Penulis dan Karya di Indonesian Poetry Battle on Facebook #2

05-11 Desember 2014

Kurator:
Damhuri Muhammad (Esais & Redaktur Media Indonesia)
Wayan Jengki Sunarta (Penyair & Kurator Seni Rupa)
Langit Amaravati (Penulis)
Semi Ikra Anggara (Kritikus Teater)
Esha Tegar Putra (Penyair)

Penulis yang berpartisipasi:

ムハンマド リド ·
Kekusutan
Uraikan!
Uraikan kekusutan itu!
Uraikan simpul-simpul aneh yang dibuat sakumu itu!
Agar kau mendengar… lantunan hatimu di hari itu…

Dedari Rsia
Berutas kabel tercerabut dari benakku
Sehingga ketemu lagi diriku
Ning

Kasih Nissa

“Perantara”
Kecil, panjang dan bermakna
Berarti jika menyatu
Bermakna jika berguna
Itulah kamu wahai perantara..

Citra Sasmita New
Ede ngaden awak bise, depang anake ngadanin, geginane buka nyampat anak sai tumbuh luu

Damar Anggara
serupa apatah kekusutan di hatimu,
tetaplah kau penghantar cinta,

Afrilia Utami
JARAK

alat pendengar
sesosok hening karam
dialog jarak
Slamet Riyadi Sabrawi
NURANI

Kabut suara
Merayapi sanggurdi
Merajut hati

Nofrizal
“Handset kusut dalam foto” ??

Sesuatu terjadi karna suatu alasan-
Puisi

Slamet Riyadi Sabrawi

SUARA

Kumparan serabut mengular
Saling berebut getar. Rindu
menyungai di selasar nadimu
Di teluk telinga
tanpa tangga nada.

Inraini Fitria Syah
Ku

Aku menunggumu di situ
Kau yang sayup dan berhutang kata
meski bias
dan rindu membuncah
berakhir dengan nama lain, suara lain.

Citra Sasmita New
HYMNE FROM HELL

Kegagalanmu adalah mengingat kapan suara-suara itu sampai ke otakmu. Dulu sekali, ketika kau menjahit telingamu lalu kau aliri dengan melodi remeh temeh berisi lirik nyinyir, bahasa megalomaniak, ego diatas angin, dan semua hal yang bisa dinamakanan “lagu-perayaan-sifat-khas-binatang”

Kegagalanmu yang lain adalah membiarkan earphone itu mengeluarkan gas beracun yang kemudian membuat otakmu menyusut. Maka setaralah kau dengan derajat mahluk-mahluk dungu yang terlahir dari ras inferior namun punya keberanian penguasa untuk melabelkan diri sebagai intelektual, theologist, nabi diatas segala-galanya, ahli kata-kata!

Khair Lazuardi
Di gelombang yang sama kita bertemu
Menyamakan frekuensi dari getarmu menuju getarku
Entah sebaliknya
Tapi kenang masih harus ku urai
Bersama waktu, dan kamu satu, tentu

(2014)

Yudhie Guszara
Amurka nada swara

senyap geladak kemboja
belati nada tikam telinga
aku dengar petata petiti
suara suara amurka putih
rangkaian aku nada kematian.

(oleh yudhie guszra. Belitong.05.12.14. 08.13 Pagi di ujung merah)

Iyan Cahyana
Suara lembut terdengar sayu
Heningkan jiwa meraung raung
Menciptakan sejuta imajinasi
Mendengarkan alunan syahdu.

Citra Sasmita New
HEAR NO EVIL//
Sewing your ears/
Endless wire/
Of solitude//

Ike
SEUTAS PERANTARA

Terbentang sebagai penyambung batas
Perantara kau dan aku dalam hening
Menghantarkan suara-suara kepadaku yang rindu
Berbisik syahdu melenakan

5 Desember 2014

Nur Gusti Azizah

Kamu dan aku hanya berjarak satu depa,waktu itu

Terhubung dengan satu earphone,tanpa lagu yang terputar

Lalu apa yang kita dengar? selain desir angin dari sisi telinga sebelah

Tidak, aku mendengar sesuatu lewat earphone itu

Iya, detak jantung mu

26-12-2014

Saktya Rini Hastuti
Jerat sunyi pada bunyi-bunyimu. Menikam seribu hati, menjadi tak peduli. Mati layu nilai-nilai manusia. Terkapar dalam belit kumparan konsumsi. Ketika tanah, sawah, hutan terenggut jutaan kabel industri, kitapun tertindas, di negeri sendiri.

