairil Anwar berjudul Aku (=Semangat)

Eric Keroncong Protol

Dompet

Hanya menjadi penghias dalam isi dompet. Karena dolar merajarela dan rupiah seakan-akan terjajah kembali. Haruskah 70 tahun lalu terulang kembali? bukan kah sudah merdeka? Kenapa masih di jajah kembali?

Vindy Putri

Bungkam

Panca indra sedang bersaksi…
Sial! Ini hal besar!
Sejenak mata terhenti berkedip…
Tatkala melirik tumpukan kertas bergambar…
Kini, bibirpun siap disulam…

Gustu Sinduputra

hanya.butuh.seribu.rupiah.saja

untuk.menjadikan.sebatang.pohon

tumbuh.rindang.selama.seribu.tahun

menjaga.kehidupan.kau.dan.aku

yang.cuma.seluas.pot.bunga.itu

Cahyatunisa

satu kosong kosong kosong kering
perjuangan yang dihargai seribu
pertanda harus banyak usaha mencari air kehidupan

Steve Elu

fotosintesis meranggas di bilah pedang:
mati terkikis lapar atau tewas terkutuk panas.
bapa tua mematung. seribu di mata kaki.
harapan di mimpi. matahari di mata keruh.

Estria Solihatun Nurjannah
ku beli pot harga seribu. lalu ku tanami uang seribu. berharap akan tumbuh beribu-ribu uang seribu.

Aris Rahman Yusuf
KERONTANG

bibir kering
perut berdendang lapar
daun-daun berguguran tak berbuah
seribu lepas genggaman
siapa yang sudi mengisi?

2015

Linggar Rimbawati Puwrowardhoyo

Ma, beri aku sepotong rupiah
Yang paling kucal tak apalah
Dari saku celana jeansmu
Di pasar malam ada gadis menjual pohon dalam pot
Aku ingin memberi salam padanya

Malik Kurnya Kurnya
Seribu satu sudah !

Yogya,09-01-2015
mkk-321

Anton Pramuji

aku tak punya pohon kering pucat untuk kuberikan, aku cuma punya wang seribu bisakah kutukar dengan kecupan kecil dipipi dari nona Sartika Dian Nuraini tuing tuing

Willys

TANDAS

serupa ikebana
yang mati di seribu mimpi
dalam pot
tidurku malam ini

Subang, 09.01.2015

Nikki Sarah Yuliana
Pemikiran dan Rupiah

Aku tahu, itu (rupiah) tidak seberapa.
Aku hanya takut lupa saat rupiah semakin memenuhi pikiranku.
Aku ini guru, bukan seorang pebisnis.
Aku hanya berusaha membuat ranting pemikiran muridku semakin bercabang.
Hingga saatnya nanti, aku dan mereka akan tersenyum bersama.

Fina Lanahdiana
Batang Cuaca

Seribu rupiah melarikan diri di depan
Menjadi dasar percakapan
Antara pohon yang cabangnya jadi kalimat tanya
Bagaimana?
Apa kabar semoga

Kdl, 2015

Tono Belitong
Ia hanya bilangan kecil yang terkikis zaman,,terlipat lipat dekil lusuh dan kusam diantara tumpukan bintang,,sebagaimana pohon tua kering yang bersemayam dalam akar akar bumi,,ia hanya diam…diam membisu dalam gerakan alam,,saat ini atau nanti…ia hanya berupa pajangan.

Khair Lazuardi

Ihwal yang tumbuh,biarkan saja
Tanaman waktu memberi keterasingan bagi pisau pisau yang tajam
Ku acungkan senjata ku kala itu
Dan hari ini, Tuan menghargaiku hanya dengan angka 1 dan 3 nol dibelakangnya
Haruskah ku acungkan juga senjata itu di nadiku?

(Januari,2015)

Chuzaivah Ichsan
Dan akupun berontak, mencari udara segar, ujar akar
Karena tanah yang sedari dulu menjadi rumah
Menjadi murah
Tidak punya makna
Tidak punya rasa

Muhammad Budi Santoso Al-Palimbani
Murai Tersalib

Sepotong empedu dunia. tersaji lekat, yang juga padang sahara. ah-Esa, benda itu tersusun rapi di batok-batok kepala Indonesia. (Januari, 2015)

Wardjito Soeharso
Yang Tersisa dari Uang. Hanyalah Gersang

Uang tak terbilang
Duniamu mabuk kepayang
Harta, tahta, wanita
Di batas mana engkau menepi
Gersang pandangmu kerontang

Alfa Anisa
apa kau tahu jalan kepulangan? tentang jalanjalan gersang yang memaki garang. tentang pesan dari selembar uang yang hanya kenangan. apa kau tahu jalan kepulangan?. di mana akan kudapatkan selembar kebahagiaan bukan kekayaan.

Faiz Adittian
POHON ITU

Seribu musim
Telah menisankan pohon itu
Bukan karena ia bertengkar dengan matahari
Tersebab ia meranggaskan diri
Oleh waktu yang gugur

Pasir Luhur, 2015

Ang Jasman
PESANMU DI MEJA ITU

Udara tiba-tiba meruar aroma tuba
Kamar pun diam, senyap. Almanak termangu.
Ada pesan yang kau tinggalkan di meja. Seolah suaramu.
Tahan, katamu, milik kita hidup. Lihat.
Perdu yang sabar menunggu daunnya tumbuh.

Wardjito Soeharso
Gradasi Harga

Seribu rupiah
Ada pot bonsai beranting kering
Semilyar rupiah
Ada kawasan hutan siap tebang
Setrilyun rupiah?

Soetan Radjo Pamoentjak
biar batang merangas hilang dedaunan
haruskah kehidupan bersandar angka
hidup tidak butuh hitung-hitungan
kehidupan butuh kematangan

Muhammad Iqbal
Rampaiku Hilang ditelan rupiah rupiah

Biolen Fernando Sinaga
S(E)N(JA)TA
Tangan kosong dan bersenjata sama saja
bisa membuatmu ksatria atau alpa
patuh atau melenceng dari niatmu semula
Bisakah pertarungan kaueja?
:tetap saja kau kalah dari Sang Maha!

Wahyu Wiji Nugroho

Sampah dunia

Biolen Fernando Sinaga
HIJAU
Hijau menyamankan mata
namun warna beraneka rupa
Mata hijaumu melihat dolar atau rupiah
hanya akan membuat hidupmu gelisah
menyulapmu dari malaikat jadi bedebah.

