Penulis dan Karya di Indonesian Poetry Battle on Facebook #4

Kurator:

Ugo Untoro (Perupa)

Sunlie Thomas Alexander (Penulis & Penyair)

Sanie B Kuncoro (Novelis)

Dendi Madiya (Sutradara Teater)

Sartika Dian Nuraini (Penulis)

Penulis yang berpartisipasi:

Bagus Setiawan

Untai Benang

Guntur Oi SBrank IsTana
Kau tercipta tuk membalut raga ini
Kau terlahir tuk menghangatkan jiwa kami
Dari pelosok negri hingga penjuru dunia
Dari kaum kusam hingga para penguasa
Mengapa besar slalu menang(diatas)
Mengapa kecil slalu tersingkir(dibawah)
Mungkin hanya itu yg buatmu mrasa risau…

Ibrahim Maulana Malik Fadlan
ku ikatkan dalam benah seolah meratapi kemunafikan.
ku pegang erat dalam genggaman seolah meratapi dosa,
ku gulung di atas kehormatan seolah meraatapi kehinaan.
ku singsingkan dalam lisan seolah meratapi kejorokan mulut,
ku tumpukan di atas jiwa seolah meratapi beban seorng kacung.
ku rangkai dalam karangan seolah meratapi butiran2 tasbih,
AKU berwal dri kehiaan , seolah tak ada ampun bagi ku,
TUHAN sucikanlah budak mu ni,,,,,
(fadlan maulana)

Noer Listanto Alfarizi
Kau yang meraga pada setubuh tulang yang terbungkus daging,
Selaja bersenggama tnpa lahirkan apa-apa,
Hanya menyatu laksana samudra yang kian menutupi istirah sang tanah

Asni Furaida

Kemelut di hatimu bisa kubaca dari bayang matamu sayang, sudahlah.. relakan saja layang-layang itu putus. bukankah itu sudah kehendak-Nya. kamu bisa cari layang-layang lain yang pantas kau terbangkan dengan bangga. ok? nah begitu dong. dan kemelutmu yang membara itu bisa terurai laksana bunga yang merekah mencium surya pagi ini. indah nan megah.

Agik Ns

Bebijian yg kautaburkan
Sudah berubah
Jadi berbatang
Dan panenmu membentuk
Ceplok-ceplok salju
Dikuncup pepohonnya.

Lantas tanganmu itu
Memetiki tiap ceplok
Membuat buliran jd lbh halus…

Maheni
Kurajut cinta ini..dg tatanan yg tertata…
Setiap detik untaian itu sll ada kasih..
Gumpalan rindu yg sll menyatu dihati…
Terurai akan klimaknya rasa rindu..
Satu persatu lembaran itu terurai akan nikmatnya seperti cahaya cinta yg bersatu

Firman Setiana Singadiprana
Seribu pesona kau miliki
Sejuta budaya menyelimuti
keanekaragaman hayati
melekat pada tiap sudut negeri
negeriku
Saat indahmu luka terkoyak
biar kutambal kusulam kelak

Ciska Deciana
Terserak..tergolek..tak punya arti
Terpencar merenungi nasib dalam ruang angan masing-masing
Sebagian terjuntai dalam kesendirian…
Sebagian lagi terbelit kusut walau asa damai tetap nyala
Sementara menanti jamahan Sang Pemberi Arti..Sang Pembentuk Keindahan..
Disini, kami mengimani waktu itu kan datang
Walau kami mungkin tlah memudar..merapuh..

Damar Anggara
dari masa ke masa
dari duka ke suka
untai hangatmu,
menyetubuhi badan.
melengkapi proses kehidupan, hingga ke pekuburan.

Eddie EsEs
Telah Engkau ucapkan berabad yang silam, dan bergema ke setiap sanubari. Dengan mulut berzikir, tangan menengadah langit, aku berharap : Sudilah Engkau mampir barang sejenak ke kamarku. Aku sedang menggambar Imanku.

Aris Rahman Yusuf

SERAK

rindu-rindu berserak
melingkar bulat otak
linglung
limbung
rindu terurai jatuh ke air
basah
mengalir menghilir

Mojokerto, 19122014

Moomo Nyenyak
Mencintaimu

Jika dapat kuungkapkan semua ini:
Aku ingin mencintaimu
seikhlas mimpi
Yang indah, meski harus berakhir di gigil pagi

Aku akan menjadi mimpi
Yang tergantung sunyi di rona pipimu
Pada pagi yang begitu lekas
Dan akan kau kenang sepanjang hari dengan senyuman

Ara Cuu Namii
Tergeletak dan blum bermakna
Berwarna tapi tak berguna
Setragis itu hidupnya
Tak sesuai warnanya
Gapai dia jadikan berharga
Buat warnanya mewarnai dunia