Tri Jengky
Suara-suara tergeletak atas mejamu
Meminta
Menuding
Mencaci
Memaki
Mengumpat
Bagai benang kusut

Suara-suara tergeletak atas mejamu
Adalah milikmu
Adalah persoalanmu
Untuk kau raih dan kau jawab satu demi satu

Suara-suara tergeletak atas mejamu
Bak bising lebah menggumam sember keleler

Suara-suara tergeletak atas mejamu
Adalah lagu lama pita kusut bermaksud

Abmi Handayani
dalam lagu-lagu picisan, ada kita.
girang berkhayal akan musim-musim.

Linggar Rimbawati Puwrowardhoyo
Mengautis

aku sedang tak mengerti dunia,
orang-orang berisik sekali!
kemarikan sumpal telinga itu
aku punya dunia sendiri

Abmi Handayani
bila sunyi takluk pada gelisahmu,
mari, marilah
kita pergi melihat sriti serentak terbang
pulang

Ratna Ayu Budhiarti
DARI JAUH

Suara-suara bergulung
Lagu dangdut dan gosip penguasa bertukar kabar
Bagaimana menutup telinga?
Deru kata-kata melengking serupa berlomba
Dalam gelombang.

#RAB, 05122014

Irvan Teh Mulyadie ·
KALIMAT TERAKHIR SEORANG IBU YANG MENINGGAL DUNIA SELEPAS MEMBERI PESAN PANJANG PADA ANAK LELAKINYA

Nak, jangan seperti bapakmu !

2014

Johny Itam
Sejuta dalam kata-kata

Sejuta dalam kata-kata
Membangun di segala arah
Yang tak henti di setiap angin
Wajah pun terkilir di senja yang kemilau di balik biru cakrawala
Hening dan matahari terus bersinar
Semenjak temaram yang menawar pun hanyalah waktu
Dan damai pun mengalun dalam angin yang berhembus.

23 Maret 2012

Alda Muhsi

Benarkah pada kekusutannya dapat terdengar irama syahdu
Menenangkan sejuta kalut, menyelimutimu yang terkapar di ujung ragu

Agustina Kusuma Dewi
MEMBUNUH OVERTURE

Tak ada bunyi bergaduh dan mengaduh; selain sepi
Dan setubuh kita
Ribuan teks dan gambar itu, melayang-layang dengan gaungnya yang panjang
Ishtar, bisakah kau beri aku sunyi?

Ratuarti Laras
Sennheiser Orpheus HE90

Telinga kedua
Seakan dunia berpindah padanya
Tak ayal berapa mahalnya
Kau kan mengejarnya
Musik, nada, suara
Hal pokok yg menjadi awalnya…
Milik pemuda yg gila suara

Herman Syahara
DENGUNG SUNYI

Lewat serat -serat yang teramat halus itu
Pernah kuucapkan rindu berwarna tembaga
Tapi kau tak pernah memberi isyarat apa-apa
Selain dengung sunyi yang panjang

Memedihkan.

Jakarta, Desember 2014

Savinprivat Aya
hujan menggila
suara suara teredam dalam kabel dobel
kenapa tak kamu tinggalkan aku diam terendam nada hujan..
malah hanyut oleh kusut semrawut lagu dangdut
hei, ego.

Agustina Kusuma Dewi
TITI NADA TITIK NOL

Akselerando : apakah itu yang kita mau?
Sementara aku kau dan kau aku belum juga sanggup mengeja tanda dari takdir abu-abu
Dalam komedi Ilahi dan simponi bunyi tanpa bunyi
Ah, doa.
Bagaimana jika kupesan itu satu, tanda bunyi darimu?

Dewandaru Ibrahim

Senada Sekata Sesuara

Kita tak bisa bercermin mata dengan mata
Namun kita masih bisa bersua lewat bibir dan telinga
Aku, kau, kita, masih terikat dengan satu tali
Senada Sekata Sesuara, Cinta

purwokerto, 5 desember 2014

Kie Guevara

Multiguna Tali suara/

Bayangkan tali suara itu mengikat bungkam perlawanan/Meninabobokan nasib tergeletak diam /raih dan urai pasangkan pada telinga penguasa/putarkan bait bait lirih kaum papa nestapa/bila tak di dengar ikat leher mereka dengan paksa//

(Kamar penantian, Belitong 6/12/2004)

Gustu Sinduputra
tuhan
dengan.labirin.gelap.tahun.cahaya.ihi
dengarlah.aku.berbisik:
bumi.berisik.
mari.kita.matikan.telepon.hari.ini

Sartika Sari

Suaramu menjadi sepi
Tenggelam bersama darah dan larut dalam denyut nadi
Tiada yang tersisa selain dendam
Rindu adalah makan malam dan teman tidur panjang
Jangan temui aku, dengan pertanyaan.

