Penulis dan Karya di Indonesian Poetry Battle on Facebook #6

Selamat Tahun Baru 2015!

Kurator:

Yuno Delwizar Baswir (Perupa & Pendiri Indonesian Art Community in America)
Kurnia Effendi (Penyair)
Ita Siregar (Penulis)
Indah Darmastuti (Penulis)
Timur Budi Raja (Penyair)
Sartika Sari (Penyair Champion IPBOF musim 1)

Penulis yang berpartisipasi:


En Hidayat

RESOLUSI
apa gunanya membaca masa lalu
jika tak mampu aku memberimu cinta berwarna?

Ubaidilah Muchtar

Harapan memberi saya keberanian.
Harapan membuat saya pandai berbicara dari waktu ke waktu. (Multatuli dalam Max Havelaar, bagian pengantar revisi)

Wadie Maharief

Minyak wangimu
Membuatku mabuk
Karena palsu
Kebanyakan alkohol
Menusuk hidung
Kau buat aku pusing
Siiing…..

Khair Lazuardi

Aku mungkin saja terbiasa
Mengubah 4 menjadi 5
Tapi kau hanyalah wangi
Berjejak,berkisah
Kini 5 ada di tanganku
4 hanya wangi yang terbawa waktu
Menuju tiada

(Januari, 201⁴/5)

Abu Nabil Wibisana

Setelah Kembang Api

Jembatan dari serabut api. Labirin cermin. Reranting kering tumbuh di atas pecahan kaca. Angin dingin.
Bulan tembaga. Sebuah lakon dengan alur adegan yang tak pernah bisa kauduga.

(Bello, 2015)

Tri Jengky

Ubah rubah asa
Gantungkan baju lama
Baju baru sudah kadung dosa
Asa bagai angin
Baunya cuma sebentar

Tan Muda

pada uban di kepalaku, aku sudah menaruh dirimu
agar waktu tak mati, agar waktu tak memutih
mungkin esok adalah hari yang telah diputuskan
aku menantikanmu, seribu tahun sebelum dan yang akan datang
penjelasan-penjelasan memang selalu rumit

aku memutuskan memilihmu, engkau memutuskan untuk menaruh jam dinding pada gamelan itu
untuk kau tabuh, bersamaku,bersamamu,
kita adalah pemusik itu yang memainkan “lagu hidup”

Rinaldi Sinaga

Pecundang dan hari esok
pecundang pun mengundang
mengucap serapah pada hari yang kian petang
disangkanya siang tetap siang
tetapi esok tetaplah datang
menyingsing malam yang tenang
sebab pagi harus kembali terang
saat harap kembali menang
dan setiap kita haruslah pulang untuk hidup senang.

Ratna Ayu Budhiarti

ATM DALAM KOTAK KADO

Jika esok aku menaruhmu di antara barisan hp bekas
Di etalase toko BEC*, jangan salahkan
Sebab di tahun-tahun lewat kau mèmburu cinta
Dari yang tiada.

Asal kau tahu, tahun ini
Dompet telah kujejali kartu-kartu ATM baru
Tiap saat biar kuambil rindu yang disimpan
Toh sudah banyak mesin sepanjang jalan,
atau di Indomaret, di Alfamart,
yang serupa jamur di musim hujan

Tahun ini, harapan kubungkus hati-hati
Dengan kotak dan pita cantik
Sesuai presisi.

*BEC: Bandung Electronic Center, pusat perbelanjaan elektronik di kota Bandung, Jawa Barat.

Muhammad Iqbal
Do’aku
dijadikanNya minyak wangi
dibiarkanNya melata
menuju besok

Purwokerto, 2015

Dyah Setyawati

Harapan kuharap mewangi; meski belum kesturi..
kusiram doa dan usaha tiap hari.pada teriknya dan temaram malam .energi yang tak pernah pupus; meresap hingga pori pori asam ketiak untuk tetap semangat memburu warna biru

Eric Keroncong Protol

Tak usah banyak kata. Banyak bicara.
Lakukan hal yang belum terwujud di lembaran putih.

Ratu’Archy Laraz

Nisbi, menguap
Tak berwarna tak berasa
Ramuan ampuh untuk cinta
Namun meninggalkan jejak
Aroma di tanganmu

Dedy Tri Riyadi

Curahan Baru

Setiap pagi, harapan dicurahkan
seperti embun di atas daun, cahaya
pada pucuk-pucuk pohonan,
supaya kita bisa tahan pada masa

bersusah, ketika malam tiba, dan
ketika kita hilang rasa percaya
pada segala yang tampak menyenangkan,
dan kita lalu tiba-tiba juga merasa

dunia ini berhenti, hidup membosankan,
dan pergumulan tak henti memperdaya
kita. Setiap pagi, harapan dicurahkan
agar semuanya binasa

dan di atasnya tumbuh yang baru dan
berkilau, seperti minyak di atas kepala
lalu turun ke janggut dan doa-doa akan
mekar sempurna, seperti baru saja dibangkitkan
dari tidur sepanjang masa.

2015

Tri Jengky

Bak tai kucing
Merebak bau
Kadang hilang
Kadang muncul
Asa kau kah itu

Vindy Putri

Judul: Imajinasi Tak Terbatas

Tak terlihat…
Hanya dapat kurasa…
Seperti ini atau seperti itu…

Kadang kunikmati sampai puas…
Kadang kunikmati sambil lalu, tak berkesan!

Pengharapan bak imajinasi… tak terbatas!
Namun tak nyata
Laksana parfum yang merebak…
Kunikmati atau kulalui saja…

[021015- Dengan harapan baik]

Abu Nabil Wibisana

Tepi Tahun, Tepi Daun

Semilir angin citrus. Dedaun tanggal serupa angka yang bersalin rupa di lembar kalender. Hitam hiatus, merah menyela: warna menjalin siklus. Di tepi tahun kaulepas sukaduka. Begitu saja—tanpa ratap tanpa harap, serupa embun yang menetes dari tepi daun. Begitu sahaja—tanpa rencana tanpa upaya.

(Bello, 2015)

Lukas Jono

Biorgrafi, Kau coret-coret jalan jiwaku, Selama waktu mengijinkan untuk mewangikan dan memuliakan mahluk sejagat alam semesta ini.

Buat Mbak Sartika Dian Nuraini.


Eko Rhagiel

malam pertama, sebelu kuinjak usia kepala dua. Aku meminta padamu secarik kertas. “kenapa kau minta kertas padaku?” tanyamu dengan dungu dan ragu. “aku ingin tulis sesuatu. Tentang kau, aku, dan malam yang disinari kembang malam” senyumku mewakili apa kata hatiku. kau semakin menggagu setiap melihat kata aku ukir diatas kertas putih. Tidak lama kuberikan kertas itu, bertuliskan “kertas”. “kenapa meminta kertas diatas kertas padaku” matamu mengisyaratkan bingung melebihi dengung nyamuk. Singkat kujawab “agar aku bisa menuliskan lagi untukmu yang kumau saat aku bersamamu” malam ini.

Vindy Putri

Tahun Ini

Boleh kuulangi?
Sebab tak tercapai…
Maksudku, belum tercapai…
Harapanku tetap sama…
Simbol cinta dalam jari manisku…
Tahun ini, ya…

020115 – Seorang Gadis

Ishack Sonlay

Aku yang Memeluk

Khairunnisa dan buli-buli minyak di tangannya.
Aku mengasihimu.
Eva pun tidak mengguncangkan pohon untuk mencuri buah yang terlarang. Petang ini. Sembilan.