Eddie EsEs
Hari ini televisi mengabarkan, tentang Luka yang belum disembuhkan.
tentang Lupa yang belum diingatkan.
tentang Doa yang belum diamalkan.
tentang Haram yang asal diucapkan.
tentang Engkau yang disalah- gunakan.
(19-12-14)

Rizki Andriani
PILIH

kehidupan insan
tak sama rumit
rasa
rata
besar atau kecil
kini hanya diri kan memilih
antara dunia dan seisinya

purwokerto,19 desember 2014

Subaidi Pratama
PERTEMUAN

Sebuah rindu menyulam tubuh
Mencipta riuh dan aduh
Tuhan, kalungkan kain itu pada kalbu
Agar Kau dan aku selalu saling bertemu

Malang, 2014

Dewi Mardiyana Sebayang
kaulah metamorfosis sempurna//yang menjelma kelambu//membalut luka menganga//terentang menutup burukku dan berkata “kaulah alur yang harus selalu kujaga jalannya”

Linggar Rimbawati Puwrowardhoyo
Pada Tubuhmu Kulekatkan Doa-doa

bungkus rinduku dengan lipatan tubuhmu, kekasih
doa-doa telah kutanam pada kakimu sejak kau balita
di selembar ladang kapas itu, ingat?
semoga kau lekas besar dan menjelma lembar-lembar
untuk kusulap menjadi jaket atau jubah
yang menyembunyikanku dari dingin yang suram

2014

Ratu’Archy Laraz
Jalinan hati ibu

Dirangkai dari bakal kapas
Menemani seorang ibu
Membikin baik kain yg sobek
Aku berteman dengan biru

Abmi Handayani
“tolong,
bantu aku urai,
ini kusut”
katamu
yang
muncul
dari
masa lalu

Leonardo Syirazhe Jugayantdira
SELALU

oleh: yant

selalu begitu, awalnya
serak serai menyerabut

hingga, jiwa penuh cinta
datang menyatukan perbedaan rasa

dalam genggamanya,
meletuplah percikan keindahan itu
teresap disetiap ruang hati

Indragiri-hulu, 19-12-2014

Rikha Melati
Sebuah Apa

Sebuah-sebuah yang ada padamu, kasih
Sandingkan dengan sebuah-sebuah yang ada padaku, kasih
Terima aku..
Rengkuh aku..
Baur aku..
Hingga kau jelma menjadi apapun apa
Hingga kau jelma banyak rupa banyak jiwa

Muntilan, 2014

Titis Efrindu Bawono
Pusaran Ilusi

Kita berputar dalam pusaran yang menjerat
Selalu berkelit dengan tumpukan alasan
Melanjutkan kebohongan yang tak berujung
Bersembunyi dalam balutan kasih palsu
Dimabukkan nikmat yang tak usai dicari
Tak lepas gelak tawa, tak henti sendu mengalir

Femi Agustina
Pelangi…
Indah bukan..?
Bnyak mata terpesona menatapnya.
Spt itulah kau diciptakn indah toek membungkus jiwa” yg penuh pesona
Melilit melingkari lekuk” tubuh mnjdikannya sempurna pada pandangan mata..
Ayo sayang..teruslah berkarya..jgn pernah usang..
Tunjukkn pada dunia kau abadi dlm hangat selera

Yudha Purwanto
Selarik selarik kata kata, tanda tanda, makna makna yang tertunda. Tertumpuk mengendap pada yang belum terselesaikan menjadi warna warna padat menggumpal jadi aral kehidupan.
Sri S. Ningsih
Merah-jingga menjamu senja
rayap, mengakar
lingkar, menyebar
lilit, berkelit
membelit, nadimu
kau; matilah.

Mochammad Asrori
Etnogram

harusnya kau tlah langlang seperti lelayang mengimingi
ruang pandang negeri seberang
tapi angin telah enggan
dan moyang telah memucat
merapat di gudanggudang

2014

Ida Iswari Icksanhadi
KITA

Kau tindih aku dengan kelembutan tubuhmu
Kau lumat aku dengan segenap hasratmu
Lalu kita begitu dekat … merapat
Saling melilit ..
Begitu indahnya..
Dan kita tak ingin saling melepas
Sebelum tubuh kita hancur oleh waktu

Mochammad Asrori
Avontur

pegang ujungku
jangan lepas
agar aku tetap
bisa mengeja
leliku jalan kembali
ke arsy

2014

Nailur RizQi
berusaha bangun dari timbunan angan…
apapun… bahkan jika harus merangkak.. ku berjuang
tuk hapuskan kutukan….
si BESAR menindas si kecil

