Penulis dan Karya di “Indonesian Poetry Battle on Facebook #1”

28-4 Desember 2014
Kurator:
Fanny Chotimah (Esais)
Adinda Luthvianti (Sutradara Teater)
Ahda Imran (Penyair)
Anton Kurnia (Penerjemah & Esais)
Oka Rusmini (Pemenang Kusala Sastra Literary Award Kategori Puisi)
Penulis yang berpartisipasi:
Andy Sriwahyudi, Yudha Purwanto, Yudhie Guszara, Asni Furaida, Hari Nugroho Sugiharto, Eko YePe Sementara, Kie Guevara, Vey, Didik Siswantono, Tri Jengky, Nanang Yuswanto, Dhe Fandari, Yanwi Mudrikah, Poltergeist Suesser, Dedari Rsia, Alda Muhsi, Yosha Tri Ananda, Bob Martokoesoemo, Risti Danasmoro, Sonkski Ekalya Mardika, Kasih Nissa, Muhammad Badrun, Melodia Metafora, Ratu’Archy Laraz, Mifbaihaqi, Damar Anggara, Vika Kurniawati, Ria Resky Ilham, Khair Lazuardi, Ria Resky Ilham, Mona Yolanda, Bagus Setiawan, Bibit Duroriah, Atikah Zata Amani, Gunawan Hamimsyah, M Alif Marufy, Saktya Rini Hastuti, Purnadi, Savinprivat Aya, Citra Sasmita, MT Mudjaki, Akhsane Taqwin, Bonk Ava, Bima Aditiawan Putra, Eddy J Soetopo, Kirom Semburat Cahaya, Maulana Rizki, Adittian Dika, Tria Akhiria, Mahmud Yasin Ibnu Utsman, Maulana Rizki, Eddy J Soetopo, Bonk Ava, Aksan Taqwin, Citra Sasmita, Purnadi, Saktya Rini Hastuti, Bibit Duroriyah, Melodia Metafora, Bagus Setiawan, Vika Kurniawati, Mifbaihaqi, Ratuarti Laras, Pramukti Adhi Bhakti, Gusmel Riyadh, Linggar Rimbawati Puwrowardhoyo, Serüni Unié, Lukas Jono, Rahayu Mustika, Farra Yanuar, Yudi Rudiyansyah, Lutfi Mardiansyah, Afrilia Utami, Dhini Aprilio, Yayu Arundina Thea, Epi Siti Sopiah, Dewandaru Ibrahim, Moh. Ghufron Cholid, Rusli Marzuki Saria, Slamet Riyadi Sabrawi, Fransisco Bahtiar Mumen, Syifa Khomariah, Biolen Fernando Sinaga

Sartika Sari
tuhan, tungku di dapurku sudah kosong
periuk juga sudah lama kedinginan
sejak minggu lalu, berasku telah habis
dan uang di kantong juga tinggal kepingan tak sampai seribu rupiah
sedang lambung anak-anakku harus tetap kusuling

sudikah rezeki singgah di dapurku?
biar esok pagi-pagi kusematkan unggun di bawah tungku
untuk menanak nasi dan menggoreng secuil ikan asin
sebagai menu sarapan buah hatiku
yang yatim piatu

Gustu Sindhuputra
perempuan.itu.memintal.waktu.
digulungnya.usia.di.sudut.yang.paling.tua.
dengan.tubuh.lumpuh.layu
di.putarnya.kincir.dunia
tempat.yang.paling.terpencil
merangkai.benang.nasib.yang.getas

Yudha Purwanto
Rekahan dunia ini milik kalian
Gemerlapnya pun cuma menunjukan kelemahan dan kemalasan.
Berputar sana sini memperdengar keindahan Bungkus dan bukan isi

Yudhie Guszara
Roda Merah Nyanyian Nyanyian Duka

Aku mendengar suara suara isak tangismu mendengar rintihan rintihan Kelaparan selalu mendengar amarah amarah gubuk liar
Aku terus mendengar nyanyian nyanyian duka nyayian paduan Suara suara sumbang suara para kaum yang ternistakan Suara suara alam berteriak kesakitan suara malam melengkingkan kegelapan hitam
Nada nada merah nyala di urat urat nadi bergejolak
Di ruang dada bergemuruh di bundarnya bola mata
Darah mengental menggumpal dan memutar Roda merah putaran nasib Wajah wajah duka renta urat wajahmu wahai kedukaan

(Belitong 29 Nov 2014)

Yudha Purwanto
Kesederhanaan adalah azasi andai mengerti, berputar teranyam rapi antara jeruji dan jari pada perpanjangan masa yang begitu lama berada dan berdiri. Kekalutan ada karena orang teramat sulit menggapai sederhana.