Dewandaru Ibrahim

Kabel Kusut

Ketika Kau tenggelamkan dirimu dalam emosi
Mulutmu kau bungkam dengan tangis
Padahal aku berkata dengan hati telanjang
Aku teriak di telingamu yang mungkin disumpal setan
Sampai kapan kabel-kabel tetap kusut di atas meja ?

purwokerto, 5 desember 2014

Farra Yanuar

CUMBU

Di telingaku, lagu-lagu
seperti cumbu, diretas jarak
paling merindu —

Tri Jengky
Permainan kata masuk dalam pipa-pipa tembaga
Mengalir kadang keras kadang lembut
Aku berlenggang tersempil corong suara ditelinga sambil bersenandung
Klason angkot dan corong suaraku adu kuat
Sopir angkot ngotot
Ngarep mau adu otot
Matanya melotot
Selayang kata “ngentot mata lo dimana”
Ku acungkan jari jempol TOP

Akbar ‘aban’ Amirullah
kumparan kusut seakan jadi lorong
kata nada beradu membius kalbu
terbang melayang alam asing tak pernah terbayang
tak dikenali tapi selalu kita bisa kembali

Abu Nabil Wibisana
Tali Telinga

telah dilepasnya tali kusut—tualang
khusyuk di antara sunyi dan bunyi
serupa ksatria yang kembali pulang
saat tekun memasuki telinga sendiri

(Fontein, 2014)

Dewi Mardiyana
Sebayang dan tiba-tiba sunyi menjadi lagu terindah, ketika kau teriakkan ke kupingku, kita telah berpisah

Nelden Dalisay Djakababa Gericke
Konser Sunyi

Kita saling memandang
Dari seberang ruang
Lalu kita bertemu di tengah, menari bersama
Dengan iringan lagu yang berbeda.
Aku tak tahu apa gerangan yang kau dengarkan.

(Brookline, 5 Desember, 2014. 00:23)

Firman Syah Earphone

Di titipkannya pesan
Pada kabel earphone
Dan bisik suara yg keburu di tinggalkan

( Saudi Arabia, 2014)

Lukas Jono
daya kehidupan modern sangat lunglai tanpa alat ini, Setiap aku menyetel lagu-lagu yang romantis ku pasang alat ini hingga ke rumah siput terasa pulih kembali, Oh apa daya bila tak mengunakan alat ini bila, handphone setiap dalam ke genggamanku.

Wardjito Soeharso
AUTISME KABEL

Aku
Kamu
Kita
Mereka
Sama: kabel di telinga!

Eva Nur Aprillail ·
SEMU

Beradu dalam irama-irama bisu
merayu
melugu
atau mendengkur
kita dalam suara; semu

Jakarta, 051214

En Hidayat
BUKAN URUSANMU

ketika suara para penguasa
saling tikam
kuping siapa yang terbakar ?

Hendar Nur Cholif II
Earphone

kau merusak saraf vestibulokolear-ku
dengan lagulagu rindumu
kau seakan sihir yang membunuh kewarasanku
hingga semua seperti
suara sangkakala yang siap membunuhku

Semarang, 05 desember 2014

Dhini Aprilio
*maaf, yg tadi diedit dikit
..
Serupa benang kusut
Mengurai denyut nadimu
Yang berseteru dengan alimbubu

Rinai lagu menjadi candu
Meretas segala risau dan kelu
..