Eko Sulistianto
KITA

Meliuki leliku
Mengangeni kelitan
Menyanding silang-silang

Tak pernah cukup kata
Selain kita
Tak pernah hiruk tentang
Selain kita

Alfin Luthviadi
Kebencian yg kau simpan dalam gulungan gulungan rapi yg kau sembunyikan di relung telung tawa dan ribuan kata kata menggoda… Seorang tak menyangka jika peluk itu adalah hampa … Dan nirwana semu disetiap puncaknya…

Khumairoh
Pintalan-pintalan halus yang bersilang jalan,
saling menyerobot, membelit dan menggeliat dalam siluet
sekaligus dibekap dalam naungan lalu lalang jalan diatas sana

Iwan S Adiwira
Jangan kau maki dia kita masih suka merangkap kata!
Rinai cahaya berpolesan awan telah mengikat bait
menjadi sajak tanpa judul
Jangan kau maki dia kerna kita suka rangkai bata!
Untuk menepis deru angin yang menerpa
dengan sembilu dingin menyayat kulit

Jangan kau maki dia sebab kita cintanya

Reky Arfal
Seumpama mengurai benang masai di antara renyai,
aku ingin melupakanmu,
jika pun harus meluapkan limpahan rindu,
nan sansai.

Bob Martokoesoemo
Apa kau ingat anak kita terbuat dari apa?
maka wajar saja setelah menangis meraung seperti setan
ia luruh (kau serta merta heran) meninggalkan jasad tak selayaknya
lalu terurai dan membelit kita, walau halus, tapi aku makin tercekik
kau tersedak dan muntah darah
baguslah, ini bentuk perhatian seorang anak pada orang tua yang durhaka.

Eric Keroncong Protol
Perempuan Penyulam

Perempuan penyulam dengan sisa tenaga tuanya, dia menyulam. Di sulamnya untuk menjadi bendera Merah Putih. Berkumandanglah lagu Indonesia Raya bersamaan air mata membasahi pipi keriputnya.

Aris Rahman Yusuf
PULANG

terbangkanku dengan layang
bawa aku pulang
biar kembali cerlang

Mojokerto, 19122014

Eric Keroncong Protol
Permainan Untukmu

bocah usia 5 tahun, datang menghampiri ibunya
di sisa-sisa gerimis membasahi tanah-tanah tandus
tangan gemulainya menyodorkan boneka untuk buah hatinya
boneka murah yang dibikin dari sisa-sisa gulungan kusut
dan sang ibu berbisik lirih.”Tak usah boneka impor, kita bisa bikin boneka murah dari gulungan ini.”

Novia Rika
jerat-jerat serat halus
pintal masa
gulung kekal
dalam rahasia paling sunyi,

jerit-jerit lirih
menghantui mata hati
kata pun terbelit
kerinduan itu tak pernah tipis

2014

En Hidayat
HIKAYAT RAJA TELANJANG

raja itu berseru,”aku memakai jubah yang tak terlihat !”

kami bernyanyi,” betul. kau selalu betul dan itu bukan urusan kami.”

Khair Lazuardi
Seperti juga ia
Semakin ku tinggalkan semakin aku tertunggalkan
Dalam ABCD dia yakinkan bahwa diantaranya ada abjad CINTA
Kalau saja rindu itu tahu jalan pulangnya
Di pintalan jarak, kau bisa temukan aku bersama setumpuk asa dan rasa.

(Desember, 2014)

Atikah Zata Amani
mejikuhibiniu. padamu layang-layang terbang.padamu segumpal daging berkembang.bergerak cepat dalam balutan.bulatan
mejikuhibiniu.kau lahir indah rupa. dunia bergembira.bak ulat kepompong masak. siap terbang jelajahi dunia.

(Lubanh Buaya, 2014)

Amiril Mueminin
aku sudah tahu masa tuamu/ hidupmu berliku/ tapi tidak berlaku/ kau tak bernama/ di pusara entah dimana/

Muhammad Badrun
Bisu Terpasung

Sunyi, tatkala kau aku
Dalam lubang yang gelap
Tak melihat, merasa
Jeritan itu kau pasrah
Rabamu berserakan luluh lantak
: Kita bertemu di pelimbahan
(Gubuk Kecil, 19/12/2014)

Eva Nur Aprillail
LUKA DI UJUNG KOTA

Aku lihat ada luka yang menganga
yang terjerembab dari kebisingan kota
tersapu dan terhempas angin
tertutupi dedaunan kering yang membasah
sebab hujan tiba
menderasi lukanya yang alpa dalam pencarian
ah…

Deri Hudaya
Boeh Rarang

Sangkuriang mendaki gunung, uh
Lalu menyelam tajam di telaga dalam, ah
Nafasnya terus berdenyar di sekujur bumi, Dayang Sumbi, mencari

Sekebat boeh rarang, antara malam dan matari, seperti firman
Pikiran silau dan cinta sia-sia saja
Kenapa harus hidup untuk mati, ih

2014

Lenny Mustapa
Kau bertanya mengapa jejakku tiada kekal di sisimu,
Seakan mimpi adalah janji yang pasti terlunasi, yang helai-helainya tengah kau pintal sempurna.
La, apakah kepergianku saru?
Sedang helai-helai itu kau timbun saja,
Tiada tersentuh,
Pun setelah aku berlalu.