Kie Guevara
Secercah harap ……………………………….. Kulihat ada secercah harap dalam setiap kayuhan roda penantian. harapan itu begitu menyayat luka luka sembilu wahai angin pembawa makna bukankah disetiap doa ada harapan, bukankah disetiap usaha ada jalan, aku tidak banyak berharap dalam hidup yang hanya tinggal menunggu kapan hari keindahan itu datang, membawa sejuk dalam riak pergulatan takdir. tapi aku mencoba untuk tetap bertahan melawan asa. Biarlah pintalan benang merah ini tetap terajut dalam mimpi panjang pengharapan sebab menunggu hari itu tiba tanpa gorehan makna aku mungkin hanya seongkok tulang dibalut daging. Percayalah di setiap putaran roda ini ada berjuta makna harap, percayalah aku tidak hanya menunggu, aku tetap bertahan dalam riak riak kehidupan sampai saatnya tiba.

Vey
Sempat kulihat setetes air di sudut mata,
tapi dia begitu perkasa menutupinya,
Apakah engkau Perempuan Pilihan yang dikirim dari Alam Duka?
Untuk menampar kami para pemimpi, yang hanya bisa mengeluh dan mencaci dunia, tanpa berbuat apa-apa.
Maafkan saya Bu.

Didik Siswantono
Perihal ketabahan itu, Mak
kita saling berbincang sebuah isak,
sambil menenun dengan dada sesak.

Lantas kau pura-pura berdoa,
menuhankan sebuah semoga
yang tak kunjung tiba.

Tri Jengky
Mak…
Begitu panjang uluran benang tuk kau kenang
Tak terasa waktu tergulung oleh tanganmu yang setia
Mak…
Sentuhan jari-jemarimu begitu tulus
Demiku anakmu
Mak…
Sungguhku tak kuasa
Melihat wajah penuh asa
Demi masa anakmu
Mak…
semoga tuamu nanti
Jadi arti bagiku nanti

Nanang Yuswanto
Terbit

Tenggelam

Gelap

Terang

Tak lelah mengetuk

Berhenti sesaat untuk menemaniku

Sepanjang jalan…

Sampai saat senja menawarkan emasnya

Kutitip asa dalam pelukan siang

Sampai habis waktu melukis duniaku dalam kanvas waktu

NY, 30 November 2014, 03:30:00

Asni Furaida
Pada rambut yang terus memutih
tangan yang lelah menenun
dan bibir yang terkatup rapat
kugantungkan asaku
mulut-mulut itu menunggu untuk disuapi
dari hasil tak seberapa ini
ah tak apa pikirku
kenyang ini berarti hidup dan itu sudah lebih dari cukup gusti!

Dhe Fandari
Helaian serat satu..demi satu melekat menjadi satu waktu…demi waktu mengikat kuat untaian waktu…. Tulus suci… tak melihat kelabu… Makna hasrat menyatu…laksana rasa…merasuk kalbu….hitam… Putih… tak akan menjadi makna tersirat….Untaian Sang penyatu serat akan merasuk setiap saat…

Yanwi Mudrikah
Perempuan yang senantiasa menenun tungku doa yang tak terhitung oleh angka
Mencari selaksa cinta dari keringat sendiri
Dengan jari-jemarinya yang lusuh
Karena rasa kemanusiaan

Perempuan tungku
Menyiratkan gelisah pada tepian bambu
Mengalir
Hingga kuntum-kuntum ibadah menjadi keindahan dalam benak
Purwokerto, november 2014