Epi Siti Sopiah
Pada jalinan kusut
Irama menyusur kebisuan
Mencipta pengembaraan paling sunyi
Begitulah caramu menundukanku dalam sepi

Ade Riyan Purnama
LIRIH
Suaramu mengalahkan angin
Dari keterasingan yang menghantarkan nyayian
Pada musim hujan yang bicara pada gigil
Dan kau,
Alunkan sepi pada dingin

Gusmel Riyadh
KUPINGMU MAKIN LAYU DAN BEREMBUN

kini tutup tutup kuping itu
jadi kambing hitammu
berlagak hilang dengar
nuranimu yang berpagar

Anisa Isti
Hai,
saya sedang mencari suara Tuhan
Dua telinga telah mati
Dimakan berita dan televisi
Malangnya…

Dwiguna Putu
Kedadaran ku
INi kali ku sadari suara kusuk dalam batin radi

Irfan Arief
Susah tidur

Malam sedatar meja kayu
sunyi nya meraba wajahmu

kuping dan gaduh enggan berjauh

Edy Sembodo
dunia macam apa yang dapat kauciptakan dengan kabel di telinga?
tak ada, bukan?
hanya ada suara sepi, yang tersesat
dalam kenyataan rekaanmu yang lain

Dwiguna Putu
Kesadaran ku
ini ku sadari suara batin tlah jadi satu dalam desah nafas alirn melodi menyejukan telinggaku lewat kabel hadzet

Lukas Jono
Jika dunia seperti alat ini, apa jadinya? kita terlalu romantis dengan gadget kita. Kadang kita melupakan saudara di samping kita.. Oh !! alat ini telah merampas diri kita. seolah-olah alat ini nyata dan mereka di sekitar kita bayangan semu saja.

Damar Anggara
EMANG
boleh,kirim lebih dari satu?

Sumaiyah Rafi

Tortuous routes it may went,
Reaching for someone from the other side,
But spirits always light up to entertain,
Until purpose reached worlwide

Gunawan Hamimsyah
Suara

Kau hadir
Bawa berita
Hanya dengan untaian baja
Begitu bermakna
Membawa suara

Yustinus Popo
Kamu wagu,
Bisikmu merindu.

Titis Efrindu Bawono
SUNYI UNTUK SENDIRI

Satu ruang
Dua melodi,
Bibir kita berdendang, tanpa suara
Mata kita memandang

Saling mencari tahu
Apakah suara hati terdengar,
Menelusup halus di daun telinga

Waktu berdentang
usai,
dan kita tiada bicara
Menyimpan sunyi untuk sendiri
dan rindu kemudian meradang

Tedas Awan Tantular
suaramu

merayap suaramu
mengendap di telinga
aku menerawang rupamu
yang jauh di sana

Damai dalam ribut

Cercaan mu melayang kepada dunia
Memadati di ruang kecil ini, Sesak!
Aku lesakkan melodi agar mengalir dari telinga ke hati
Selesaikan ocehmu di sana!
Biarkanku terlelap, berdamai dalam denting indah nada.

Aris Rahman Yusuf
DIMANA TELINGAMU?

Di meja telah kusiapkan suaraku
Segala resah menggulung menyatu
Dekatkan telingamu
Rekatkan pada desauku
Sebelum luka mengabu

Mojokerto, 05122014

Faizy Mahmoed Haly
di tampuk hetset, suara itu masih saja bersenandung

Faizy Mahmoed Haly
di tampuk hetset, suara itu masih saja bersenandung
entah kau lupa menutup percakapan atau
kenangan yang lupa jalan pulang
lalu memberiku peluang mencipta
puisi tentang perpisahan yang mengharapkan kembali…

Semarang, Desember 2014

Nurul Azmi Part II
TULI

Tak lagi sama
Hormat tak lagi ada
Dari keras suara hingga samar-samar lenyap (di) udara
Semua Tuli, tak lagi peduli

Medan , 5 Desember 2014

Atria Dewi Sartika
Ini tentang seuntai kabel
yang menyambung jarak yang dipisah samudera
yang selama sesaat mampu menanggalkan rindu yang menancap
yang hadirnya jadi pengobat gundah dari sepi yang membayangi

Ini tentang seuntai kabel
yang darinya isak lirih bertabur doa ibu dibisikkan
yang karenanya kehangatan cinta seorang ayah diantarkan
yang bersamanya harap dua sejoli digelombangkan

ini tehtang seuntai kabel
yang menjadi saksi atas teknologi yang menentang jarak dan membantu sang pencinta menemukan penawar semu atas resahnya

Atikah Zata Amani
tapi percuma
hujan tak mendengar
tali temali itu tak sampai
(Lubang Buaya, 5 Desember 2014)

Bob Martokoesoemo
Tapi apa daya, seperti manusia, headset itu pun tak pernah dapat saling mendengarkan hingar apa yang terjadi di ruang masing masing. Bersikukuh untuk bertaruh siapa yang paling kuat berdiam. Apa susahnya menurunkan kadar gengsi untuk mengenal, sedikit saja, kedamaian dalam berhubungan, untuk kemudian, berpisah lagi.