Ade Riyan Purnama
Intermediari musim

Seribu musim hantarkan angin
bersama gemuruh
gugurkan daun yang kering
Diantara gerakan langkah yang diiringi ranting
Dan rindu pot bunga coklat

Rumah Penelitian
Uang bermata pedang
Perdu kecil kerontang
Meranggas hati gersang
Meski sosok kilat gemilang
Kala nurani diam terbungkam

عبدا محمدكان باستيان
ranting meranting buah Ranting
dalam pemandian tempat anjing

Imat Kalimahi
Menawar Murah Hutan

Biar kami beli hutanmu, katamu
Sebab pohon dapat disimpan dalam pot
Sebab pohon tak lebih baik dari kayu
Sebab kayu-lah yang kami butuh
Sebab uang-lah yang engkau perlu

_Januari 2015

Fidelis Krus Yosua
TOKEK

kopi saja dulu
atau mau rokok ?
masih ada ampas
puntung juga ada
simpan untuk ongkos pulang

Yuliana Sari
seperti rindu yang sudah kuulang-ulang. maka ia akan kerontang, jika tak segera kau genggam. meski berulang kali kau kemas dalam bejana. ia akan serupa lembaran paling kusam. kecil dan terabaikan.

Inda Embung Widiyanto
“Seribu pohon,
Pohonku, tinggal seribu..” -ai-

Sri Wahyuni
Mereka senasib
Selalu terkucil
Bukan pohon tanpa ranting
Bukan pula semilyar tanpa seribu
Paham? Entahlah

Aceh, Januari 2015

Sastro Taruno Satoto
Kulipat-lipat kamu uang seribu jadi layang-layang
Menemui awan dan bertanya “kenapa hujan tlah gersang?”
Januari 2015, jejak imaji

Maniro AF
kapitan pattimura

begitulah ia berdiri, matanya, nyala api
dan tajam parang digenggam. ia tak gemetar meraba dan menatap cuaca yang berjatuhan di meja. kepadmu, betapa ia ingin bercerita tentang sebuah negeri dan pohon yang daun-daunnya terpaksa pergi.

Yogyakarta, 2015

Peni Apriani
BERARTI DI AKHIR PENANGGALAN

Kau kerap kali menunggui dompet kami
Di akhir-akhir penanggalan almanak
Tapi saat itulah keberadaanmu menjadi sangat berarti untuk kami

Peni Apriani
MENGGENAPKAN

Kau memang bukan nilai maksimal
Tapi keberadaanmu menggenapkan keganjilan
Di hitungan nominal

Ody Peje
Cerita di bumi pertiwi

Rakyat kecil ditelanjangi politisi
Dipancing janji kemudian caci maki
Menggugurkan kebenaran yang hakiki
Niat suci pahlawan terbungkam dalam peti mati

Vita Wu
Keserakahan dari negeri mu sendiri
Yang berakar dari kematian hati nurani
Kau angkat pedang itu demi sebuah mimpi negeri tanpa gersang.

Satriawan Deni
Aku tak peduli pada pohon.
Aku tak peduli pada uang.
Aku hanya acuh pada Iblisnya.
Tapi aku juga salah satunya.
Bunuh aku agar bisa merasakan surga.

Damar Anggara
ribuan
pohon
akan terjarah dari keluasan negeriku,
seperti kemarau memerahkan tanah,

Tria Achiria
AGAR TAK GAMPANG SAKIT HATI

Mari, kita letak dan sandingkan angan sesederhana kerontang batang yang tanggalkan daunan atau sepolos sorak sorai bocah lampu merah yang riang terima upah seribu rupiah.

Nermi Arya Silaban
Seperti kilau air aku ingin menumbuhkan sepasang
kuping hijau di reranting waktu, agar bisa kudengar
pekik lambungmu di senyap merah bibir kanak
yang menghapal, hingga seribu tahun lagi…

Sastro Taruno Satoto
Patimura mengganti pedangnya dengan pacul dan parang. Sebab katanya ” tanah ini lebih cocok bertanam daripada berperang”.

Astina Purba
Kemarin, kau beli mimpiku dengan janji.
Kau bilang akan menjadikannya sebuah hal yang memang jadi.
Ternyata tak ada yang jadi,kau malah menjadi-jadi.
Dadaku menjelma kerontang,sudah tak bisa ditumbuhi mimpi apalagi rindu.
Hatiku sudah pulang,membawa seribu luka dari sebilah pedangmu.

Mahmud Yasin Ibnu Utsman
Seribu cabang
Seribu angan
Untuk menempuh jalan hidup dalam negriku

Chuzaivah Ichsan
Air
Mana?
Air tajam
Kering
Penuh luka

Ratna Ayu Budhiarti
ANAKKU MENELEPON

“Bunda, lagi kerja? Pulangnya belikan pohon uang ya!
Aku mau beli mobil merah, vespa merah, pesawat merah”

Ini musim hujan, tapi puisiku tidak bisa tumbuh di koran.
Sebentar, kucarikan pohon uang mainan di taman kota di Bandung
Konon katanya di sana rumput plastik saja bisa tumbuh subur

#RAB, 10012015

Shoma Noor Fadlillah

Dulu aku pahlawan. Sekarang diibliskan. Jadi akar segala kerontangan.

Amoy AiRior

PEGADAIAN DAUN
Hatiku terlalu malam untuk mengusap kerontangmu yang kesiangan
Kau lalai mengunci rumah sendiri,
Hingga dikhianati tanah dan meranggas dalam tamasya berkepanjangan
Agaknya kau perlu dijaga pahlawan bangsa.

Dimas Prasetyo

Seribu Anganku Kering bak dahan Karena Uang.. Pupus kerontang bagai mayat tak bertulang.. Hilang harapan hilang hidup terbuai dalam angan..Menggapai langit asa yang tak terbatas oleh impian. Menunggu mati laksana tanaman tanpa siraman.. by Dimas Prasetyo
Cahyatunisa PENUH TANYA

Cahaya apakah itu yang tega menghabisi sisa hidupku?
membuatku ragu mampukah aku mengganti daun yang hilang kembali menghiasi meja belajarmu?