Kupang, 2 Januari 2015

Yudha Purwanto

Berkata berdua
bersama
Berharap
berbuat berpadu
Lekat dekat adalah kebaikan

Afrilia Utami

Apakah minyak wangi yang kita punya bisa mengharumkan harapan ke depan

Gatran Catur Septian Rahardja

Seputih Celemek

Kecap jahe kadang ingus
Tak lupa butiran keringat sampai merah bibir
Ternoda layaknya perisai super hero
Celemek ini tidakk membuatku kaya
Sebatas menyambung nyawa keluarga
Celemek, begitu kotor teremehkan
Memberi asa hingga senja tiba
Selamanya

Kudo, 2014

Eko Rhagiel

kembang kembang langit.
Membawa harapan ke petala tertinggi.
Wahai dirimu yang hilang mewangi.
Bawakan aku cerita belakangan ini,
atau romansa kita di masa depan nanti.

Kie Guevara
Asa itu tergantung diam.
Ku tanjaki meski tak terjal.
Ku sebrangi meski tak dalam.
Sudahlah asaku tak banyak.
Sebab asa tak seperti minyak wangi.
Cuma bau yang memenuhi rongga pernafasan.
Asaku ingin seperti pundakMu, setiap saat dapat kusandarkan.
Asaku ingin seperti PundakNya, setiap detik dapat kupegang.
Asaku cuma satu berikan kesehatan agar aku mampu menggapai asa asa yang lain.

Hari At Blockhina

Buih pembangkitan…..
Tiada dalam setiap raba
Tiada dalam setiap pandang
Pahit mungkin dalam kecap lidah perasa
Tiada sentuh dalam ujung lembar balutan ari ini

Tapi semerbak mewangi dalam arah dan tujuan
Menggerakan setiap khayal imaji meraih kemajuan
Tak akan mungkin ku pagang melain pasti aku terikat dengan harapan

Slamet Riyadi Sabrawi

Kau baru
tahu
Tahun
bau
Bauk, tahu!
Blusuk
Bus
uk
K!

Nidhom VE

Peruban Diri Tutup sesalmu, renungkan.
Bawa dirimu yang baru untuk maju.


Alburhan Ash-shiddiq

Clarts,

Sampai juga kita di awal tahun yang mekar namun gemetar.
Harapanku padamu hanyalah minyak wangi yang mengalun di udara dari derita ke derita, dari bahagia ke bahagia.
Aku meraba raba asa yang tak terbaca. Menduga duga cintamu yang telah binasa. Mungkin di atas dunia yang kejam, mimpiku akan segera karam.
Padahal, Aku hanya inginkan cintamu agar hidup yang kubayangkan sewangi harapanku.

Kania Poetry

Langit mendung

Rinaldi Sinaga

Menatap tenang
berjalan melayang
dengan harapan yang menang
hidup pun membayang pada cahaya terang
dan ketika senja terkenang
kita akan pulang saat sayap-sayap juga terbang…

Kania Poetry

Menanam mawar di pekarangan rumah, menyiraminya di setiap petang, merangkai harumnya di setiap pagi, lalu kan ku petik dan kusematk
an pada ikrar janji suci kita nanti,,,

Melati Suryodarmo
Temanku bernama Afrizal.
Kadang suka bau minyak wangi , kadang tidak.
Sepertinya sudah tahu,
Harapan memang seperti minyak wangi, kalau bercampur keringat
bisa berubah jadi Bau tai

Gustu Sinduputra
matahari.terbit.dalam.sajakku
tahun.cahaya.membuat.puisiku.tidak.lagi.gelap
aku.membuka.penutup.mataku
seekor.kambing.hitam
menyentuh.ibujari.kakiku
suaranya.sepekak.terompet.akhir.tahun.yang.basah
senantiasa:senyap.dan.tanpa.gema

Va Madina

Senja..Kuletakkan aku pada pecahan asa
Mengembalikan semua rasa yang kusemai lirih kala belia
Angin..Masihkah tanah ini milikku?
Aku mulai linglung mencari halaman rumahku
Masihkah jalan ini milikku?
Aku tersesat jauh kehilangan arah pulang
Sanggupkah kususun kembali ingatan..
Yang sudah ku amuk percik pada dedaunan?
Aku yang tak lagi aku..kian lelah menepi sendu pada ujung harap yang memudar..


Rakhmad Hidayattulloh Permana

Parfum Tahun Baru

Tubuhmu penuh peluh masa lalu
Bau asam ketakutan, pada ketiak
Bau anyir darah, pada dadamu

Selusin harapan yang tak kunjung mekar
Kini menjelma sulur-sulur beracun

Maka sucikanlah tubuhmu
Dengan sebotol parfum dari surga
yang kau pungut bersama seruap doa

Kelak, harapanmu akan tumbuh
Menjelma matahari yang teduh
Percayalah

2015

Ardy Priyantoko

PROSEDE

saat terjaga dalam naungan bulan
kudapati bunga malam berkabar
tentang perpanjangan musim

aku bergegas mengembara
ke tempat-tempat yang masih
menyimpan rahasia Tuhan

memungut, merangkainya
jadi doa-doa bagi perjalanan
yang akan terus berlepasan

Slamet Riyadi Sabrawi

Tahun
Kambing prengus
kambing hitam hangus
Klatak (tak) deruji ap (pi)
pisuhan pisowanan
di Klenteng
Tengkleng (leng)
Lobang hitam
amitamitamitami
N.

Eric Keroncong Protol
Menyibak
Sinar dan harapan
Mati pun mewangi

Yanwi Mudrikah
Kata dan doa

Kuncup-kuncupmu telah mekar
Seperti mawar di musim semi
Semoga kabar dari langit segera beredar
Sekalipun agak sunyi

Purwokerto, 2015

Yanwi Mudrikah
Puzzle doa

Barangkali seperti minyak wangi
Ketika engkau menyentuh sebuah kebaikan

Doa-doa para manusia
Purwokerto, Januari 2015

Prabu Sukarno Putra Putra
SALAH KAPRAH

kalian giring aku agar ikut menjadi
kerbau yang tercocok hidung?!
kalian lupa minyak wangi tidak bisa dipegang kecuali pakai botolnya!
harapan ya harapan tetap saja
belum bisa dipegang..
jadi…semuanya hanya beradu bau naga
ditempat para raja molor di
istana gading …
dasar…sejarah sungsang yang terbuang…..!