Nadzme Bali
Suaranya..
Kata-katanya..
Gaya bicara nya..
Mematahkan semua logika..

Hanya rasa yang tertinggal..

Rahmat Radjendra

Cinta Rahasia

Dirahasiakan!
Cintanya kepada angin,
tanpa seseorang pun yang tau:

Selain daun yang menari-nari itu!

Jakarta, 18 November 2014

Inunk El-asta

SELANTUN LAGU

Dentum-dentum memecah kerisauan
Pada mimpi yang sudah terbual

Sepenuh lagu tak berkesudahan
Dalam hajat yang kegetiran

Aku ingin hidup bukan hanya sekedar
Tapi, melantun sampai kekal.

Malang, 2014

Repita Hadi

Suara Hati

Dikesunyian aku merapal doa

Memutar bisikan suara hati

Aku terluka oleh tajamnya kata yang kau bisikkan

Menghujani perjalanan dengan tangis

Mengharap Tuhan merangkul kasih

Ngawi, 2014

Iqbal Suryana
Kisah Hujan Sore Ini

Di hujan yang ini
Telinga menjadi seribut lebah
Mendengar suaramu yang sedakat ini
Membayar rinduku padamu
Melalui sebuah video masa lalu

Bandung, 5 Desember 2014

Hybrid Beginning
Adakah suaranya kan melantunkan sendu lagi di hatimu?.

Ketika aku hanya menjadi penyalur dari resah, mungkin.

Aku tak berniat menyuarakan gelisah yang lemur.

Namun pesan darinya terlalu garang untuk menolak ingin.

Kau pun terdiam, dengan aku di telingamu, lusuh menanggapi penolakan.

Alfa Anisa
Percakapan
ada suara yang mulai terpecah pada napas kesekian. ada cakap yang disembunyikan pada saku sang tuan. namun, ada rayurayu pada suaramu yang membisu.
ah, ada ada saja.

Blitar, 2014

Basuki Fitrianto

Kepalaku kini berdaun parabola. Telinga berdenging menjaring signal. Leher berakar kabel, menjalar ke ulu hati. Memeras sumber kehidupan. Aku lunglai karenanya. Dan aku tak berdaya.

Ida Iswari Icksanhadi

Jalinan itu tak bermakna
Ketika suara tak lagi terdengar di telinga
Bagai labirin tanpa cahaya
Kemana pun melangkah akan sia-sia
Lalu kita hanya mampu berpandang mata

Biolen Fernando Sinaga
jenuhkah kau, dengarkan lagu lagu pilu,namun musiknya tak sendu?sudah sejak dulu kukatakan padamu, bacalah sajakku!

Mif Baihaqi
Langkah-langkah remaja berjalan
kupingnya ditemani gemerisik’mu
Bahkan anak-anakku tidur
membuang guling, memilih dililit kamu
Dasar cacing, lu !

Bonk Ava
Kulihat wajahmu
Tersangkut
Di kabel headset

6/12/2014

Yudha Purwanto

Kita limbung pada rimba tak terlihat
Mengkhayalkan seolah nyata …
Menghiba berjoget melamun bersamanya …
Hidup terkotak sedemikian sempit namun serasa melalang buana
Berlarilah bersamanya … Sewajarnya, maka engkau akan kian pesat.

Vika Kurniawati
Lebaran haji

kambing putih menjerit

kuping membisu

Obin
“Daun Telinga-pun Beralibi”

Coba pahami? keruwetan antara kita

Namun tak bisa terka dan simpulkan

Nada sumbangpun berbuah renjana

Rindu meradang, dalam getir sunyi!?

Kuping beralibi, dan pura-pura tuli…

Solo, 6-12-2014

Muhammad Badrun
Senandung Hitam Putih

Suaramu yang gulita, memasang dengar nyanyian-nyanyian fatamorgana
Kini, raut wajahmu pasi dari cacian iblis menjerempak
Darinya kau menangis pasrah tak mengabah
Menjejal khuldi terbundal karam
Sampai pecah di kubangan tak berkawah

(Sajak Muhammad Badrun, Elhied, 6 Desember 2014).