Gesti Veronika

Tuan, aku tak kan mati tanpa daun dan bunga apalagi hijau warna
Harapan harapan ku telah gugur pada mereka
Aku akan terus hidup seperti Pattimura itu
Sampai seribu januari lagi
Hingga ranting ranting mungil ini lelah, berhenti berdetak lalu mati

Yuliana Sari

Mak, aku pernah berjanji membawa pulang rindu paling tuhan. sebelum malam jadi pagi yang gigil. sebelum subur jadi kering yang masam. esok, mak. janjiku akan pulang meski ribuan pedang datang menghadang.

Nailur RizQi

berakar darimu.. carut marut isi dunia
hal biasa.. plintir tangan lawan, todong muka kawan
berdiri gagah menembus ‘arsy suci
kelima sifat bersatu di tepi, saling memikul atau saling memukul?
ah.. yang terlihat memang kepakan sayap.. tak disangka punggung berparang.

Syifa Khumairah

sekuntum bunga tak lagi mau tumbuh/ pada batang yang terlanjur kaku/ keindahan telah ditebas oleh pedang yang paling garang/ menjadi putih tak berbekas/ mengenaskan!

(gubuk kecil)

Inda Embung Widiyanto
#AkhirBulan

“Gugurnya daun, tandusnya tanah,
Di musim kemarau, si pohon meranggas,
Bak proklamator pergi menghilang,
Tinggal lah pattimura, di akhir perjuangan..” -ai-

Priyo Darojat

Keringnya jiwa pahlawan
Si kapiten hilang parang
Daun gugur dari pohon
Tanah tandus tersisa
Pohon jati tak ditanam lagi

Nailur RizQi

tergambar satu wajah harapan indah di tengah kegersangan
bukan kotakan batas, justru pohon kehidupan didalamnya
yang kan merekah, membumbung dan menghancurkan batasan

Muhamad Rifqi

nasibku yang hanya terjaga oleh seribu rupiah

tak kau kenal, terabaikan

bagai ranting yang kering kerontang

Eric Keroncong Protol

TANDUS

Tak ada artinya, maka mati
Tandus
Barulah datanglah keajaiban

Ken Hanggara
Seribu rupiah memberimu dua pilihan | Antara hidup dan meregang nyawa | Bisa segelas air mineral | Bisa sesloki minyak tanah | Pilih mana yang kau suka | (10-01-14)

Ken Hanggara
Nyawa ini saya gadaikan kepada Anda, Bapak-bapak sekalian | Yang berkuasa atas air, tanah, listrik, sembako, dan biaya sekolah | Biar sekadar kering nyawa saya, bawalah | Bayar seribu rupiah pun tak apa | Yang penting istri dan anak-anak bisa makan (10-01-14)

Muhammad Badrun
Pohon Soekarno. Kegersangan Makkah, terobati.//Dedaunan yang rontok, kini merimbun sebab mereka merawat diri.// Meranggaskah kita karena seribu rupiah?.// (Bucil, 2015).

Sartika Sari

naenai, bukalah jendela kamar,
sudah lama aku menunggu di luar,
di antara pagar besi, ilalang dan tembikar yang tak dipakai dipan,
aku kangen, mau pulang, bertemu kau, kenangan, dendam, ketakutan
bertemu maut yang wajahnya rupawan, (katamu)

Repita Hadi

Seribu mimpi kutanam penuh harap
Bersahabat dengan peluh yang mengalir, meresap dalam membran suci
Lalu… kau datang bersama beliung, menggulung kencang di tengah terik
Daun-daun impianku jatuh, satu persatu
Aku layu, kering dan mati dalam hidup yang kau buat

Ngawi, 10 januari 2015

Priyo Darojat

Cucu Si Kakek Tua
malang kepalang si kakek tua|
menanam pohon dengan nyawa dan darah|
untuk beristirahat dan berteduh|
nakal cucunya menjual air|
hanya harga 1000 rupiah|

Ade Riyan Purnama

Pengawahutanan

Paru-paru negeriku menjadi kering
Menjadi longsor
Menjadi letupan gunung-gunung
Menjadi banjir
Demi rupiah, pembalakan hutan digelar

Atikah Zata Amani

Jadi perkara apa yang gratis?
Mati saja butuh uang sayang.

Waffa Ruhul Bakkah
DZIKIR POHON 1
Aku dipaksa menanggalkan daun
Tersebab racun zaman yang congkak
Jutaan nafas tergadaikan
Hanya demi sehelai recehan
Tuhan, aku bukan tersangka!

Rakhmad Hidayattulloh Permana

Bonsai Keangkuhan

Pohon-pohon telah ranggas
Namun kesedihan bumi tak pernah tuntas
Antara perut-perut buncit orang afrika
Juga sendu mata para pendosa
Orang kaya sibuk tertawa, sembari menyembah lembaran dusta

Subang, 2015

Rakhmad Hidayattulloh Permana

Murakami Membuat Origami

Origami yang kau ciptakan
dari kesunyian dan kehampaan
membuat hidup kami terselamatkan
dari kepalsuan dan kekuasaan yang memuakkan!
Dengarlah nyanyian kami, Murakami!

Subang, 2015

Sri Wahyuni
Tak ternilai, terkucilkan, tak dibutuhkan lagi; katamu. Kalau begitu, apa artinya kalian tanpaku wahai para yang merasa sempurna? Bahkan yang paling sempurna pun tak pernah menilaiku demikian. Bersyukurlah!

Aceh, Januari 2015

Mel Melia
Kapitan

siapa sangka alam maha raya
dia jinjing dengan tegap karisma
penobatan dan sebuah titah
dia menjelma mulia (Yogya, januari)

Dewandaru Ibrahim
Pohon yang Uang

Pohonku berdahan dan beranting uang
Bunga dan buahnya uang
Dan ia pun berubah menjadi uang
Di saku saku penjahat yang berotak dan berhati uang

Purwokerto, 10 desember 2015

Dewandaru Ibrahim
Haruskah karena Uang

Kehidupan, nafas dan kesehatan
Bisakah di tukar dengan uang ?
Cinta, harapan, perjuangan dan kebenaran
Haruskah meranggas karena uang ?