Novia Rika
kembang mekar tengah malam
luruh jadi abu
jadi debu,
doa mekar tengah malam
terbang ke langit ketujuh
pelita kalbu,
mekar jiwa ditempa doa
laku hati menyatu
dunia baru

Aris Rahman Yusuf

SECARIK HARAP

bunga api…
lepas
meletus satu-satu
di langit bebas

munajat terlafadz
merupa wangi kembang
merekah cinta, bahagia

2015

Risno Aj

YOGYA- BANYUMAS
ketika aku sampai ditanahmu
Aku menghela napas panjang
Lantas membayang wajahmu
Penyair penyair muda yang berasal atau bermukim dibanyumas
” datang dari rahim kesabaranmu”
Lantas ketika aku singgah di Ndalemmu
Betapa sejuk wajahmu aku pandang
Lalu kudengar setiap kata yang terucap dari bibirmu
Betapa rindumu masih menyala dan menyalakan setiap hati yang terucap olehmu.
( cilacap, 2 januari 2015

Anggi Putri W

MERENGKUH MIMPI
menyambung lingkaran waktu
detik ini
lautan asa mengangkasa
menjadi bumbu karya
: sepenuh jiwa

puja suci
tualang imaji
temui puncak tertinggi
: mimpi tak terperi

Kota Pahlawan, 2 Jan 2015


Peni Apriani

ASA MATAHARI

Di pucuk pagi aroma matahari
Sebarkan asa serupa minyak wangi
Merebak di penjuru jiwa
Untuk kemudian melekat pada nurani
Hadirkan asa dalam nyata
nyata di pandangan mata

Aditya Ardi N
Ekstase

malam ini kugotong sendiri mayatku, tanpa
pelukan-ciumanmu melewati labirin waktu
dengan maut yang tak kuasa menjilat kulitku yang tropica

mari kita bermetamorfosa menjadi apa
saja untuk bisa bersama, mengangkangi
waktu, dan sok-sok an ikut merayakan
tahun baru.
Aditya Ardi N.

Rio SHi FiVerz s’Jti

CUKUP

Cukup menoleh ke belakang
Kemudian melangkah ke depan
Sesungguhnya itu lebih baik
Untukku mengapai segenggam asa

Padang, 2 Januari 2015


Gusmel Riyadh

AKITRAS

Selain mimpi
Sajak adalah tempat penderu sendu beranak pinak
Biar kubuatkan kandang- kata perempuan di facebook
Tukangtukang sajak pun berkembang biak
Beserta harapanharapannya yang merisau almanak

Irawan TelLe Setiono

Tak terengkuh, namun tersibak aromamu,
Nyiur bau memekik rongga asa,
Dalam genggam bukan tuk menjabat,
Hanya mimpi tertoreh akan hakiki nyata,
Di ufuk simpang harap kulabuhkan tabir isyarat,

Disini, tapak ku kan kukejar maut bijakmu wahai masa yang telah menantiku.

Tanjungpinang, 21:30/020115

Mujahidin Belantara

PINTU MAKAM. itu malam bising riuh kendaraan sepanjang jalan/mereka berduyun-duyun memenuhi kota/suasana desa mendadak hening ditinggalkan jejak-jejak gila. //tak apa/sedang aku di pintu makam/sengaja menziarahi makam malam ini sepi/menemani sambil mengaji dan bersila sendu memalingkan riuh.

(Pati 02/01/15)

Mas Triadnyani

INGATLAH WANGI INI

Hidup menekan bahkan
kerap menggiring pada selokan
Pada saat demikian boleh engkau mengingat
beberapa wangi yang pernah singgah

Setetes kelopak mawar pada tengkuk
Besok putih melati pada lengan
Berganti kesegaran cendana
Pada tempat yang rawan
Berharap bertahan dan belokkan hidup yang terus-terusan gawat

Lucia Dwi Elvira

Apakah harapan bisa dipegang serupa minyak wangi?
Apakah keinginan dapat dikecup seperti manis bibirmu?
Dalam hal-hal yang kukejar dalam pelarianku,
Dalam mimpi yang bukan bunga tidurku, yang selalu tabah kuimani.
Dan demi langit luasku yang sabar menunggu.
Maka saat-saat batu menyandungku, serta jatuh mengenai giliranku.
Minyak wangi dan manis bibirmu menjelma penawar yang membangkitkanku.
Adalah penawar yang membangkitkanku.

Gus Noy Penghayal
selagi masih ada Harahap
biarpun tanpa minyak wangi
harapan tidaklah hilang lenyap

Vikri Shafira Putri
SERUNI MADU
Kuharap dalam 2015, bukan sekedar kosong berupa gelas
8760 jam, semoga berkah
Bukan merekah anggapan sebuah kisah
365 hari, bukan runtuh topang air mata
Namun rengguh berakar sakti sang laksamana
12 bulan, jangan diam dagu ditopang
Waktu tak kan bisa dipegang, dan kian berputar
Layaknya minyak wangi tak terpaut rupa, namun semerbak dalam aroma

Joko Tri

HARAPAN
ah ada-ada saja…
penyelam menggenggam mutiara
menggumam naïf tanpa daya
ini negara pe harta!
petani menyabit ilalang
sorot matanya tajam nyalang
beras kupinta, kerikil kuterima!
Pedanda pun tersilau menangkis surya
hotel itu lebih tinggi dari pura!
harapan mereka menyublim diudara.

Muhammad Badrun

Pembohong. Satu dua tiga ke depan
bukan akukamu yang wajah pembohong masa lalu
yang tampak dari punggung, stempel dosa
tapi wangian surge
harapan kini dan nanti.
(Purwanegara, Januari 2015)

Silvia Khan Bennington
Tidak setiap manusia dapat memenuhi setiap harapan dari setiap manusia lainnya..
Hanya Tuhan yang bisa.
Dari detik ke detik hingga lupa akan detik yang telah terlewati..
Hanya Tuhan yang ingat. Dari tahun ke tahun.
Ingat kita padaNya?
Akankah tahun ini Tuhan dimasukkan ke dalam harapan?
Atau dari tahun ke tahun, Tuhan hanya berharap diharapkan?
Tahun ini Tuhan ingin memenuhi dan ingin diingat.

Ade Riyan Purnama
Amonia

Harapan adalah angin yang terhempas
Seperti harum yang diterbangkan pada pemiliknya
Pada segala musim menjelang pesta kembang api
Yang menari-nari di langit

Bukankah udara tak dapat dipeluk serta
Seperti harapan yang dibentuk atas dasar kepercayaan
Sedangkan waktu menebarkan percikan ke segala arah
Tepat pada angin pergantian

Muhamad Rifqi
5 cm
Kumemandang jauh tertuju pada satu titik
Kudekati
Kudapati aroma mega 5 cm sejauh pandangan

Yuliana Sari

SETELAH LUKA

seperti itulah, pertemuan adalah takdir

masih ada rindu
dan kenangan yang minta diulang
meski duri telah menyambangi beberapa ruas di jantungku

menjadikanmu puisi adalah pilihan, siap terluka juga gembira
lalu, adakah tawa yang bisa kita urai setelah kedukaan panjang?

di tubuhmu, aku menyimpan banyak harapan
sebab kaulah pemilik kerinduan
; kembalikan kita seperti waktu lalu, sebelum jarak merenggut segalamu


Farida Isfandiari

Manusia berbau apek, lalu kucoba strawberry, apel, kenanga.
Baru? aku setia berwangi jambu.
Dengan harap ditemukanmu yang memang mencari wangiku.
Lalu saling menghirup, berbaur, ciptakan wangi tak terterka.
Kata orang sebagian wangi surga didunia.

Didik Siswantono

Aku melangkah di awal Januari
di jalan sajak yang sunyi
menciumi bau wangi rambutmu
yang bukan untukku !


Eric Keroncong Protol

Menyongsong (judul) Harapan, asa, cita, dan menyongsong lembaran baru.
Dimulai dari diri sendiri.