Poltergeist Suesser
huruf K… tiga inderaku tak henti-hentinya bertanya, cetakan huruf K. kenapa kau ada? cetakan yang salah bisikku, ahh tidak teriak hatiku. K … kerendahan, entah kerendahan yang mana, kemenangan, kelurusan entah benda lainnya. seandainya tak ada huruf paradoks ini, maka tak bercabang pula benakku. kala itu setidaknya huruf itu mampir dimataku. ia menyapa dalam diamnya dan teriakku. LS 10.2014

Yosha Tri Ananda
Nek.makan dulu..
Ini aku buatkan singkong goreng kesukaanmu.
Nek.hentikan sejenak pintalan dan benang yang membuatmu semakin menua.
Biar nanti aku sulap menjadi selimut untuk menghangatkan lelap tidurmu..

Bob Martokoesumo
Bu. Apa pintalan itu membuatmu bermakna? atau kau yang memberi makna? tidak bu, bukannya aku menyepelekan usahamu yang sekedar menyambung hidup dengan cukup. Namun yang berharga adalah kau melakukan semua ini dengan wajah kosong yang bahagia. Wajah yang tidak banyak mengharap apa apa. Kecuali setitik cahaya suwarga.

Risti Rininta Danasmoro

Aku mendambakan sebuah kebahagiaan yang sederhana
Dengan pintalan kesedihan mereka-mereka
Kurajut kisah-kisah sederhana tentang mereka-mereka
Untuk menjadi bahagia tentunya
Agar tak lagi sisa kehidupan mereka sia-sia
Sepertiku, yang telah usang dimakan usia
Jalanku menuju akhir, tak akan kubuang tanpa makna

Sonkski Ekalya Mardika
Aku memintal rambutku sendiri dengan kebahagiaan sahaja.. Kacamata kesedihan itu hanya padamu, tak usah kau sematkan padaku.

Kasih Nissa
Jika engkau boleh meminta pada Tuhan agar engkau dilahirkan dalam strata sosial yang lebih tinggi
Maka mata ini takkan melihat betapa tersiksanya hidupmu
Jika saat ini engkau masih bisa memilih keadaan yang lebih baik
Maka tidak akan ada jiwa yg rapuh disetiap sudut kota
Jika saat ini engkau masih bisa bersuara lebih keras
Maka aku yakin jeritan hatimu akan lebih memekakan mereka
Dan jika masih ada harapan untuk tetap bertahan dalam keadaan
Maka akan aku katakan “wahai generasi harapan, tak ada pilihan selain perubahan”
Hidup revolusi!

Muhammad Badrun
Dua Waktu Satu Masa
: dunia
Kita adalah buah yang tumbuh dari pohon-pohon tersemaikan. Menjadi anggur, madu, bahkan kecubung memabukkan sekalipun. Janji yang menyelinap di pundak-pundak hamba telah terbawa oleh usia terberikan tentram dan niscaya, selebihnya gulita tak terraba. Kini diriku dirimu dalam labirin mencari seberkas pelangi dari kedukaan yang menyinggahi. Tengoklah, air laut yang jernih sering menghembus aroma busuk. Tapi tidakkah di dasarnya tersemayam mutiara?
(Karya Muhammad Badrun, Karangsuci-Purwokerto, 15 November 2014)

Mahmud Yasin Ibnu Utsman
Lembut kasih ialah seorang tua dengan keriput pipi
Memintal asa dengan kasih yang terlahir dari seribu musim bunga.
Harum kasih memendam rajutan kisah.
Dalam bayangan hanya ada garis2 kasar yg di makan usia.
Serempak dengan matahari terbenam.
Tangannya menuliskan riwayat panjang
Siapa yang lebih bijak dari tatapanmu. Lihai meilah warna hingga menjelma mimpi paling rapuh sekalipun.
Mimpi yang kau ciptakan sendiri. Pada luka
Pada cinta
Pada sekian harapan
Terurai bersama usaha keras dalam hidup.
Serupa apakah pintalan dari kasih sayang tanpa batas?
Ialah serupA alam membentang jauh dalam hatinya

Andy Sri Wahyudi
kau tahu?
bertahun tahun aku di sini, dan tak ingin menjadi puisi puisi.aku hanya menepati janji

Tria Achiria
Gulungan mimpi tak pernah menjadi sejarah yang terjamah kerut keriput jemari, cuma jelaga duka yang ditanggalkan api seusai membakar habis cemas dan harap di pergantian musim ia jadikan teman dalam sepi.