Purwokerto 10 desember 2015

M Alif Marufy

Una… Beta pulang..
Pegal melipat tangan pura-pura gagah saaa..
Kangen beta punya orang utan berbalik dirumah..
Una… Ingatkah beta..
Una… Una… Una… Nisan Una…

Lailatul Kiptiyah
hutan itu, anakku/yang tumbuh dari akar keringat masa lalu/kini tandas dihapus oleh/tangan-tangan yang rendah/yang nilainya tidak lebih dari uang seribu//

Waffa Ruhul Bakkah
DZIKIR POHON 2

Terkadang aku harus menanggalkan bajuku
Agar pakaianmu tak setebal itu
Di depan salju, dan
Sakumu tak terbuka
Tuk membeli setangkai semboja

Hadi Sastra

Jiwa yang Gersang

Jika hidup selalu bermuara uang
Laksana tumbuhan gersang kerontang
Keindahannya sirna melayang
Kian jauh jiwa yang tenang
Selalu diselimuti hamparan bayang

Tangsel, 10.01.2015

Abdul Wachid Bs
“ISTRI PUISI (1)” Sajak Abdul Wachid B.S.

: uang dapat dicari
apakah cinta bisa dibeli?

aku butuh cintamu

aku butuh bicaramu
aku butuh kaubaca seperti puisi

(yogyakarta, 10 januari 2015)

Hadi Sastra

Bunga Tak Lagi Kembang

Tataplah dengan jiwamu
Lukisan hidup tak lagi berpelangi
Jika sebatas kautakar dirimu
Hanya dengan selembar materi
Ibarat bunga tak lagi kembang

Tangsel, 10.01.2015

Syifa Khumairah
pohon berduka? -bukan! aku malah pohon paling kaya!

katanya daun telah meranggas ditebas kata-kata paling culas?!/ padahal musim ini daunku baru berseru ingin menghijau setiap waktu/ katanya aku adalah pohon paling dungu yang terluka karena ranting-ranting tak bernyawa/ padahal nyawaku seribu yang selalu menderu tanpa waktu harus tau/ aku pohon berduka? bukan! aku malah pohon paling kaya.

(gubuk kecil)

Asni Furaida

Akar pohon kemalasan menjeratku, meminum habis sari-sari semangatku dan menumbuhkan kembali benih-benih monster pesimisme dalam tubuhku. Penawarnya hanya satu, uang kertas seribu yang bergambar Pattimura membawa golok, karena ruhnya bisa menebas akar laknat itu.

Abdul Wachid Bs
“ISTRI PUISI (2) Sajak Abdul Wachid B.S. : apakah aku masih/ menjadi pakaianmu bersih// seluruh aib akan raib/ segala lelah akan bertabib//
setelah menutup pintu puisi (yogyakarta, 10 januari 20015)

Aditya Ardi N

UPAH
|seribu rupiah|
|kadang harus mengasingkanmu |
|dari pengertian ibu| |dan ayah|

Aditya Ardi N

POHON PLASTIK
Seperti rambut adam yang tersengat listrik, potongan kota, kutanam dirambutmu juga.

Rusliadi Darwis
Kutanam kau dalam gersangku
Berharap tumbuh sebagai cinta yang subur
Untuk aku jaga layaknya lembar terakhir di saku usang
Karena aku yakin kasihpun bisa bermula dari kegersangan suci

Risno Aj
CINTA PECAH
cinta
Pecah
Hilang
Rupiah
Cinta
Menyatu
Ada
Rupiah
Cinta karena rupiah.

( Purwokerto, 10 Januari 2015)

Muhamad Rifqi
Daun kering kerontang yang tanggal//Dari ranting yang selalu menengadah pada langit//Mengharap kemurahanNya

Fidelis Krus Yosua
APAKAH KAMU HOMO?

Aku hanya bercanda teman
Ini memang tidak lucu
Seperti mana yang lebih dulu
Ayam atau telur
Apakah kamu homo?

Watipu Ichijo
Pohon

Tak ada yang bisa hidup
Dengan uang seribu
Termasuk AKU

10/01/2014

Muhammad Budi Santoso Al-Palimbani
GERSANG

di dapur, wanita menanak nafas

Palembang, 10 Januari 2015

Watipu Ichijo

Kita

Di kehidupan keseribu ini
Kita tak jadi manusia kembali
Sepot tanaman, selembar seribuan
Tetaplah di belakangku
Agar bisa tetap kulindungi

10/01/2014

Yanwi Mudrikah
“WANITA”
: uang dan pot bunga
bunga kering di atas meja

wanita dan bunga
sama berharap keabadian
wanginya
bukan hati yang dibanting
di meja kehidupan

(purwokerto, 10 januari 2015)

Riyadhus Shalihin
PELAJARAN DISIPLIN DI HARI SENIN
Hari senin yang macet, pagi hari dari pelajaran meminta kembalian ongkos. Hari senin yang pulang pergi dari maluku dan peperangan di saku-ku. Hari senin tidak pernah memiliki bambu runcing dan belati . Upacara bendera menyimpan peti mati pattimura, merapihkan hutang bangsa dari kuku kuku yang tajam di pintu masuk kelas. Pelajaran sejarah baru saja dimulai. Tanggal merah mengawasi pagi yang tajam, pattimura menunggu bel istirahat. Kantin menyediakan rempah rempah, kayu manis dan seperangkat baju pramuka

Muhammad Budi Santoso Al-Palimbani
KECUPAN KEMARAU

membakar syahadat. pun dengan tanda seru.
namun bukan tanda tanya
sungai
awan
dan matahari.

karena mereka kekasih titipan

Palembang, 2014

Galeh Pramudianto
LATAH TUAH

semerbak babak ranting menanam silam/ menuding kidung semilir silir/ pergumulan abjad mengeja abad/ harta memeluk yang kian dekat kemelut lekat.

Palangka Raya, September 2014

Galeh Pramudianto

EPISODIK

menanti adalah menuangkan sunyi ke pot akarmu/ membeli ialah hasrat menyuci batang dan menukarkan dengan payung tandus.