Alda Muhsi

WISUDA

Kau datang pada waktu yang tak kuingini
Setiap malam pada ruang mimpi
Adakah kau akan singgah
Membasuh wajah-wajah lelah
Yang penuh guratan asa
Lalu menjelma nyata
ah, wisuda

Trioki N

Gemulai tanganku menggamitnya
Membuka pelindung, menekan kepala, menyemburkan wewangian
Seketika H2 mengikat semerbak yang menyegarkan
Sungguh sebenar-benarnya niat, asa seperti wewangian itu

Irawan TelLe Setiono

Wangi,
Seperti dipegang
Apakah bisa?
Harapan,
Puisi minyak

Tanjungpinang, 00:19/030115


Kie Guevara

Harapku harapmu harap harap.
Harapku bukan minyak wangi yang hanya mampu kotori aroma aslimu.
Harapmu pasti sama sebab tak ada bau yang bisa kau pegang.
Sudahlah tinggalkan saja harap mengharap apalagi wangi mewangi.
Sudahlah tak perlu lagi kau berharap seperti itu.
Harapan hanya harapan dak perlu berharap.
Buang jauh jauh wewangian itu, tak perlu wangi untuk berharap tak perlu harap kalo hanya wangi.


Estria Solihatun Nurjannah

Doa tersesat dalam penat
Terkesiap dalam derap dekap gelap
terlelap, Doaku gagap
Aku mendoakanmu ! yang entah pria entah siapa entah dimana
ibalah padaku, gulita jelita
bahkan sampai terpejam,
doaku terbantah karna masih pekat dalam penat.

Miftahul Abrori

Bolehkah sesekali kubeli waktu luangmu?

Bolehkah sesekali kubeli waktu luangmu?
Atau aku perlu menukar spidol merahku dengan kalendermu?
“………………..”
“………………………………………………..”
Kau rembulan
Berhentilah menatap matahari
Pagi segera datang
Tak peduli malam masih menyisakan kenangan

Jalan Slamet Riyadi, Solo. 01 Januari 2015 01:28

Amoy AiRior
PERHATIAN!

Ada harapan yang kuletakkan di laci nakas meja kerjamu
Setahun lalu ia di sana, usang dan lapuk.
Kau tak bisa membukanya,
Sebab aku sengaja menelan kuncinya dan kekenyangan
Hingga tertidur abadi.
Dan harapan itu,
Kini sedang merangkak keluar
Melalui pori-pori serat mejamu lantas menelusup di botol minyak wangi
Yang rutin kau semprot
Awas! Tubuhmu kini akan bemandikan harapan

Anton Sulistyo

BUKU HARIAN
Di dalam buku harian penganggur
Harapan adalah daun-daun gugur

Dan wangi parfum kekasih
Hanyalah mimpi indah
Di luar jam tidur

Estria Solihatun Nurjannah

Hujan rahmat gusar berebut turun | asap rasa keju, tahi rasa gula | yang ‘katanya’ kolam susu, boleh juga ! lazuardi kan menyusui pungguk kesemuanya. | tak ada legam tak ada rajam tak ada kejam tak ada suram. | apalagi? harapkanlah ! aku wanita bulan masih sedia untuk -lagi- menipumu. ha ha ha

Rani Fitriana Jambak

Aku kau menyekap kata
Mencumbu rajuk dalam jarak
Menyatu rayu dalam detak
Restu merindu harap rasa

Jikalau kita hilang menghilang
Aroma tubuh intim mengerang
Cinta seorang gadis dan bujang
Meraih tangan hingga sebrang

Lihatlah
Aku kau ; anggun

Damar Anggara

seharum apa harapan padamu, pada tuhan rekah,
dan wajah cinta memahat kasih?

meski berdekat-dekat, harum harapan telah terbagi, sebab kau tak kumiliki.

Mif Baihaqi

# Berharap Harum

Kemarin kuwu diharap-harap tapi dana desa ditilap.
Kemarin camat diharap-harap tapi gadis desa digarap.
Kemarin bupati diharap-harap tapi telah lengser ditangkap.
Kemarin gubernur diharap-harap tapi dua periode tak cakap.

Seperti Angel, ibu tak harap. Seperti Anas, politik tak harap. Seperti Atut, rakyat tak harap, Seperti Akil, hukum tak harap. Seperti harum, padahal tak tak tak. Tak!

Astina Purba

Harum minyak wangimu yang tak sengaja ku endus
Di sebuah ruangan pengap
Tak lama kemudian menguap,lenyap
Pun kita,
Didekap harap,meski tanpa cuap-cuap
Sembari samsara merayap-rayap
Oh, kita tak lagi bersayap
Padahal kita belum hinggap

Muhammad Iqbal

Waktu kian membusuk
berbisik pada tanah
menarik
memaksaku
berbaring didalam tanah.

(bale, 2015)

Lucia Dwi Elvira
Kelu nanti berbau tak pasti,
pada batu kalimu kuukir mimpi.
Sedang dulu telah hilang meluruh,
pada pasir pantaimu kuukir dosaku.
Seterusnya tangan yang mengadah,
aku tempelkan doa. Semoga.

Syifa Khumairah

Aka. Khumairah Din Syifa :

langit terasa bungkam | tak sedikitpun memberi isyarat cinta pada hati yang menggila | deru anginpun ikut berhenti | menumatkan senyum hingga mati | semua serupa belati | padahal aku cuma ingin berpuisi

( Gubug Kecil, 3 januari 2015 )


Syifa Khumairah

detik lalu aq mnunggumu|
detik kemarin aq masih melakukan itu| sampai detik ini aku belum berlalu : menanti mu yang kan menebas senja untukku

(gubug kecil 30115)

Novia Rika

menyucikan banyu segara di muara air mata,
rimba perawan bangkit menembus mati suri,
gapura bumi dan langit tersenyum di cincin mega,
padang kembang mekar mewangikan ruh,
jiwa-jiwa bergelung dalam lautan musim,
lihat! dunia bukan hanya milikmu saja,
dunia harusnya bisa lebih indah,
poles hati dari debu-debu pongah,
leburkan diri dalam suci harap semesta,
yang jadi takdir penghuni bumi dan angkasa.

Abdullah Mubaqi

ENIGMA
Ini Aneh. Orang-orang pulang
membawa penguk tubuh
dinding kamar lengket keringat
kau, apakah
masih percaya parfum?

2015

Mochammad Asrori

Tik Tok

seperti anak arloji, lindap ini
tak letihletih berdegup rapi
padahal ini tahun penuh mimpi
senyum dan bulan berkejaran
menentukan siapa lebih setia
berselimut pagi dan mentari
kita pun menghela tali kemudi
harapan berderap memucat kunci
pintupintu berkeriut panjang
rimbun gesekan birahi

2015

Wardjito Soeharso

BUKAN FATAMORGANA

Waktuku adalah detik memutar menit mengubah jam menjadi hari menyusun minggu menuju bulan mencapai tahun memberi harap seperti mentari terbit setiap pagi tanpa menimbang terang atau hujan.
Waktuku bukan fatamorgana!