Gorontalo, Desember 2014

Kinanthi Anggraini
PUSA RELIEF UJUNG BANTAL

satu diskoid buih perak menutup rapat serpihan mata
berwarna air mata langit di dekat kecupan sang Nendra
mengayunkan anyaman sesam pada ujung bantal tidur
mengikat malam afotik, menyulam nikmat mendengkur

pada mimpi gamang, kau menghidupkan ruh bayaran
menyelinap pada dinding delinkuen tanpa tirai pintu
menitipkan kecupan berkedip, di tengah denyar keningku.

Anton Sulistyo
PERIODE BIRU
Ada banyak cahaya diludahkan matahari
Tapi aku hanya akrab dengan cahaya biru
Seperti langit cerah musim semi

Lantaran aku selalu menafsirkan hatimu
Yang akan membiru setiap kali diterjang rindu
Seperti lukisan Picasso dalam periode biru

Vindy Putri
Menembus Pola

Kian menipis melingkar berporos teratur,
Menekuri hidup laksana helaian tipis,
Hingga habis terlepas pada pusat kehidupannya,
Satu kehidupan satu ciri, tak sama,
Bermakna tatkala berpagut, menembus pola,
Putus! ah, ulangi! berpagut, menembus pola,
Mati dalam debu atau hidup menjadi pola indah untuk sejuta umat.

Navida Suryadilaga
Menyulam rasa,
Bait-bait asmara
Merindukanmu adalah dosa,
Dosa yang selalu indah
Rasa di sulam di pita,
Kelopak mata pecah mengalir deras air mata
Aku yang kusut menikmati dosa.

Tri Jengky
Telah teronggok ku disini
Berhipitan diantara lainnya
Menunggu gulir waktu tak pasti
Tubuh ini sudah berdebu
Dari warna-warni nyaris abu-abu
Aku disini masih setia menunggu

Sukma Negara
Teronggok dalam kubangan zaman
Tapi tetap berpaut dengan waktu
Terikat dalam rangkaian rupa dan angan
Menunggumu untuk menyatukan asa

Biolen Fernando Sinaga
akan kuukur jarak yang kutempuh untuk merindumu/akan kuhitung degup jantung kala berhasil menikam pupil matamu/wahai kau yang sangat indah/aku hampir tak percaya Tuhan saat dambaku kau tepis/saat kalbuku kau iris.

Estria Solihatun Nurjannah
kau terlalu gemulai untuk kusut, terlalu berantakan jika terurai. kau pikir segala ungkapan harus menjadi milikmu? andai saja kau menyadari, bahwa percintaan kita hanya sebatas gulungan yang hambar. kau takkan memaksaku menjawab, mengapa berantakkan mu membuatku pergi

Ekohm Abiyasa
Kain Perca

bersama tubuh, huruf-huruf itu sempoyongan di jagat

kepada langit yang melegam

berkeping-kepeing nuansa

: rupa dan duka

bersama langit yang melekat

ia bertumbuh, berjalan, berlari, dan terbang

mengejar ibu-ayah. di mana tempat menemu hangat?

Surakarta, 2014

Moh. Ghufron Cholid
MENGHIDUPKAN TUHAN

pelangi waktu
kuatkan kalbu
hujan restu
lobangi batu-batu ragu
menguning usia
jiwa menghidupkan Tuhan

Madura, 19 Desember 2014

Andrian Eksa
KEKASIH

ada rupa-Mu
dalam wujud Kekasih
dan aku
pemuja, pencari belas kasih
di segala-Mu

Jogja, Desember 2014

Yustinus Popo
Laki ku laku
Luka ku
Ukal liku liku
Lukis ku

Ratna Ayu Budhiarti
AUTIS

Kau tahu? Duniaku adalah sekotak gelondongan, kunang-kunang di taman,
kartu domino, dan seorang perempuan yang memanggilku “anakku”.

#RAB, 19122014

Maya Madu
.
AJAR UJAR

hidup mengajari cara
dalam ragam pola
gelap terang segala kias
sediksi bernama bias
lantas di mana letak keabadian
jika jalan belum kembali tenang.

Malang, 19 Desember 2014

Dian Rachmaniadua
Aku tak ingat lagi, berapa barel warna dilambungku. Limbung tergulung, kisut disekian kalinya. Tak ada pilihan lain, selain absurd:inikah rindu yang kau titip diperihku?(19122014 – DR).