Bintaro, Januari, 2015

Farra Yanuar

WARISAN

Seharga nyawa
Menjaga kenangan dalam pot
–Ditanam ibu

Anton Sulistyo
MUSIM DINGIN & INSOMNIA
Salju seolah betah menetap
di ranting pepohonan. Di kaca jendela
wajah kota memutih. Angin meratap

1000 kenangan suram bagaikan perahu
Berlayar di langit-langit kamar tidurku.-

Anton Sulistyo
MUSIM DINGIN DI NEGERI HAIKU
Dingin selalu bersekutu dengan sunyi
Orang-orang menghilang dari jalanan

1000 pohon persik gemetar
digerayangi salju. 1000 koan
dan mondo memutihkan rambutku.-

Lailatul Kiptiyah
“Sajak Satu”
Tuhan yang maha kukuh
aku hanyalah sebatang pohon
yang ranggas
usia yang susut dan mengelupas
namun Kau juga yang tahu
seribu sedih dan kangenku

Mahroso Doloh
POHON CINTA
Sajak Mahroso Doloh

pohon cinta yang
tak mampu melukis kehijauan
hingga terkubur senyuman itu
wasiat beribu; tak sedikitpun bermakna

Januari 2015

Yanwi Mudrikah
“PEREMPUAN BERMATA CINTA” Sajak Yanwi Mudrikah:
wanita percaya kepada kata/
sekalipun dia tahu sering kosong makna// tetapi perempuan bermata cinta/ di tengah hidup penuh kemasan//
prasangka baiknya menjadi realita

(purwokerto, 11 januari 2015)

Mahroso Doloh (DISKUALIFIKASI)
SUBURKAN
Sajak Mahroso Doloh

ku ingin suburkan taman itu/
yang sekian lama kering; kemarau//
dalam doa ku hadirkan gerimis/ mengalir lewat jendela wajah ini/
demi dikau dan aku diberi ruang/
ruang untuk bercinta//
di taman penuh rahmatnya/
hingga kehijauan melambai/
mengalamatkan cinta dalam kehangatan Ilahi

Januari 2015

Adi Purnomo Wartam
Ranting yang Kubawa Pulang

pedang siapa ini
yang tiap ayunnya menanggalkan daun
hingga tiada yang tersisa di belantara
selain seranting kering
yang kubawa pulang

Purwokerto, 11 Januari 2015

Risno Aj
SERUPA RANTING

serupa ranting tanpa bunga
Ketika jasad ini tanpa ruh cinta
Maka ketika jasad ini terisi penuh oleh ruh cinta kepada sesama
Maka rupiah tak ada guna
Sebab ruh cinta kepada sesama sudah diatas segala galanya
( purwokerto, 11 januari 2015)

Mochammad Asrori
Apologi

hanya batang dan ranting setia berkalang/untuk tak terbang semau daun dan kembang/biar pot telah sesak terdesak/dan seribu penjaga berparang/selalu berpijak pada sesuatu yang retak//

2015

Aris Rahman Yusuf

POT

dengan apa ranting diganti/tanah ikut mengering/seribu janji tak jua ternikmati/pot melusuh meretak/adakah rusak segera beranjak//

2015

Titi Anisatul Laely
FRAGMEN PUISI MUSIM GUGUR

Aku kau telah menua
berbaring di atas tanah yang kering
mengais kisah
seribu wajah yang telah bertemu
dengan tubuh membatu

Purwokerto, 11 Januari 2015

Titi Anisatul Laely
KAPITAN PATTIMURA

Lelaki biru yang matanya terlukis samudra
Mata-mata tergores luka
Pattimura,
uang mengeringkan sejarah almanak
memejamkan langit yang mencerabut dari akar kemiskinan

Purwokerto, 11 Januari 2015

Fery Lorena Yanni
SERIBU

Seribu….
Apalah arti seribu
Jika ia telah membunuh
Nuraniku….

Salatiga, 11 January 2015

Waluya Dimas 
Seribu demi seribu simpan di bank
anggap saja sebagai uang hilang
suatu kali kau akan terkejut nanti
dengan bunga untukmu uang kembali.

Muhammad Badrun
Lampu Neon. Di balik matauang itu// Ada nyala, ada padam// Ada gersang, ada rindang.// Dan kitalah di antara kedua keadaan: pasrah kepada hunusan pedang. (Bucil, 2015).

Fery Lorena Yanni
SERIBU

itu seribu…
Hanya seribu
tapi dapat membeli
Harga dirimu…..

Salatiga,11 January 2015

Peni Apriani

PAHLAWAN DI UJUNG KEKERINGAN

Keberadaanmu di dalam dompet, sebagai pertanda kekeringan tengah melanda, jiwa gelisah dimamah rasa nelangsa, namun tak dipungkiri hadirmu layaknya pahlawan di medan laga transaksi dunia.

Ekohm Abiyasa

KERING
aku merayakan kesepian meniup lilin setengah
bergembira bersenandung di antara remang batin dan gelora
angin mengintip dari jendela
menggerutu kidungku yang tak sudah-sudah
aku bagai ranting kering di pusara kematianku!
————————————–
Itu yang lebih dari 2 puisi mbok ya mikir. Bikin beban kurator/admin aja.

Ekohm Abiyasa

RIMA
aku merasakan kenyerian mendalam memukul muka
kabut-kabut gelap menukik bagai elang berburu kelinci
kehilangan tempat sembunyi
di batu-batu dan tanah kering peninggalan usia jingga
hingga letih seletihnya puisi menderita dehidrasi diksi
————————————

Suratno Nano
Ana dhuwit neng ngisor uwit
dhuwit lecek
uwit buncret
ra nduwe godong
ora nduwe kembang
dhuwit lecek tetep kanggo nggawe.
wek ewek ewek

Bagus Setiawan
Duit, Duit, Yang namanya
Duit Duit
Semua orang pasti butuh
duit duit
Pohon pohon yang namanya
pohon pohon
Semua orang pasti butuh
pohon pohon
Beli pohon pake duit
Beli duit jual pohon
Saling membutuhkan
jangan saling jual

Mahdi Rahmadhani (DISKUALIFIKASI)
Suara Menteri Kehutanan

pagi telah temui pagi
namun aku masih di sini
untuk menanam bibit negeri
dengan langkah pemberani

tak pernah ku dengar cinta
tak pernah ku dengar sayang
yang ada hanya langkah
saling menginjak yang amat paling lemah

ah, sudahlah
kapitan patimura juga tak berdaya
ia hanya menangis
melihat hasil perjuangannya sia sia

kini
biarkan aku terus mengabdi untuk negeri 1000 mimpi
persetan dengan uang
aku hanya ingin negeri ini hijau kembali
seperti dulu.
ya, dulu.