Aris Rahman Yusuf

BIDADARI

senyum terlukis di wajah mimpi
mencahaya pada bibir langit
mekar pada tangkai mawar

rindu-rindu menggebu
bisu pada sunyi malam
dalam pekat terucap ulang tentang sebuah nama
tahun berganti menuju harap
aku kamu jadi kita

2015

Putri Puji Ayu L

BERHARAP ANGIN
dalam ramai yang hening
dalam bising yang sepi
kuhidupkan bara yang tak mau menjadi api
hingga ku pilih lilin menemani diri
bergarap angin tahu diri

(2015)

Cahyatunisa

bisakah bintang di langit sana kugenggam sedangkan kabut gelap terkadang menutupinya

senyum dari bulan dan lambaian angin malam memberikan sedikit harapan
mengajak bersujud
membuka tabir suci

Ang Jasman

MIMPI BUNGA

Mimpi-mimpi yang kau tulis itu
Lanjutkan meski matamu terjaga.

Tinggalkan kehangatan ranjang
Teruskan kisahmu di pelataran dan jalan-jalan.

Awas. Ada jejak menyimpan cerita
Tak hendak sudah sampai kerontang tintamu.

Simak bisik rahasia itu
Di bibir kelopak bermekaran.

Serahkan mimpimu di warna-warninya
Dan hanyutkan dirimu di wanginya yang tuba.
21015

Niken Kinanti

kau intip masa depan dari sebuah kloset
apakah harum kitab kitabmu membuat kau lihai berceloteh mengenai kekosongan?
kau cumbui bbm fb twitter instagram linkedln friendster google+ blogspot wordpress yahoo picsart pinterest whatsapp line beetalk wechat dan semua medsos yang semakin mbelgedhes
kau melupa pada tetanggamu yang patah tangannya yang lapar perutnya yang hilang anaknya yang meninggal mertuanya yang encok punggungnya yang kudis kakinya
kau biarkan sajak sajak masuk ke telinga, mengganti apa saja dengan kalender tua

07.57.03.01.15

Ang Jasman

MENUAI MUSIM
Di kedalaman keringat
Ditanam senyumnya juga
Bola mata bininya
Dan lagu dolanan anak-anaknya.

Pada cangkul sering dia berbisik,
“Kau telah beri kami musim pada bulir-bulirnya.”

Di hangat mentari tiap pagi
Matanya mengenali wangi padi bertumbuh
[Disaksikan ratusan burung pipit]
Menembangkan musim menuai.
2015

Ken Hanggara

Hari ini aku mengambil sebatang mimpi di atas meja | Kubeli dia sepulang menonton festival ganti masa | Dengan sisa-sisa uang yang tandas | Dan yang tak laku berkat kadaluarsa | Maka kupotong mimpi itu, lalu kutata sedemikian rupa di atas piring | Mengundang saudara, sahabat, kerabat, dan tetangga | “Adakah kalian lapar? Makanlah, makanlah,” kataku berharap kami menelan mimpi sama-sama | Hingga nanti saat berkeringat ada bau mimpi | Dan saat berak dan kencing pun ada bau mimpi | Biar kita tidak pikun, bahwa terlalu banyak waktu yang sudah tergadai atau setidaknya mimpi itu bersemayam dalam nadi. (3-1-2015 _ @kenzohang)

Ugo Untoro

Kau selalu tidak sekarang
Senyummu hanya buat besok
Berjalan tak menyisakan jejak
Berhenti di tiap cabang jalan
Ragu mengepungmu
Lalu entah kemana hilangmu

2015

Melati Suryodarmo

Sore terbasahi oleh musim dingin
mengingatkanku pada musim semi
Aroma sate di atas panggangan listrik
menjadikan ruang gerah,
keringat tertekan lapar.
Ada kata-kata mulut menganga
ada pesan terkirim mengisyaratkan cinta
ah sial, memang ketiakmu tidak pernah bau
aku rindu
GG, 3/1/2015

Cahyatunisa

aku MENJADI Aku
: Untuk Ayah Abdul Wachid Bs

mungkin aku belum menjadi Aku kini, terkadang masih menjadi dia, dia, atau dia

tapi ayah lihat dan doakan aku biar menjadi Aku yang membanggakanmu

aku menjadi Aku dengan bantuanNYA
serta doamu

Hadi Sastra

Harapan yang Tersisa

Pagi masih menyimpan surya
Aku mulai kembali menata
Secuil harapan yang masih tersisa
Setelah sebagian melayang sirna
Dihempas putaran masa

Aku harus memegang erat harapan ini
Jangan sampai melayang lagi
Sebab bisik batin begitu yakin
Kelak akan seharum minyak wangi
Membalur sekujur raga ini

Tangsel, 03012015

Fanny Chotimah

Anakku..
Brigjen Slamet Riyadi sudah mati Riuh terompet dan kembang api takkan membangunkannya
Hidup ini milikmu
Jadilah merdeka!

Solo, 03.01.15

Hadi Sastra

Menanti Harapan

Datanglah kau cercah harapan
Akan kupegang dan dekap erat
Menjadi ruh yang melingkupi
Kembara diri di rimba raya

Kau memang sebatas ilusi
Yang menarinari di palung nurani
Namun harummu kalahkan minyak wangi
Yang membasuh raga ini

Tangsel, 03012015

Riyadhus Shalihin

Aku tidak pernah ingat minyak yang lain selain minyak kayu putih. Setiap pagi ibu membaluri minyak kayu putih di punggungku. Ayah yang flu dan adik yang berangkat sekolah.

Pagi yang dingin di kota bandung dengan baluran minyak kayu putih. Perjalanan ke kota jogjakarta, terjepit di dalam udara pengap kereta ekonomi, dengan riuh rendah penjaja makanan dan cemilan murah. Perut yang mulai mual , maka rumah akan selalu menemniku. Karena minyak kayu putih kuhirup.

Klak .. Katupmu kubuka dan rumah selalu ada
di antara perut dan punggung yang terbalur

Semi Ikra Anggara
Yad, kepanjangan.
Baca aturan main

Lukas Jono
Doa

Berjelajah
dengan sayap-sayap imannya,
Kelak,
harapan akan mengkristal cinta dalam seluk-beluk jiwa menanti.
Tingkir, 3,1,2015

Ahmad Syamsul Hidayat

dunia apakah aku harus terbuai dalam harumnya minyak melata….meghadapi rancaunya dunia dengan bau jelantah di bukit buta nan mati….sinopsis sang simbol asing tiada ku temui meski kau cucuri minyak seruni,darah darah tikus pemakan recehan ku ingin binasakan di pertiwi,entah itu daya atau mati,pertiwi terbanglah di langit lazuardi dan tersenyumlah pada nurani sang pelita penghancur rancaunya dunia,dan namamu akan selalu harum sang mulawarman

Dado Tisna
Naruto dan mesin Doraemon

Naruto, Doraemon menghentikan waktu dengan alatnya beberapa detik sebelum pergantian tahun.
Orang-orang menanti, tak sabar menanti ajal.
Apa yang akan Kau lakukan, Naruto? Bila waktu memang berhenti dan hanya Kau yang sadar sendiri dan yang lain berhenti.
“Kagebunshin No Jutsu!” Ucapmu…

Zaen Al-abied

kalau harapan tunduk pada tempaan goresan handam…. wajah lesu kau bodohi dengan senyuman…. hanya untuk kemilauan intan… yang membubuhi keelokan nirwana… kau lantas berpegangan dengan kepalan tangan… penghapus kecacatan yang terbuang….. lembaran prolog menunggu sebuah jawaban….