Gustu Sinduputra rumah.sutera.dengan.lorong.gelap./aku.menjebakkan.diri.dalam.ikatan.tak.berujung./membentangkan.riuh.sunyinya/untuk.bisa.bertanya:/kau.masihkah.di.ujung.yang.lain./menanti.kabar:mata.uang.kita.perlahan..buta/

Leonardo Syirazhe Jugayantdira
NEGERIKU
oleh: Yant

penuh perbedaan
barat yang langsat
tengah pengembara
dan timur adalah mutiara
dalam cengkeraman kaki-kaki sang garuda
mereka saling mengikat janji
untuk bersatu di rahim ibu pertiwi–Indonesia

Indragiri-hulu, 19-12-2014

Gembel Aceh
si rentan,disenggamai sang jari,penyempurna celah sang sutra,mengisi simetri penjuru bumi.jika sudah pasti indah,terima kasih sang ulat yang kuat,kalian terlalu sunyi menjadi penduduk bumi! maaf semua ini ulah jemari

Diah Pertiwi

Terhenti tangis di ujung tarian jemarimu
Rangkaian kenangan itu memang terputus-putus
Namun, nurani tak lekang dimakan sakit
Kau masih kuat dalam ikatan memori itu meski satu, satu
Menelusuri perjalanan cinta kasih ibu
Diah gadis cantik bermata lentik
Pertiwi tanpa tanda jasa, kembalilah

Agustina Kusuma Dewi
DIALOG SUNYI

Sebuah asimetri
Keterjalinan kusut masai yang terlalu rumit untuk terurai lepas
Serupa garis menuju titik hilang pada lanskap pelangi
Terhubung dan diikat gairah dalam kemabukan anggur Bacchus, senikmat keju Gouda
Bergelondong kenangan, mnemonic tak terhingga yang kekal dalam rahasia
:Kita.
Demikian adanya, biarlah!

AKDI | @inabicara | 19.12.14

Ayuek Virgo
JELITA

Tangisku terhenti sesak menusuk dada
Senyum jenakamu seperti bocah
Jemari menari memberi tanda
Tak boleh ada tangis dan air mata
Sementara, separuh ingatanmu entah kusut dimana
Hanya ibu tak lagi kau tanya, siapa?
Wahai jelita kembalilah, kembalilah dalam satu pola semula

Tri Jengky
Masih ada asa dalam cemas ini
Menunggu gilir buat bergulir
Desak sesak tubuh padu sarat peluh
Lunglai ku dibuatnya
Warna mulai berdebu nyaris abu-abu
Kutakut jadi abu
Maka kubunuh
Waktuku

Petrus Cannisius
Ingatanku terlalu dangkal untuk mengenang seberapa kilometer benang yang pernah terajut untuk kukenakan | Khayalanku terlalu sederhana untuk menentukan apa saja warna-warni kesukaanku | Asaku terlalu biasa untuk melukiskan bagaimana raut wajah masa nanti | Gerakku terlalu kaku untuk menarikan semua yang pernah terasakan sejauh ini | Waktuku terlalu singkat bahkan hanya sekedar untuk menghela syukur disetiap hembusan udara-Mu.. [Solo, 20 Des’ 2014]

Ivan Zulfan Hakim
Jemari meniti depa demi depa, hasta, lalu entah berapa jarak merentang kisahnya. Pengharapan di kota jauh, mimpi terserak, gigil masa lalu. Jalinan yang rumit ketika ia merenda doa pada subuh yang luruh di sajadah.

Fanny Chotimah
PAGI BUTA

Gigi tanggal
Ingatan lumpuh
Sehelai saputangan melambai-lambai
Koin-koin pun berjatuhan

20.11.14

Alburhan Ash-shiddiq
“Biarlah malam ini aku terjaga untuk menambal saku celanamu yang robek dimakan waktu. Meski aku tak pernah memberimu uang saku, biarlah saku celanamu diisi cinta dan senyumku yang kuberikan tiap waktu sebagai bekal masa depanmu yang sedang menuntut ilmu.”
Kata ibu sambil mencium keningku. Besok pagi aku akan pergi sekolah dengan bekal cinta dan senyuman ibu.