Artyza Maghfira Quen
seribu kata yang kau torehkan kini tampak gersang dalam diam
keindahan kemarin gugur hingga tersisa hanya dahan
Tiada kehijauan yang tampak terlihat
Namun,
seribu kata kemarin akan tetap ku pajang dalam tandus yang diam

Ratu’Archy Laraz
Periuk rejeki

Tanam benih hasilkan panen
Rawat akar kuat
Jadi satu buah seribu
Rizky tiada lari

Niken Kinanti

Kalau kau memanggilku Hawa, maka kau benar menunjuk perempuan yang tak menukar cinta dengan selembar Kapitan Pattimura/mari bertukar puisi dalam terang matahari yang menyala dalam kalender Masehi/kau selalu rewel dan mengikir kemiskinan yang semakin melata/di pucuk Muria sana, ada lelaki tua pertapa yang bahkan tak mengenal dollar itu apa/kupanggil kau Adam, yang mengajariku menanam apa saja, sebab manusia adalah makhluk sunyi yang mampu menawar luka/

12.00.77%.

Ria Arista Budhiarti

POT

Di lain waktu Tuhan mengumpat ; istri adalah serupa air dalam pasir
Ketika tenggelam dalam akar maka tumbuhlah senandung rumah tangga yang subur..

Ria Arista Budhiarti

KERING
Sedang cinta yang subur
Serupa sungai mengalir dalam batu dan tanah tua, memang bukan uang semata
Lantas siapa yang menyuburkan akar tembakau mertua?
jika bukan kita si pemililik Puan bertahta

Ardy Suryantoko
SERAT
daun meranggas selembar kertas
menjadi serat wasiat
isinya suratan kepada ranting-ranting
tak ada perigi
hujan tak akan sambang kembali

Jejak Imaji, 2015

Mochammad Asrori

Rendabel

antara aku yang serba diam/dan lelaki berparang yg meretas ruang/seolah ada kuluman nujum yang merontokkan buah adam/karena kita berebut menemu satu pot/untuk menyemai daun dan kembang//

2015

Ardy Suryantoko
KEBALIK
lantas ranting ditanam
akar jadi kembang
buah jadi kebodohan

Jejak Imaji, 2015

Repita Hadi

Harga Kehidupan

Rumah cantik
Harta berlimpah
Mati tetaplah mati
Takkan terbeli napas bagi sang gagah

Januari 2015

Maria Ansul

UANG
Apakah uang membuat hidup bahagia?

Ada ribuan pertanyaan tentang bahagia
Sebagian menjadi lumut di tembok kota

Sisanya tumbuh menjadi rumput liar
Dan rasa gatal yang tak bisa digaruk

Kyai Fuad Plered

Armagedon

sebab seribu rupiah
tinggal ranting dipotkan

Fidelis Krus Yosua

KETAKUTAN PERCAYA DAN SERIBU PATIMURA

kamu hanya coba menghibur ku tentang kematian yang dapat tergantikan.
tidak dirimu tidak dapat menggandakan diri menjadi seribu.
bagaimana mungkin seorang ibu melahirkan tanpa kawin.
apakah bisa.
aku adalah kakek ku sendiri.

Bob Martokoesoemo

‘Tinggal kutebas habis bongkah menyedihkan ini!’
ia ingkar , seperti layaknya pesohor
semangatnya tak berarti tanpa daya hidup dari belahan jiwanya
penghibur kala dirinya masih nestapa
yang ia tukar dengan nilai yang kini disematnya.

Sartika Dian Nuraini
Antypatriota dan Bunga Kering Je Suis Charlie

Dan kita masih bisa tertegun
Begitu makna
Dijalankan dengan senjata
Apakah bisa kita hapus saja gambar
Golok di uang kita?

(2015)

Sartika Dian Nuraini
Tatahan Kaca Berkaki Tiga

Yang bersembunyi di balik pedang tajam
Adalah bukti
Mengapa bahasa
Selalu menyembunyikan
Makna yang lain: rahasia yang lain

(2015)
Suratno Nano
Ah ….
terlalu kering
jika akar kehidupan harus uang

Edy Sembodo

angka yang tumbuh di ranting kering
memantaskan diri pada jalinan arti
sekaligus sembunyi
dari repetisi

Brita Putri Utami
Ranting yang mengerak

pemuda itu berseru
pada ranting kering yang memunggunginya
“beri aku gradasi warna
atau kubuat kau lekat
dengan cat putih pucat?”

lalu pemuda itu mengangkat senjata
ranting gamang dibuatnya.

Hari At Blockhina
Lihatlah jujur kering ranting itu yang akan tetap menguning dan kering
Lihatlah tegar kertas harga bergambar itu yang akan selalu bisu sembunyikan garis garis semu hasil tikaman penuh nafsu
Dan jadilah pembeda dimana antara nafsu dan kalbu
Bunga diranting kering tak akan mungkin kuncup walau uang seribu kau sisihkan disisinya
Kertas Seribuan tak akan mampu indah walau kau sandingkan dengan ranting yang mengering

Bresman Marpaung
SEONGGOK BUNGA MATI

seonggok bunga tinggal belulang
harumnya terkapar ditebas mimpi
dipikirnya lelaki penghunus pedang
Gabriel yang menebus dengan tunai
ternyata penyamun berwajah seribu menjaja matinya semurah murahnya

Akhsane Taqweens
ALPA

Tidak ada yang mengatasnamakan cinta kecuali nyeri dada, pernah terluka.
Mata yang meranting pekik jiwa
Tak perlu memanggul licau mata
Kecuali kau mampu mengatasnamakan cinta, bukan angka-angka ganjil yang merendah.

2015

Wanto Tirta
TANDA beribu tanda
bagai pedang menancap kukuh
di meja birokrat
mengancam tikus-tikus laknat
yang mengerat sendi-sendi kehidupan kering// 11012015

Yudi Damanhuri
KEADAAN

ku tebang pohon ku uangkan:
Kami mengerti ada
suatu kehilangan
Tapi keadaan kami
selalu tak mengerti

2015

Wanto Tirta

TANGIS// ranting kering pucat pasi mengerang/ polusi udara gerah merambah meja-meja serakah/ rupiah digadaikan di gunungan plastik plastik tanah/ tangis ngungun darah pahlawan pecah di angkasa/ adakah udara segar bagi anak-anak masa depan// /11012015/

Wanto Tirta
DUNIA PLASTIK/ hari-hari telah masuk dalam kubangan plastik/ dunia tandus garuda miris/ meja-meja kering nurani/ peperangan materi merobek hati/ nilai-nilai nyaris terbeli// /11012015

Biolen Fernando Sinaga

kalo ga salah,ada juga penyair yg sajahknya bnyak,jangan2 pak wanto juga tuh sblumnya.