Adittian Dika
WANITA YANG MENGEJA SENJA
Ketika senja mengisyaratkan pada pagimu yang telah gugur. Kau tetap bersikukuh dengan terus menyemai langkah jemarimu. Namun aku masih jumpai di dalam jiwamu, segumpal embun. Masih menyejukkan kepada tanah lapang; hatimu. Kau mencoba membaca semesta. Hingga akhirnya kau mampu mengeja senja. Dan kini, izinkanlah aku. Merangkum semua bacaanmu. Mengeja semesta.

(Gubug Kecil, November 2014)

Maulana Rizki
Memintal kasih disetia jemarimu
Takkan tua meski menua
Takkan layu meski melayu

Adalah Cinta mengalir digaris wajah
Sebab kerinduanlah disepenuh hati

Diputaran kayu memutar waktu
Sembari duduk lemah ditikar
Rentan tubuh yakinmu bersiteguh
Bahwa Rejeki takkanlah tertukar

Eddy J Soetopo
Kau pintal benang merah dan putih
di dadamu tak lagi menarik
kau pintal bokongmu yang sintal memerah waktu itu
tak kupikir kau ternyata penipu
kau berada di dalam lingkar cengkram kekuasaannya

senja memerah
tak ku liat lagi darah di otakmu
putihnya sumsum di tulangku kini kau renggut
tak lagi ku lihat gemeretak gigi beradu
menahan marah
menahan sakit
menahan lapar

lenyap sudah putih nuranimu
dalam darahmu
darah kebencian
bukan lagi darah jelata rakyatmu
kini mati membeku

Bonk Ava
Tuanku yang agung

Datangkanlah seorang malaikat

Jauhkan dia dari petaka

Ijinkanlah dia tinggal lebih lama

Aku bersujud padamu

Tuanku yang agung

Akhsane Taqweens
Pemilin Derita

Ini waktu digempur sesak
Wajah durja dihajar lipatannya
Ini gemuruh belum reda
Seperti jarum jam yang menusuk-tusuk tak berdarah
Namun nyeri, mencucurkan derita

(2014)

Citra Sasmita 
PENGANTIN MERAH

Setelah seribu sabda nabi ditorehkan dalam setiap kerut kulitmu
Apakah yang akan kau tenun dari benang merah
yang terpintal dari seluruh urat nadimu, dari setiap tetes darahmu?
“Aku ingin mengawini Tuhan” katamu dalam sepi yang purba
Maka terbentanglah kain seluas langit senja
seolah dengan doa saja mampu merajut semburatnya dengan seketika
Barangkali…
Barangkali akan menjadi baju pengantin paling merah
dalam sepanjang catatan zaman

Purnadi
JANJI JEMARI
pada raga berbau debu
jemari menari menagih janji
kaupintal rejeki, habiskan hari
sendi-sendimu sereot bambu
nampak pilu, kaubiarkan berlalu
kini jemari tak lagi janjikan kepalan
bak debu, tinggal harapan

Solo, 2014

Saktya Rini Hastuti
Pada helai-helai benang ini, sarat helaan napasku.
Mengiringi memutih helai rambutku.
Telah ku tempuh waktu, tiga perempat abad.
Melafalkan harap di tiap helai benang,
membisikkan doa, di tiap bentuk pintalan.
Karena inilah hidup kita.
Merajut helai benang, merenda kehidupan.
Bukan untuk kau kenang, anakku,
bukan, bukan itu.
Pintalan ini kuharap menjadi pengantarmu.
Tuk terpintalnya empati dan kepedulianmu.
Pada sosok-sosok perempuan marginal, seperti aku.

Bibit Duroriyah
Anakku….
Bukan aku tak mau duduk di sofamu
Bukan aku tak mau teh hangat buatanmu
Bukan pula aku tak mau selendang darimu
Aku hanya tak ingin duduk terpaku
Diam tanpa karya
Tanganku blm lelah anakku
Aku msh ingin trs memintal benang ini
Sampai batas lelahku

Melodia Metafora
“Kepada Anak Cucuku”

Apa yang sisa setelah aku tak ada?
Setiap benang akan putus, setiap kain akan lapuk.
Di ujung senjakala ini aku tak memimpikan apa-apa.
Hanya hidup begitu saja.