Yaz Galih
Musik membutakan jarak
Ini cara kita untuk saling menemukan
Saling merindu diam-diam
Saling menatap bayang-bayang

Didik Siswantono
Perihal jarak yang begitu jauh;
seorang ibu diam-diam melipat waktu.

Lalu aku singgah di gadget usang,
menitipkan rindu melalui kabel-kabel itu.

Mencumbui ibu,
yang tangisnya jatuh satu-satu.

Melodia Metafora
Pendengar Setia

Saat-saat senggang,
antara kepungan kebisingan dunia,
masih aku menyimakmu, Kawan.
Tapi cepat atau lambat, suaramu tak terdengar lagi.
Kita memang semakin sepi, kian jauh dari setiap bunyi.

Fatoni Kolonial

Mulanya tanah, lalu sebelum pergi, sejarah kita dicabut
Dulu, nenek moyang kita merebut dengan darah dan nyawa.
Kini peradapan dan gaya hidup kita yang dibelah.
Ayo kita pulang Za. Pulang pada kidung, tembang, dolanan,/ dan pintu yang rindu dengan ketukan serta ucapan salam.

Mojokerto, 7 Desember 2014
(Akhmad Fatoni)

Johny Itam

Kupingku
Oleh: Johny Itam

Akhirnya kudapat mendengar walau sulit disembuhkan.
Dan kini kupertahankan agar semua orang boleh saling mendengar.

6 Desember 2014

Syifa Khumairah
siluet hitam memendar dari hati mu yg jalang.

matamu slalu trpejam.
telingamu tk pernah mau mmbuka penutupny.

baiklah, st ini kau bsa rasakan kengerianmu sendri; bersama kelimbungan yg akut.

gubug kecil, 061214

Dian Rachmaniadua
Sulur – sulur menggelombangkan vibrasi sakit, siapa kau? melilit dikedalaman malam, gendangku berdengung. Terlempar derit hingga melangit. Keluh mencumbu kulminasiku lantang!

Hari Nugroho Sugiharto
symphony itu terdengar lebih merdu
lebih jelas dari suara dikotak besar itu
tiap sudutnya begitu jelas terdengar
seperti berada dibibir pantai
menikmati alunan ombak yg menari

Dewandaru Ibrahim

meski kecil namun lantang
itulah aku yg teriak dalam kebisinganmu
menculikmu di keramaian dg merasuk padamu

Faiz Adittian
Dua lobang, dua jiwa

Apakah harus seperti ini
Tiap kali mengawali simphony
Kita selalu membutuhkan lobang
Agar kita berjiwa?

Gubug Kecil, Desember 2014

Prabu Sukarno Putra Putra

FRAGMENTALIA BIRU SATU BABAK

ull….kita mungkin sudah tidak membutuhkann ear phone…sebab yg harus kita dengarkan teramat banyak…

tapi ull…
yg paling gemuruh adalah suara didalam dada…!.(saat aku harus lihat kau bersamanya. …
dan harus menyadari hanya bagian dari masa lalumu….ah!)
Iwan S Adiwira Itu cuma alat, pengalih suara dari teriakan-teriakan.
Penyumpal telinga dari lolongan kemiskinan dan kemelaratan.
Atau bising knalpot-knalpot di jalan.
Coba kau satukan, kutubnya pasti bertentangan.

Pasang saja, lalu dengarkan suara mana yang kau ingat?

Reky Arfai

di kupingmu, benarkah pelbagai bunyi sembunyi, ketika ini bibir tak kunjung mahfum
merapal duka?

Iwan S Adiwira
Itu cuma alat, pengalih suara dari teriakan-teriakan.
Penyumpal telinga dari lolongan kemiskinan dan kemelaratan.
Atau bising knalpot-knalpot di jalan.
Coba kau satukan, kutubnya pasti bertentangan.

Pasang saja, lalu dengarkan suara mana yang kau ingat?

Herlina Syarifudin

Tulimu sepi
Gendang telinga kota
Enyah saja kau!
(Ciputat, 071214)

 

Asni Furaida
ELEGI KABEL
Petang itu obrolan kita berakhir pahit.
Ketika dengan semangatnya aku bercerita ba-bi-bu.
Telingamu malah asik masyuk dengan benda sialan itu.
Kau sumpal terus benda itu tanpa jeda di telingamu yang ada
tahi lalat itu.
Lalu esok harinya, kupotong saja kabel itu dengan harap kau
seluruhnya untukku setelah itu.
Tak dinyana, malah kau putuskan aku, gegara kabel sialan
itu.