Biolen Fernando Sinaga
M(I)N(DE)R. Oh, kecilnya hamba/jika dibandingkan tuan raja//makananku tahu/sedangkan tuan raja ikan kerapu
//Tapi bukankah imanku tebal/dosa tuan raja mengental? Medan, Des 2014

Biolen Fernando Sinaga
PASAK. Kaupaksa aku berkata pasak/padahal aku ingin berkata kapas//kausuruh aku puasa/padahal aku ingin menulis puisi//maka apa salahnya jika aku memilih tusuk /saat kau menyuruh kusuk?? Medan, Des 2014

Haris Gupon
Iso ngomong tapi ojo lali hayo d lakoni..yo…., bareng2 ngelingke…, ojo mung apik2an syaire tok yo…., soale soyo apik biasane soyo ngapusi…

Kie Guevara
Pikir ku itu kita

Saling menumpuk memupuk beda.
saling menguliti si besar kecil, si kiri kanan.
Sama saja sama rata.
lukisan hidup derita senja.
Antara tumpukan peran.
Menunggu terkubur bersama kafan.

Bonk Ava
Kau depanku
Dengan muka layu
Benar kau ingin berubah
Membuang jauh segala dusta
Kau gulung perban di dadaku
Bisa kubawa berlari hingga ujung waktu

20/12/2014

Poltergeist Suesser
Turun naik liuk lampai berputar…tumpang tindih satu satu wujud terbentuk anyaman-anyaman yang ku sendiri tiada
tahu. Entah jadi apa nanti… Tangan itupun tak berhenti,
seolah tak peduli pada anyaman itu
Tuhan, aku ingin pinjam tanganMu… tolong buatkan aq anyaman indah, sesuai anganku.

19.12.14

Ida Fitriyati Yuzmanah
Inilah kita,
Yg saling bercakap dalam dialog yg tidak
Duhai, kekasihku yang bukan
Karena kita saling mengasihi dalam ikatan yang tidak

Syifa Khumairah
rumit

aku ingin berlabuh menujumu
tapi kau mlah bersembunyi.
kau dan aku : semakin tergulung dalam kisah yang haru.

Abu Nabil Wibisana
Kain Kenangan Ibu

/1/
Pada mulanya sabda. Sebutir buah di tangan, belum lagi habis dikunyah. Tiba-tiba Ibu telanjang. Tak ada teriak, hanya sorot mata cemas saat terlihat betapa cepat dosa beranak-pinak.

/2/
Di beranda, Ibu menenun kenangan. Renda dan gulungan sutera jadi cerita tentang belantara belukar dan pohon dengan sulur-sulur cahaya. Kudengar ia berujar, “Dosa itu, Nak, bisa ular. Mematikan, tapi bukan tanpa penawar.”

(Taman Nostalgia, 2014)

Ayuek Virgo
Bukan meja tetapi kursi
Tahta teristimewa di negeri ini
Tempat merajut janjijanji
Namun,
Memori mereka kusut tak dimengerti
Persilangan warna sana sini
Lempar batu tangan bersembunyi
Sementara rakyat masih bermimpi

Mar’atus Sholikhah
Menyatukan Beda

memadu rupa wajah bangsa pada selembar kain bendera

ikat pinggang direnggangkan mencumbu ingat muasal nenek moyang

bahasa berpetuah, lukislah corak mesra sejarah merupa cinta, ramah tamah, dan damai nan indah

biar beda terebentang demikian lapang

tak usahlah sayang lepas bergandeng tangan

denganmu mengabadi melodi sajak kepada negeri

It,
Surabaya, 20 Desember 2014

Dhini Aprilio
Aku, Kamu, Mereka

Kita memperbincangkan sudut pandang. Tawar menawar dan memperdebatkannya sembari mendengus enggan terberangus.

Kita lupa tentang bhinneka. Hingga lalai mengelola dan menerima segala rupa.

Lantas bagaimana bisa kita menyulam bangsa?

Adi Poernomo
syair malam

kau yang kini malam
sebelum angin mengurai awan
dari pendar hujan
ijinkan namamu kusisipkan
pada syair dan do’aku
agar lelap kau dalam Mimpimu

20-12-2014

Nur Gusti Azizah
Aku berkenalan dengan Cinta
Menyapa dengan sejuta bahagia
Lantas cinta itu berubah jadi nista
Aku rasa bukan cinta yang bermetafora
Nafsu yang menyaru
Menipu Sejak awal

Iya, aku lah si buta

Bogor, 20 Desember 2014

Muhammad Iqbal
kau dan aku terpisah karna ketidaktahuan. meski sebenarnya kau dan aku saling pandang. tapi kau dan aku selalu. selalu bersembunyi dibawah kain kerinduan. kau dan aku memanglah berbeda. tapi kau dan aku tercipta untuk hal sama. kau dan aku pastilah menjadi kita.

Galeh Pramudita Arianto
seringkali kau memeluk
tubuh
dibanyak muka romantika
yang kau tanam di lautan cita
dan diluapkan lewat duka
esoteris, begitu saja.

Celah-celah Langit, 20 Desember 2014.