Tak ada yang aku kejar. Tak ada.
Apalah arti kerja tanpa cinta.

Datang kemari,
bukan mencari seteru atau sekutu.
Tidak pula untuk tertawa dan bernyanyi.

Hanya berlalu
dalam cinta yang diam.

Seperti desir angin
sore hari, yang menyentuh
kening seorang ibu.

Bagus Setiawan
Setiap yang bernyawa pasti menemui mati
Jangankan yang mati
Yang hampir mati pun kau eksploitasi
Kalau saja aku harus mati menolak reklamasi
Kenapa harus repot berpolitisi
Aku terlalu tua untuk meronta
Tanpa harus kau seka tenun cepak di antara rongga
Setidaknya, berikan aku pilihan mati di atas
gundukan tanah sendiri
Telur emas siap merekah, sebentar lagi

Vika Kurniawati
Berhentilah perempuanku!
Tak jua kau jemu sayup suaraku?
Aku sudah lelah kau jamah
Kerut,lipitan,kasar sudah memenuhi ujungnya
Kapan terahkir kau lelap?
Hastamu bertambah bergerak tak pasti,sudahkah kau minum obatmu?
Telanlah sesuap beras matang,reguklah secangkir air
Buatlah Dia yang menanam rohmu di kehidupan tersenyum
Aku berjanji tetap mencintaimu…
Tetaplah benang yang melingkupi tubuh tuamu

Mifbaihaqi
Tembok yang lusuh, tak selusuh ikat kepalamu
Benang pintalan lebih merah dari kaosmu
Nenek, aku berguru pada gairahmu
Tatap hidup dan mati, berani

Kayu pemintal, sederhana terikat kawat
Besi berputar, tak lelah menyimpan semangat
Nenek, aku berbakti padamu
Untuk mentradisikan tradisi negerimu

*01.12.2014

Ratuarti Laras
Sumba Persatuan

Helaian demi helaian kau satukan…
Serupa jiwa kami
Sesosok dirimu, ibu pertiwi
Telah lahir warna
Serupa kami
Warna sumba pelangi
Kau satukan kami, kau usap air mata
Kau ciptakan kedamaian

Pramukti Adhi Bhakti
Bungkam

Mata ditutup
Telinga dikatup

Mulut terbuka
Tak ada suara

Hanya sunyi
Hanya sepi
dan darah mengaliri
tubuhku mati
Jiwaku hidup abadi

Gusmel Riyadh
Puisi Memakan Nenek

Oh nenek yang kempot
malang sekali nasibmu
dilempari sajak beribu
matamu kian melorot

Linggar Rimbawati Puwrowardhoyo
Sang Pemintal

pada dadanya ia memintal jejak perjalanan
hitam merah peristiwa, remuk redam derita
jarinya begitu tabah menyimpan kesumat
yang ia terjemahkan pada panjang benang-benang
menjelma apakah kenangan yang ia pintal?
mungkin sebentuk lukisan
yang merekam kerentaannya
mungkin juga selautan darah yang telah ia tumpahkan

2014

Serüni Unié
PEREMPUAN PERKASA
Kubaca perjalananmu, melapuk di garis tangan
Tulang pipi dan uban
Adalah gurat kasih sayang pada anak
Yang telah jauh beranjak,
Meninggalkanmu sendiri
Menghitung sepi
Tabah menghabiskan senja
Tanpa siapasiapa

Lukas Jono
Puisi 1 Perempuan tua
Tak rentankan hidupnya di usia senja,
Terus memintal benang-benang dengan untaian batin yang ulet
Cinta hanya menjamahkan sebuah arti dari lingkaran hidupnya
Bila akhir hayatnya pastilah tumbuh amalnya bagi semua kehidupan
Tingkir,1,12,2014

Puisi 2 Memintal senja, di asa terus berjalan dengan usia tak muda lagi. Takdir Kepasrahan terus berjalan mencari sesuap nasi untuk menyambung hidup

Rahayu Mustika
Di renta usia nan lemah daya
Dua bola matamu masih saja siaga
Keluh tak bergemuruh
Tak jua menggulana kesah duka
Segulung harap berkelindan erat
Terlerai rapi di tiap putaran roda
Sementara jemari terus mendayuh
Turut berpacu memintal benang-benang asa
Selama nyawa sedia melekat di raga,
Kau takkan henti meski jenuh, takkan usai meski lara.