Hari At Blockhina

Manusia manusia

Apakah yang kau pikir
Telah kering dahan dan ranting hiasan bumiku
Kau tebas kau libas dengan golok murkamu nan buas itu
Kau petak petak bumi kau uangkan demi terpunuhi nafsu ketamakanmu
Habislah surga hijau kau ganti kertas hijau simbol kuasamu……..

Tri Jengky

Ribuan bahkan jutaan pohon tertebas bebas demi sebatang lisong

Burung hilang tempat tenggernya
Daku hilang tempat berkasih
Anjing hilang tempat kencingnya

Boss ku tunggu kepalamu tuk ku tebas

Agar tiada lagi kehilangan

Lucia Dwi Elvira

Ironi

Rupiah yang kutanam pada tanah susah payah
Kini beranak reranting yang menebas leherku.
Ternyata golok yang menghabisiku.

Kie Guevara

Tebas binasakan gantikan dengan homogen
Bukan hijau hanya ranting pekat dan berbau
Tunggu dan Tantikan, bila hanya tinggal kering dan mati
Kehidupan tak akan terbayar dengan kertas bernilai tamak

Petrus Cannisius

Ternyata

Kau bilang masih ada yang tak bisa dipalsukan di dunia ini
Nyatanya hujanpun kau buat palsu juga
Derainya membasahi bumi yang kian palsu karenanya
Menyuburkan segala tetumbuhan yang palsu pula indahnya
Masihkah kau ragukan ketidakyakinanku?

Sunlie Thomas Alexander
mestikah kutandai kepahlawananmu,
duh,thomas matulesi…
seharga seribu rupiah?

Nikotopia

Satu

Bila seribu menggetaskanmu, ingatlah pada; satu.

Diri memang liar, mabuk hiruk pikuk, menderu. Terkutuk menjadi batu.

Ingatlah pada; satu.

Bila satu menggetaskanmu, jangan takut, itulah sebuah kehancuran menuju utopiamu.

12012015-00.38

Gus Noy

Penghayal
satu seribu
ruwet bersekutu
masih berlaku
dalam saku
menunggu

Gesti Veronika

Parang akan tetap di gagah di tangan kapitan
Sekalipun seribu tak laku laku
Sekalipun seribu tercabik bisu
Siapa berani mengganggu?
Batang itu, Indonesia ku!

Nella S

Wulan Tumbuh

menatap reranting bisu
memperhatikan serta menanti,
seberapa rimbun
dedaun tumbuh semarak
dari nominal, tertanda: seribu?

Ade Riyan Purnama

TRANSAKSI

Di dalam
Ranting
Pot
Dan uang
: Aku menemukan Tuhan

Nella S Wulan

Tumbuh 2

dipikirnya, nominal
mampu rindangkan
retakan pepohon
retakan guguran dedaun
dari larian panas musim

Ade Riyan Purnama

Pherousa

Ranting-ranting kering itu sibuk bertalian.
Menanti dewi Pherousa lemparkan tali dadung berikan pertolongan.
Tapi uang telah memotong bunganya.
Dengan ketajaman alat tukar musim gugur.
: Berupa keserakahan.

Hang Ws 
pohon dusta

beribu dusta
seperti pohon plastik
tak berbuah apa-apa
selain kepalsuan

Subhan Ihsan

Tabah

Rawatlah perihal cintamu
Yang tak basah oleh waktu
Etalase mana
Yang tak ingkar dari tanah dan hujan
Biar cukup begitu kita adanya

Cianjur, Januari 2015

An Fauhum LinNas

HANYA SATU.

dalam ruang merah menyala-nyala/seorang hamba akan disesalkan/Kau halusinasikan beribu akar/hingga membuat banyak mencari-cari/untuk satu yang disiratkan. #Sajak Mukhamad Hamid Samiaji

Saktya Rini Hastuti

Hijau pohon terakhir telah tertebang.
Tanah-tanah telah merekah, keras dan pejal.
Lalu, akankah kau tanam bermilyar lembaran uang?
Saat pohon imitasipun tak bisa bertunas bermekaran.
Keserakahanmu menumpuk uang, menistakan hijau daun dan kehidupan.
Keparat kamu, yang menjadikan bencana kami sebagai landasan ketamakan!

Gembel Aceh

Sang ratu telah marah.wajah menyala merah,gara2 kalian mengerti susah,membaca payah.ini hanya ranting patah dan seribu rupiah.tak usah resah dibawa santailah!

Citra Sasmita New

Kita tak pernah tahu telah berada dicabang yang mana / pohon yang kehilangan akar namun tetap sombong untuk tumbuh dengan ide dan virus mutakhir/ barangkali telah diinfeksinya sastra, budaya, cara mencipta, dan hal asing demi membenihkan kebingungan/ Kita lihat Sarte mengintip dari celah mata pedang, manusia menawarkan neraka kebodohan untuk manusia lainnya/ Terbekatilah uang seribu, seribu manusia… Pattimura! Terbekatilah//

Ang Jasman

MENANTI

Ini tempat begitu asing dan suwung
Meski waktu bergerak menikung
Tergolek di altar nasib dan ruang yang gagu
Masih adakah pengharapan, lirih gumammu
Kenapa kuatir, kami setia menanti musim.

Mintarjo Narswatmojo

di bawah ranting memucat
terlampias seribu syahwat
oh, bangsat!

Dewi Ari Ari
KERSANG Ranting mengering /Akar tergadai /Nominal tak mampu membayar /Hidup setelah mati.

Dendi Madiya
PEJALAN KAKI YANG MELUKIS
kasih dia jazz / film dari aktor-aktor teater / hujan Jakarta melahirkan warga kota /
dan tempat cat dalam foto itu adalah miliknya

Hidup Baru Jual Buku
WIRAUSAHA
Rupiah yang terbonsai
Kauharap jadi apa?
Di pasar yang beringas
Penjaga tak berdaya
Kautukar jadi apa?

Fajar Setio Utomo
LIAN
Dibawah lampu, ada air mata terjun perlahan.
Jatuh mengulum bibir gelas bir yang menempel pada payudara.
Setengah terbuka, setengah merdeka

Citra Sasmita New

Old trunks dry all the time.
Die one by one then break down become a thousand dust
Why you forgotten
brazing the past stories
to the twigs and green bud?