Dewandaru Ibrahim
kusut
mungkin semua yang kusut
harus bertemu jarum
agar menjadi sutra
purwokerto19 desember 2014

M Alif Marufy
Pasca-

Hei, kau tahu berapa beda harga kata dalam puisi dan kata dalam komentar?
“Seluas luka, setipis mabuk, setebal persona, dan tiga cm waktu”

Hmm.. Cukup mahal, terlebih waktu yang dibutuhkan sebenarnya empat cm

Sartika Sari
aku simpan tubuhmu dalam puisi. riwayat duka dan tumpukan air mata sudah mengendap, menjadi rusuk, melilit paruku dengan sepi.
bicara saja tentang kota dan jalan-jalan yang menggelar puluhan paha tiap malam, jangan menyusun janji. almanak di kantung mataku semakin tua, menyimpan semua peluh dan degup jantungmu. menjelma darah, kamboja dan naenia. jangan berziarah lagi, Pa.

Niken Kinanti
mata pun bisa mengecup keabadian
tak ada lelaki memilih membuka pintu hatimu
pun jendela telah kau buka lebar melebihi kantong terigu
tak ada sesiapa berkumpul lalu menuntaskan rindu
mari meramaikan pertemuan demi pertemuan
seperti jelaga wajah dan jiwamu yang beku di almari es
kerlip bintang tak mampu terangi, betapa kesepiannya kau dihantam cinta oleh lelaki

17.20.20.12.14

Faiz Adittian
kau-aku sama
kita-merekapun tak beda
satu: cinta

Waffa Ruhul Bakkah
71, 72, 73 golongan kian nyata
melintang menutup mata
tak beraturan!
mengeja kesalahan, seolah kaulah Tuhan
mengapa garis-garis itu tak kau rapikan, dan
membentuk keindahan
agar kau layak menjadi manusia

Iwan S Adiwira .
a a
e r b a s u r a
m m a m
u u n u
k k e s
a a r e p i

Muhammad Badrun
Sayatan Dengki. Pagi tiba-tiba buta// saat dirimu diriku// tak menjadi manusia yang bisa melihat// seisi rumahmu rumahku. (Gubuk kecil, 20 Desember 2014)

Lukas Jono
Aneka galaksi di depan mata kita, ibu pertiwi sudah tahu dari dahulu. mengapa kita tidak oleh menjadi sebuah karya? Bila kita tenun pasti menjadi cakrawala baru di pelangi hati kita. Kita tak boleh hilang dari berbagai jenis muitara Sabang-Marauke.

Farra Yanuar
Kau selalu merasa tangguh, mengundang segala musim ke dalam dada. Matahari bersinar cukup lama, begitu juga kesepianmu. Hujan membenamkan paru-paru dan badai yang murka membelah jantungmu.”Akan ada yang mengikatnya kembali.” Katamu, mencari-cari pelita tuk hangatkan lara.

Di luar tubuhmu, aku kandil, yang semakin gigil.

Novia Rika
Tali Mati

tak terurai
bergelut kusut
ikatan yang kau sulam
pada tepi-tepi mimpi sunyi
hanyalah sepi dengan cara yang berisik,
tarik ulur kita
hanyalah cara untuk membunuh cinta

Melati Suryodarmo
yang ter sisa dari sebuah kematian

masih menanti dan menjemur diri di bawah matahari

semu sepi sendiri tanpa kaki dan hati

kerja kami sudah terhenti

jangan lupa ada api

(GG, 21 dec 2014)

An Fauhum LinNas
Kueja leliku jalan menuju Tuhan//hingga kutemui uraian debu dijalanan// debu yang seakan mampu menusuk diri// sedang diri mudah dipengaruhi// akan sebuah permainan yang semu ini //hingga akhirnya kurajut doa untuk berlabuh dalam kehidupan sesaat ini// meskipun terbelit hukum mati yang akan menimpa diri// namun diri teruslah berlabuh// hingga tak lagi menjumpai debu di jalan illahi .

Biolen Fernando Sinaga
GETAS/:mengantar sitor situmorang//Setelah lama ‘mentas/kini kau kembali getas/sudah tak mungkin lagi bersikeras//Kembalilah ke haribaan/jangan pernah ada alasan/bukankah kaurindu ketenangan??/Medan, akhir Desember 2014.

Waffa Ruhul Bakkah
GARIS
Pintalan-pintalan berantakan
Itu, membebaskanmu menyulam
Sejak dilahirkan dari rahim fajar
Hingga senja menabrak malam

Pramukti Adhi Bhakti
Sesuatu

Sayup-sayup kudengar erangannya
Masuk-keluar, masuk-keluar, tarik!
Masuk-keluar, masuk-keluar, cantik!

Ah sial! Apa yang kupikirkan?