Laila Mahfudloh Zain
Minggu Tertanggal

Sekian hiruk pikuk membelenggu kebebasan
Kobaran panas berkobar tanpa engah
Amukan – amukan alam bergiliran
Kursi – kursi tinggi tetap terpaku
Meski aungan jelata meraung liar

Minggu pagi tertanggal di ujung tanduk urutan tahun
Tak kusepah terbuang begitu saja
Kertas putih dalam lembaran bermakalah
Tersangkut tinta ribuan resolusi 2015
Tetap berjalan walau dunia lain mengejek Indonesiaku

Pati, 03012015

Yoga Rusdiana Kawasen

Apa yang bisa aku baca dari puisi hari ini?
Kata-katanya tumpul dan mati rasa,
Sungguh aku tak berselera!
Tapi lupakanlah
Karena aku harus berbohong untuk bisa memujanya

Norma Azmie
polesan sia sia
gerangan separoh hati yang berkobar dalam rongga kenistaan,,
getaran tanah yang mengejar dari pijakan kaki yg menjalar asa kehampaan,,
tamparan angin meneteskan citra kedustaan,
sanubariku tak mampu memberi jalan,
biar api yang menjilat merombek rimba raya,
serpong hati tetap memilih bau busuk penghianat

Saktya Rini Hastuti

Bisakah kau pegang, janji-janji kemarin yang keluar tanpa ayal?

Mimpi-mimpi akan sejahtera, kau jual semurah minyak wangi jalanan.

Pada buruh, pada petani, pada nelayan, bahkanpada ribuan ibu rumah tangga, kau berjanji murahnya kehidupan.

Tak kau lihat kini inflasi mencekik kami?

Roda-roda tetap berputar, tapi kami merugi dan perut anak kami tak terisi!

Tolong, jangan jadikan tanah air kami sebagai lahan investasi.
Agar kami, tidak mati di tanah sendiri.
Janjimu yang tanpa ayal, galilah kembali agar tak kau lupakan.

Jangan kau buang di pinggir jalan, yang kau lewati untuk bertemu para penghisap negeri.

Bukankah bumi dan air adalah untuk kemakmuran kami?

Galeh Pramudita Arianto

ALMANAK

ada yang lebih penting dari rupa-rupa angka dan peristiwa

adalah kita yang masih saja
mempersoalkan gerah

dan selalu saja cuaca, waktu dan suasana jadi tameng untuk berlindung bersama kaleidoskop yang serakah.

03, Januari 2015

Galeh Pramudita Arianto

WISATA WAKTU

badanmu apek, oleh waktu yang sering kamu godain karena detik bisa kamu ubah lewat jam tanganmu.

otakmu beku, oleh kota yang sering kamu pukulin karena empuknya bukan main

lalu, kapan aku mampir ke labirin surgamu?

(Ruang retrospeksi-progresif, Januari 2015)


Sastro Taruno Satoto

CINTA YANG MEMATIKAN
Pagi hari, Antono dan
pacarnya
Pisah di ujung jalan
setelah cekcok.
Antono jalan ke kanan
pacarnya ke kiri.
Tujuan antono adalah SD
tempatnya mengajar.
Setelah sampai di kelas
wajah Antono masih murung.
Siswanya salah jawab
disabet pake penggaris.
Sang siswa menangis
berlari pulang.
Sang ayah tiba membawa
parang.
Keesokanya, di surat
kabar bagian kriminalTertulis
“seorang guru tewas tersabet parang!”

Rifqi Wardianti

SEMUA DAPAT KAU GENGGAM

Saat mengenggam minyak wangi
Bau amoniak menyeruak
Tersentak’
Kututup lubang hidungku
tersadar’
Minyak wangi tak pada genggaman

Botolnya pecah
Minyak wanginya tertumpah

Seketika’
Kulucuti pakaianku
Guna mambasuh minyak wangi

Setelah aroma berpindah pada pakaian
Segera mugkin ku berlari
Berlari dengan keadaan telanjang
Sembari memeluk pakaianku

Ada beberapa orang mamandangiku
Aku tak peduli
Aku hanya khawatir pada udara
Udara yang akan meluapkan
Meluapkan minyak wangiku

Watipu Ichijo
Purba

Terlalu purba
Jika wangi mesiu
masih di bajumu
Sejak semalam
Padahal masih banyak
Yang harus dijual
Kecuali kenangan
Air mata,
Bekas rumah
yang kini penuh ilalang

Meski terlampau purba
Keringat bercampur mesiu
Menjadi parfum terwangimu

3 januari 2015

Watipu Ichijo
Almanak

Kau gantung ia
Setelah kau merahi
Semua angkanya

Hari At Blockhina

Do’a Mewangi
Buih buih liur terhembus nafas sendu dalam kalbu
Seraya kepul terkepul asap kemenyan hantarkan mantra mantra pinta dalam do’a
Rangkaian harapan kumpulan khayalan terangkum dalam rasa teruntai dalam ucapan do’a
Dalam batang manusia hina nan murka adalah cinta dalam setiap harapanya
Gelembung gelembung lelehan kemenyan pecah dan berikan kepulan asap mewangi hantarkan rasa dalam pasrah nya
Dari batang pohon kemenyan adalah getah kambium tergumpal buruk tak berbentuk yg nyatanya wangi setelah dapat reaksi api
Dan itulah Harapan yang harumkan setiap langkah menuju impian setiap manusia
Seraya kemenyan yang mewangikan kusuk do’a dalam setiap pinta dan pasrah padaNya…
Sejajarlah Harapan dan Minyak wangi

Eric Keroncong Protol
Katanya

Katanya semua serba baru
Katanya semua harus dimulai dari yang baru
dan nyatanya semua yang baru harus didasari dari diri kita sendiri

Triwi Pujowati

Harapan yg bagaikan minyak wangi. Hanya akan menguap bersama angin jika kau berdiam diri.Harapan yang bagaikan minyak wangi hanya dapat kau pegang dengan sebuah usaha yang pasti. Menjaganya dalam botol bening yang bersih dan suci. Botol yang tak terkontaminasi. Hingga dia tetap utuh dengan warna dan wangi yang tak tercemari.

Va Madina

Baruna…
Setangkai mawar jatuh di pelataran
Terserak angan di lampau hari
Pepasir cinta menari-nari pada sekumpulan ombak harapan
Seperti hawa.. Kuhela semua ingatan
Pada langit dan senja
Kutitip wangimu abadi…

Gesti Veronika

Pada secarik kertas, hitam di atas putih
Doa doa setahun kedepan kita rangkum
Doa doa yang akan menguap seperti minyak wangi, ke telinga Tuhan
Semprot terus, hingga bertemu dengan 31 desember lagi nanti
Hingga kertas kita itu lusuh tak berbau apa apa
Dibuka dan ditutup oleh doa tangan tengadah
Dan ‘amin’ akan selalu tergantung di akhir baris
Amin!