Abik Rifal Pamungkas

patimura menangis darah,pohon kutanam,kini jidi ejekan

John Kuan
Surat Seorang Kekasih

Ini bukan soal uang, Sayang
Cuma tarik perhatianmu saja, mata duitan!
Kau sangka aku sudah satu pot bunga kerontang?
Jangan harap! Ini hanya seranting kering pohon silsilah cinta
Aku tentu masih lentur berbunga-bunga di balik layar.

Mif Baihaqi

OMONG KOSONG

Kau tak mungkin bisa merawat bunga indah
Trubus. Jika mengusir asap hutan saja tak becus.

Puih!
Keringat petani bunga, kau hargai serupiah

Ishack Sonlay
Senyum di Toko Kelontong

Serentang panjang dan cetah. Pohon karet dan sadapan. Nira dan toko kelontong. Tubir-tubir yang disunting. Lupa.

Kupang, 13 Januari 2015

Risti Danasmoro
Kerincing dikubur bertumbuh serakah..
Bawakan saja sebilah pedang untuk menebang tiap dahannya,,
Pakailah tuk kayu bakar
Atau sadaplah getahnya, biar berkurang serakahnya..

Dian Rachmaniadua

Paling – paling sekelompok ranting menitipkan geram pada potret Pattimura.
Sekian dasawarsa tersurat catatan sejarah.
Orang – orang berkubang kemiskinan.
Parat dalam geliat ‘money game’
Sedangkan nilai rupiah tak ubah bagai
Sabetan pedang!

Lulu Ratna

memanggang cinta
tak jeda, tak berujung
sebab hanya kepadanya
lembaran uang tertabur
ketika cinta mati, artha bicara

Jakarta, 09.45, 13 Januari 2015

Mel Melia

titikala asa
siapa sangka seribu cabang tertimbun
tanah, tertusuk pucuk akar nanar
selebihnya kaki menancap binara
bergenggam harakah para kaum

Siti Muslifah

Ribuan semangat bertumbuh, meski seribu ranting mengering. Seribu tekad mengukuh, meski dahan-dahan meranggas, memantapkan langkah-langkah menuju ribuan asa.

Fendi Satrio
Ingatlah tatkala Sedang Meradang
Dompet seperti pohon yang Kering Kerontang
Kapitan Pattimura sungguh Pahlawan
menolong disaat lapar
lumayan dapat buat beli pisang goreng di pinggir jalan

M Alif Marufy

Suara tak bertelinga

Kuhendak bertanya pada kalian wahai manusia
“Adakah kamu sekalian merasa senang disandingkan dengan dua eksemplar mayatmu?, sembari yang lain bersajak hebat atas dirimu?”

Novia Rika

HAMBA HAMPA

Ranting-ranting rekah
Retih kering bercabang
Laksana jalan hampa tujuan
Daun-daun tak sudi tumbuh
Di atas tanah yang menghamba uang

Deri Hudaya
Menulis Puisi

Kepala terpenggal. Tertanam pada pot
warna langit sebelum Magrib. Uban memanjang
jadi ranting. Puisi adalah sehelai daun yang,
sebelah memori dan sebelah lagi mimpi, gugur
paling akhir. Meski tak pernah ada akhir.

Deri Hudaya
Oo

Rupiah dalam sejarah. Ataukah
sejarah dalam rupiah.

Sebatang pohon dalam pot merah
rontok memikirkannya.

Mar’atus Sholikhah

tak mengembalikan suara adzan yang lewat
tak juga menahan kepergian sahabat
keduanya erat menjadi urat
menganga hati ini tergurat;
jika aku tak sampai di tubir bibir waktumu

It, 14 Jan 2015

Tria Achiria

Oh Patimura. Setabah kau hunus pedang di tengah perang, sekali lagi tabahlah. Sebab darah di tanahmu memjelma pot dan ranting kering, pun gambar dirimu telah jadi saksi dari rakyat yang tetap bergerak, meski lamban gapai lambai angan.

Mar’atus Sholikhah

Tapi Apa

Aku juga bisa cuma lempar bunga lalu pergi
tapi apa?
perhatikan vas di hatinya terisi warna berseri
apa kau menyimpan peduli?

It, jan 2015

Pramukti Adhi Bhakti

Berkembanglah hai
Puisi juga seni
Tanpa konsumsi

Pramukti Adhi Bhakti

Waktu itu uang, uang itu pedang, pedang itu tajam, tajam itu lisan.

Mengoceh, bercabang.

Adittya Dwi Yoga

Mimpi Gugur
Dan saat kepalamu semakin gersang
obligasi yang kau tanam beberapa hari yang lalu di mimpimu kini berubah menjadi pedang
kemudian kau mulai membunuh nama demi nama, dogma dan masalalu
semenjak perigi terahir pada dadamu mengering
daun yang terakhir gugur adalah istri dan anak gadismu.

Ratu Ayu
BELENGGU

Ribuan ranting pucat
Tumbuh dalam akar terkukung
Hidup enggan mati tak mampu
Krek

140115

Timur Budi Raja
Ulang Tahun Ayah

: kepada Andy Sri Wahyudi

ada yang mengaku sebagai ayah, rautnya sebersih kelereng. tapi tak tahu siapa namamu. kamu mau tulus memeluknya. membayangkan nama seorang asing keluar masuk pori-pori kulitmu. laki-laki sebersih kelereng itu ingin lukamu. luka, zakar siapa kamu? tubuhku telah ditanam dalam potongan-potongan flashdisk. Jari-jemariku tak mampu kasih kamu cinta.

2015

Tri Jengky

Seribu perak takan jadi apa-apa
Seribu pohon kan jadi apa-apa

Siti Muslifah Klo 20 jempol laennua nyangkut di status,utk puixi yg zama,gmn ya?he he…

Ardy Priyantoko

KOLASE

Di ranting itu
Tunas angka-angka
Tak kunjung mekar
Kaukah yang telah
Menebasnya?

(2015)

Ardy Priyantoko

EPISODE

Apa yang kau cari dari dalam pot
Selain akar-akar yang terlipat

(2015)

Advertisements
Penulis dan Karya di Indonesian Poetry Battle on Facebook 7

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s