Bonk Ava
SuaraMukah
Mengetuk sanubari
Sarung kupasang

22/12/2014

Dewandaru Ibrahim
Lekat

Kurajut helai helai puisi yang berantakan
Menjadikannya gaun
Agar kita tetap lekat selamanya

Purwokerto, 21 desember 2014

Abd Sofi
Kau musim hujan yang terus menaiki tubuh ku
degan sunyi ,degan senyap ,dengan sepi ,degan api,degan pedih.
melautlah segala purnama kedalan embun dikamarku dikamarmu.
tanpa megenalnya.

Yanwi Mudrikah
Garis pada kelopakmu

Lurus
Belok
: membentuk garis indah pada kelopakmu

230122014

Didik Siswantono
Rumitnya cinta adalah tema kita;
Tuhan memberi sebuah tembang.
Lantas kita menari,
dalam irama warna-warni.

Mencoba lupa dari segalanya.

Risti Danasmoro
Laba-laba jalang merayap di ujung tombak..
Bukan tajam pisaunya yang mematikan..
Melainkan senyum si jalang, yang menoreh di pucuk ancamannya..

Magelang, 23.12.2014

Novia Rika
apalagi yang kau minta
dari tubuhku yang luruh
polos,
telanjang,
seperti bukit yang terlalu sering didaki

pernahkah kau menusukkan jarum?
ke serat-serat kapas
mencipta selimut penghangat
untuk tubuhku yang lusuh

Risno Aj
KETIKA SETIAP WARNA SALING MENYAPA

ketika warna kau biru
Bukan berarti, kau dan aku tak bisa menyatu

Ketika kau berwarna merah bukan berarti, aku haru menyebabkan kau lari dariku

Ketika warnaku coklat bukan berarti, kau haruslah sepertiku

Ketika warnaku hitam bukan berarti bahwa aku tak mampu menyatukan kau biru, kau merah dan kau coklat.

Dan karena kita bersatu, dengan segala macam warna, maka, sudah sewajarnyalah yang lainya jatuh cinta kepada kita.

( cilacap,tanah tinggi 23 Desember 2014)

Andy Sri Wahyudi
ibu, aku punya kuda gagah berbulu merah jambu. kudaku bisa bicara dengan iblis dan malaikat.ia baik hati sperti oksigen.lihatlah bu, ia mloncat loncat di tubuhku.pernah suatu kali ia mnangis, saat mndengar ibu brnyanyi di tngah malam.katanya ia mndengar sebuah doa, agar anak anak setiap ibu tidak saling membunuh. lihatlah kuda merah jambuku ibu…keren kan? seperti hening.

Adittian Dika
o, nona // segala yang kukenakan // kini telah sobek bersama jejak nafas kita // dan kini, perkenankanlah dirimu untuk kembali merajut asa!

Melati Suryodarmo
Ruang gelap, tempat melarikan diri
Terhimpit kerumitan nan ringkih merebah
lepas keluhan lalu bergumul dalam tikungan
keraguan yang bodoh, kekosongan bohong
Lalu biru menajdi langit, kuning menjadi matahari, merah bunga
tanpa alasan menjadi warnanya

Mintarjo Narswatmojo
bening tak harus muncul dalam hening
ia lahir dari riuh perbedaan
ia eksis dalam riak kesoktahuan
tapi ia tidak terjebak di sana
ia merdeka semerdeka-merdekanya
tak tergerus riuh dan riak yang ada
ia tetap bening dan membeningkan

Tri Jengky
Bu…
Alangkah banyak puisi gombal untukmu
Tapi cintamu padaku tak pernah gombal

Bu…
Terimalah puisi gombalku ini
Agar tak pernah selesai kau mencintaiku

Bu…
Teriring semat ucap dariku “SELAMAT HARI IBU”

Dari anakmu yg tukang gombal

 

Ike
Jika sendiri bukan apa-apa
Jika sendiri bukan siapa-siapa
Mari temani aku
Mengantar selendang untuk ibu pertiwi

Ike Is
24.12.2014

Kurnia Hidayati
Akhirnya tiba waktu ini, waktu yang mengeram luka menahun ketika kepala dipaku takdir tepat di ubun-ubun.
Himpitan ini adalah kelindan resah, yang bersama-sama dalam luka dan tawa pasti akan pulang pada muasal tualang. Suatu hari nanti. Entah dalam rapi atau masai diri.

Tan Muda
Di gubuk reyot, diiringi angin semilir
aku, adalah tubuh yang terlantar
diperbatasan, aku mengantar maut
menjajakan tubuh lain

aku adalah bagian dari yang terbuang
aku tubuh yang dipenggal itu,
ditekuk, dibekuk, dilumpuhkan

aku adalah kerapuhan
indahku hanya di pandang

aku adalah tubuh rapuh, sedang melilit
menyatu, menjadi tubuhmu

Advertisements
Penulis dan Karya di Indonesian Poetry Battle on Facebook #4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s