Atikah Zata Amani

kutinggalkan jejak
pada sajak sajak
yang kutulis di dinding kamar
agar kau tahu apa itu rasa lalu
rasa mimpi yang jadi kenyataan
rasa ingin kembali pada tiap tiap memori
rasa dekat dekapan tuhan

Atikah Zata Amani

tahan dulu ini awal baru
kadang hidup butuh koma
seperti spasi dalam kata
seperti helaan nafas dalam suara
sepertiinilahhiduptanpajeda

Maulidan Rahman

doa tahun baru
semoga seluruh koruptor ke luar negeri dan tak kembali
semoga seluruh artis dangdut pakai hijab
semoga seluruh bencana dapat diminimalisir
semoga seluruh e-Book dapat didownload
semoga budaya timur tetap eksis
semoga tren berpakaian perempuan tidak terlalu seksi
semoga seluruh lesbian insaf
semoga seluruh homoseks dapat azab
semoga BBM, TDL, PAM, dan JOKOWI turun
semoga seluruh puisi menemukan pembacanya
semoga yang sudah pacaran delapan tahun menikah
semoga seluruh doa yang baik diijabah-Nya
Happy Salma, 2015 Masehi.

Andrian Eksa

NATAL NANTI

tetap saja kuharapkan
Santa Claus datang kembali
membaca suratku
tentang bapak yang hilang
dan kucari nisannya

Jogja, Januari 2015

Andrian Eksa

AROMA TUBUH LELAKI TUA

bila raga tak lagi ada
sisakan aroma padaku
kan kubau setiap waktu
tubuhmu yang remuk dalam angan

lelaki tua, bapakku
menjelmalah aroma tubuh
seperti bunga-bunga dalam mimpi
yang membayang merindui

Jogja 2015

Fajar Setio Utomo
SURAT ETALASE

Dalam ruang pribadi
Aku kirimkan doa-doa nakal, yang terdiri dari tiga inti.
Doa pertama bersyaratkan gairahku akan bumi berserta isinya.
Doa kedua terpusat pada wujud lain dari dosa yang aku cinta.

Sampai doa penutup, aku hanya memberikan sepucuk pengharapaan pada segala keburukan yang datangnya dari kau..

Ya, dalam kerinduan yang kalang kabut, doaku menjelma bayi dalam rentetan puisi.

April 2014

Munasiroh

‘Minyak Wangi Kasturimu’

Kau lewat dengan semerbak wangi kasturi khas surga/
diantar para wildan suguhkan secangkir telaga kautsar/
cawan madu termanis sisihkan dahagaku dlm padang mahsyar/
berjalan tergopoh membawa sebutir gemintang dri langit tujuh/
tuk mnjemput malam/
dermagamu//
namun sekejap kasturimu layukan gemilang kembangku/
kembang melati,bunga bangkai/
mati terkapar dalam padang gersang//

Purwokerto, 03 Januari 2015

Fajar Ramadan

Di matamu

Matamu tak menjelma apapun di kedalaman dadaku,
Hanya sekedar rasa ketar
Terhadap pertanyaanmu yang tak sengaja mendatar
Hai ku terlanjur membentur padamu.
Tahun baru kelewat juga
Aku hanya diam sebagai perindu
Ya, kau membuat dadaku berkelejotan di kejauhan
Tapi inginku hanya satu pada anganmu
Makamkan aku di jingga matamu

2014 lembang

Muhammad Badrun

Perempuan yang Ditinggal Perahu Tatamailau.
Katakatamu menghunus leherku
terpaksa jatuhku di sandaran batu cadas
masalalu yang aku menangis
kubuang tisu merah darimu yang kau robek
kini aku terbahak di dermaga, menepi dengan senja.

(Dinihari, 4 Januari 2015). 2:47 AM

Fajar Ramadan

Dalam sebuah kertas

Aku tak tahu bagaimana memperlakukan kertas ini lagi
Apakah menulis sajak ?
Tidak, sajak sudah habis kutulis pada tubuhmu
Kertas kosong adalah kesepian yang tak pernah habis
Terus mengancam angan para penyair bulan
Tapi hanya ini yang kudapati
I love you ku
Tak henti kutulis di kertas ini
Untukmu

Bunda Umy

WANGI ASA 2015

Udara Januari terhirup sudah
Tiada beda dengan segarnya pagi kemarin
Hanya rasa syukur dan bentangan harapan menjelma
Aku yakin bisa wujudkan cita
Menepis bayang keraguan
“Apakah harapan seharum minyak wangi?”
Bismillah dan Insyaallah
Adalah penguat daya setiap pemilik keyakinan
Kebenaran dan bersihnya hati
Pasti menuntun langkah
Menggapai gambaran angan
Masa depan

Taipei, 04/01/2015

Nimas Ayu Rheog

Aih,
Bukan syair ketakhadiran/
hanya sebuah gambar tentang/
retakan di tembok/
terserakpasi/
luput bingkai perupawajah/
Entah apa kan tertulis/
Dalam lembarlembar kurikulumTuhan/
tentang wajah jejakkenang/
atau syair (lg)/
entah,

Adi Purnomo Wartam
Langit tidaklah biru

Kau tawarkan aku sepasang sayap
Yang melesatkanku ke langit biru
Hingga benar sampai di sana
Birulangitku hilang, entah
Dan yang paling buruk
Aku tak bisa pulang

Wangon, 03 Januari 2015

Wardjito Soeharso

MALAM TAHUN BARU

Yang berkisah tentang sejarah
Tentang kekalahan dan kemenangan masa lalu
Tentang kecemasan dan
harapan masa depan.

Nailur RizQi

Bebersih dari lumpur keruh
Nak. . . Mandilah
Pancarkan sinarmu
Bungkam dunia bisu kemarin
Bukankah itu yang kamu mau.?
Cantik aslimu.. jaga selalu sampai nanti habis masa ini

Deri Hudaya
Sebab Minyak Wangi, Kata Orang, Adalah Harapan

Telah aku semprotkan ke badan. Ke rambut. Ke baju, celana dalam, dan kaus kaki. Setiap aku mau berjalan dari puisi ke puisi. Botol demi botol. Kosong. Minyak wangi. Selamanya melekat sejenak. Tetapi. Kini, aku mau tak segan menenggaknya. Mari.

Sastro Taruno Satoto

KEPALA
Pagi-pagi juga kau buka jendela, jendala yang kau pasang dalam dada :namamu udara
Lalu katamu pada pagi pagi itu “tak mengapa kaki terluka, bahkan tongkatpun masih menyanga, tapi bila tubuh tanpa kepala, siapa tahu hendak kemana?”

Ocarina Coueffe

Tahun Baru
bila hutanmu melengkap semak, jalan keriangan, sunyi sampai ke mataku. di langit abu-abu yang kugambar, tidurlah di situ. di tempatku yang utuh menangkup dan mengekalkanmu.

Maria Ansul
DI TANGAN DEMONSTRAN
Di tangan demonstran
harapan menjadi yel-yel sangar

Matahari membakar dendam
di luar pagar kekuasaan

Lapar dan jurang kemiskinan
seperti awan berarak ke mana-mana

Menjauhkan wangi surga
yang dikotbahkan para biarawan!

Tri Jengky

Apa saja dia

TAHU

Cuma dua dia tak

TAHU

Gak TAHU diri

Dan

Gak TAHU malu

Mintarjo Narswatmojo

dua ribu lima belas
apakah kau cukup berkelas?