Alburhan Ash-shiddiq
Aku gak suka pake benda itu di telingaku. Bikin pusing di kepala dan bikin kita tuli.

Riono Ardyansyah Putra
Judulnya…”sang pengantar hening”,..aih malam datang lagi.dalam rupa-rupa yang selalu wangi,nan sunyi.mengembara,pada lengkung dan horison,ufuk”misteri.kepul asap kretek,kopi hangat menjaga nyala.ah,itu karibku sebuah kabel earphone kusut,nampak tak berguna.tetapi,hening hamba nyeri tanpa engkau.memberi sentuhan essensi yang tersendiri, sunyi.merenung di sudut waktu.hingga,mataku terpejam tanpa suara.hanya renyuh,suara alam yang lengking dan nestapa.kabel”kusut,dirimu sang pengantar,jembatan,bagi kehidupan anak manusia.menghubungkan,kerinduan,angan dan Asa…

M Alif Marufy
Imperialisme tanpa mejikuhibiniu

Kutemukan album kolonial lalu

Devide et impera kesukaan jiwamu

Sengaja kalian abai peringatan Soekarno dulu?

. . . . . . . .

“eh maaf, tadi kau bilang apa?”

Pramukti Adhi Bhakti

Untuk Raden Machyar Angga Kusumadinata

Da-mi-la-ti-na
Harumnya titi nada
Iramanya tanah para dewa
Terlilit simfoni masa

Astral Mel
Melepaskan adalah jalan keluar
Kebisingan merajai suaraku, kau dan dia
Hingga kita tak bisa lagi mendengar apa – apa

Reky Arfal

di kupingmu, benarkah pelbagai bunyi sembunyi, ketika ini bibir tak kunjung mahfum
merapal duka?
• Andi Luqmannul Hakim · 8 mutual friends
*play* lalalala
*pause*………
*next*nananana
Kini aku tunarungu, tunarasa, tunacinta, tunasosial.

Yanwi Mudrikah

Swara

Swara memecah
Mengeja-eja hati
Jarak yang entah

Risti Danasmoro
Ssssssttt..
Diam! aku sedang mendengar kisah-kisah dari negeri sebrang..
Ohh, kau mau dengar juga rupanya..
Ini, satu telinga untukmu..
Dengarkan kisah Dian dan Asni dari benua Biru..

-Sekartaji, Desember 2014-

Prabu Sukarno Putra Putra
JIKA TELAH ANKARA….

tak usah gemertak geraham
atau kepalkan tinju….!
tapi cukup lilitkan kabel ear phone yang
dilehernya….lalu,….tarik!! ….. dan ucapkan
” selamat jalan……pergilah,kau keneraka……!!”

purbalingga 7 desember 2014

Petrus Cannisius

Telinga-telinga

Kudengar yang kusuka
Kusuka yang kudengar
Jika kebebasan adalah pilihan
Aku sudah membebaskan diri
Aku tak ingin meracuni dan diracuni siapapun

Solo, 2014

Tria Achiria
Aku lupa rupa, cuma bisa nerka di kanan atau kiri tahi lalat dekat matamu. hei, suaramu benar melipat jarak. Kukira rindu mulai retak. tapi nyatanya haus mataku jauh lebih suka meminum senyummu.

Poltergiest Suesser (Sri Astutik)
GENDHING

Suatu malam di kamar gelap itu,
Nang… jangan kau ganti baju, supaya ku bisa melihat tubuhmu
Ning, tahukah kamu apa itu turun kursi?
Thuk Pyang….alur gerusan waktu
Nong mpul, .. tiba tiba urun suara, hei ku ingin naik lagi
Gong …semua selesai
Nang ning thuk nong mpul pyang gong …. ku ingin jadi empu lagi.
Ahh dengung suara berantai itu
kembali ia mengusik kupingku, pikiranku
Setidaknya mereka ikut sibuk nembang diduniaku, dunia yang memberi tempat secuil untukmu, karena ketiadaan Indera.
Ya dengan ketiadaan indera ku meraba…
Haii kalian, engkau dimana?, Kemarilah duduk dipangku, karena hari ini dan esok ku ingin menyimak lagi senyum, seloroh, suara indah dalam tembangmu

DE, 11.12.14

Advertisements
Penulis dan Karya di Indonesian Poetry Battle on Facebook #2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s