Pramukti Adhi Bhakti

Mengharap kaki ini tetap melangkahi bumi
Mengharap jemari ini tetap menulisi hari
Mengharap puisi tak lagi sepi
Mengharap bangsa ini kembali pada diri sendiri

Oh Januari …

Dendi Madiya

BEKAS MUNTAHAN SEORANG TEMAN: besok adalah air / tidak, besok adalah air yang dibendung / bukan, besok adalah aliran dalam got perumahan / non-imaji / besok adalah isi perutku yang terbawa oleh kaki temanku yang sedang pulang ke rumahnya / isi perutku ikut menginap di rumah itu / aku tidak dibangunkan sampai pagi datang yang membuatku bingung bagaimana menyibak gorden jendela / tapi rumah itu seperti besok / rumah dengan jendela yang selalu tertutup / rumah yang mengenali waktu melalui gorden berwarna merah-ungu pudar.

Fendy Arif Rimbayana

Sajak Awal Tahun

masihkah langit di sisiku?
jika di luar sudah tak berdebu dan pertengkaran orang orang sudah reda.

ceritakan tentang malam, kunang kunang yang benderang
lalu, gemerlap bintang bintang sebisa engkau bahasakan.

malam dan taman tak lagi dipenuhi gerai rambut perempuan tenggelam
harapan mengembang.

Surabaya, 2015

Iqbal H. Saputra

Jejak Imaji

Selalu ada yang menjejak di balik hari-hari sia
Lika laku nyisa tanda, luka lahir dari tindak leka
Maka diri perlu berlari, melesat, tinggalkan sedu sedan
Sebab kehidupan ada di depan, berjalan, jawaban segala pertanyaan
Dan doa tidak cukup sakti jika pikir dan langkah terhenti
Dalam kerangkeng tata warna, kanvas harus digoreskan
Bagi sisa usia yang terus dirahasiakan

Selalu ada yang menjejak dalam penyesalan
Dan racun masa silam, tindaklah jadi penawar
Meski tahu, semua tak lesap, tetap perlu dibayar

Jejak Imaji
2015

Iqbal H. Saputra

Negeri Dongeng

Biar seribu tahun berlari
Jika tuju tak ditanda dalam peta
Seperti udara, cuma menerpa
Perjalanan kehilangan juntrungannya
Menyejarah, dalam epos melegenda

Biar seribu huruf mengkata
Jika makna hilang hakiki
Seperti Utari, terhunus keangkuhan
Citra sarat kepentingan
Cinta, otak-atik politik perang

Jejak Imaji
2015

Adek Ceeguk

MEMUNGUT WAKTU:
Berjalan seperti membentuk huruf-huruf dari telapak kaki.
Yang di dalamnya menyimpan kerikil, tanah yang lembab, kotoran kucing, panasnya aspal siang hari dan suara knalpot metromini yang tidak bisa kita ikat pada pohon./
Asap knalpot dan teriakan bajaj pagi hari, mengantarku pada persilangan jalan raya yang kehilangan naluri kematian.
Melawan langkah kaki tergesa dari kerumunan pekerja kantor, yang berharap bertemu masa depan pada eskalator gedung.
Dan suara knalpot yang lain, akan datang pada sore hari, menjemput telapak kaki yang turun dari eskalator dengan tanpa kaos kaki.
Setelahnya, aku memotret potongan kuku dan wangi parfum pada kaca jendela kereta.

Amiril Mueminin

hujan selalu cerita tentang lumpur terciprat saat kau bermain bola, ikan sawah berenang riang di jalan beraspal, perahu kertas mengalur alir hingga ke hilir.

ada gerimis di setiap langkah
ada ibu dengan doanya
buat anak yang semakin jauh

saat ini ia tak rasa hujan lagi. ia beku bersama salju menusuk telapak. hatinya gemetar rindu lumpur, ikan sawah dan perahu kertas yang mengantarnya pulang ke pelukan ibu.

Gampang Prawoto

LENTERA CINTA

kejernihan air
mengurai kesejukan
embun mata pagi perempuan
tanpa sepatah kata bersimpuh
pada tanah, bebatuan dan batin
merindu
bait lentera mensyair kasih
daundaun jatuh tanpa tiupan nada
debu tak memaknai daki
tatkala tayamum menyimpan bersit zaman

Cilegon, 24 Oktober 2014

Gampang Prawoto .

S e l i s i h

Kau
berjalan dengan detik
sedangkan yang lain menghitung menit
Wajar
kalau kita ada persepsi berbeda
Walau
sesungguhnya kita akan bertemu
pada jam yang sama

Jambon,13032014


Melati Suryodarmo

Aku ingin menyelinap dibalik kulitmu.
Sambil berkedip mata mengintip cermin.
Bersolek dibawah lekuk tengkukmu.
Berbisik angin lembut bulu kudukmu
Sebab aku rindu
Dan lupa bau malu

Risti Danasmoro

Katamu harap laiknya sebotol parfum,,
Ahh.. Ya,,
Kau bisa pegang botolnya, namun bagaimana dengan isinya?
Bukankah dia kan menghilang saat kau menyemprotkannya?
Meski setelah itu, kau jadi bisa mencium aromanya,,

Mintarjo Narswatmojo

cerutu itu sudah terlalu lama menunggu
dalam penjara kayu usang tersedu
memendam kesumat rindu membeku
pada jilatan api gelora nafsu

Linggar Rimbawati Puwrowardhoyo

Bagaimana Jika Aku Berharap untuk Mati?

belum terlambat untuk menulis harapan, bukan?
;mati
pergi
musnah
punah
hingga aku tak merasakan kesakitan lagi

2015

Linggar Rimbawati Puwrowardhoyo

Yang Mungkin Terjadi Di Tahun 2015

menjadi normal
menjalani kehidupan normal seperti orang kebanyakan
menyematkan cincin
mengenakan gaun pengantin
lalu bayi-bayi menetas dari vaginaku
yang menghisap susuku
lalu aku menjadi gendut
penurut
demikian dangdut
cih!

Kurnia Hidayati
dari arah penjuru aku mendengar tiktok jam bagai bunyi elan yang beringsut mendekat diam-diam. tahun baru telah tiba, tuan! mari berdoa saban hari saban purnama dalam dekap aroma Tuhan.

Bonk Ava

Sanggupkah aku mencintai kehidupan
Seperti mencintai minyak wangi
Kulukis pada selembar kertas
Kugenggam, kusimpan di hati
Di lembaran baru

07/01/2015

Biolen Fernando Sinaga

P(ESA)WAT

Tahun terus mengalun
ukir pahala aku bertekun
sampai aku jadi pikun
Kukunjungi sanak saudara
dengan pesawat atau sepeda
ingatkan mereka menangis dan tertawa
Di angkasa kulukis mimpi
‘kan kub’ri setitik warna di bumi ini
atau kuukir kata seindah puisi.

Biolen Fernando Sinaga

(FA)T/AMOR/GA(NA)
Esok sejatinya fana
sia-sia aku menggenggamnya
paling-paling aku bisa membelainya
Kuhias kalbuku dengan amor
kupoles bibirku dengan humor
kucuri ilmu dari semua tutor
Dalam resah aku rebah
pada gelisah aku sumringah
kelak mati aku akan abadi.

Indah Wind Sudibyo Indie

SAMPUL
Keriput mengkusam dekil lagi.
Banyak hiasan iming-iming rupa.
Henyakkan rasa sembunyikan diri.
Bertopeng harapkan puja fana.
Layak benci bertandang sebut naif.
Beranikah telanjangi diri, hingga kesat terpampang nyata.

Advertisements
Penulis dan Karya di Indonesian Poetry Battle on Facebook #6

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s