Farra Yanuar
TUBUH PEREMPUAN
Nanda, separuh kepalaku tertinggal di dapur, diantara bau tungku dan sisa kencur. Sebagian lainnya terselip di bilik-bilik, doaku dan mimpimu saling melirik. Di dalam gelas retak, lambungku tukak. Tak sekedar teh basi. Pun sisa nasi, hanya cukup kau kemasi.

Mesin tenun, meminta tubuhku bertahun. Kusembahkan jiwa, agar kau dijaga dari majenun

Yudi Rudiyansyah
Kosong tetapi isi
Tak letih jemari memutar hari
Mungkin tetapi pasti
Tak lelah memintal mimpi
Tetap tertatih merangkai serpihan hati

Kosong… isi…
Dalam harap tetap menanti
Pasti…
Dibalik kosong itu kau hadirkan isi
Wujud kasih yang selalu berarti

Lutfi Mardiansyah
yang kupintal mestilah hidup
nafasku sendiri, sejengkal
keabadian barangkali berwarna
merah, merah yang rapuh
yang kupintal mestilah takdir
sesuatu yang kekal sebentar
sebelum hening
sebelum ujung benang

Afrilia Utami
PEMINTAL BENANG, IBUKU

seorang ibu menenun benang merah
dan para anaknya melemparkan tubuh
ke garis berikade terjauh, menyela kabut.

di antara kesabaran dan tegarnya jemari
apa tak ada kesedihan tumbuh di biji matanya?

selama awan mendatangkan gerimis
ibu penenun benang, menjadi matahari
tak akan pernah menghabisi hari tanpa lara-usaha.

matahari bisa begitu terang di sini
tapi begitu jauh dari pelukan ibu.

2 Desember 2014

Dhini Aprilio
Perempuan Pemintal

Adalah perempuan yang hidup dari masa lalu
Mekar bersama mentari yang berlari
Menjalin helai demi helai denyut kehidupan
Seiring perputaran 33 denting Tasbih, Tahmid, dan Takbir

Hingga waktu mengisutkan raut
Mengukir peradaban zaman
Mewujudkan takdir tubuh
Memintal detik hingga sakratulmaut
Memutuskan helaian benang

Yayu Arundina Thea
Kisah Kain Tenun
pintalan-pintalan kehidupanmu
melahirkan sebuah kisah lembaran kain tenun
guratan-guratan di wajahmu
melukiskan aneka corak di laut mahfudz
mungkin petaka untukmu
atau inspirasi bagi dunia
Kau setia memutar benang-benang kisah itu
sampai ajal menjemputmu

Epi Siti Sopiah
Jemari dan punggung yang basah oleh matahari.
Menyodorkan selembar kain penuh kasih untuk kehidupan yang terlahir dari rahimnya.
Merah.
Cinta tak habis pada helaian benang yang ia hitung setiapnya.
Berputar berabad-abad di sudut alat pemintal.
Melunasi rindu dengan kabar yang datang pada rambut, pada kerutan di wajah, pada usianya yang kian renta.
Menempuh jarak pengembaraan.
Di puncak segala ketiadaan.

Dewandaru Ibrahim
Sehelai Pita Merah

Nak, aku daun kering yang hampir gugur di tiup angin
Sering kali aku diserang penyakit
Aku sudah kenyang dengan rasa sakit
Namun aku tak paham deritamu, tak paham sakitmu
Yang tergigit hewan buas bernama Aids

Nak, kita sama sama menggendong nisan, sama sama di tepi liang
Kita akan dijemput malaikat dalam waktu dekat
Tak bisa kulakukan apa-apa untukmu selain kupintal benang merah ini
Untuk ku ikat di kepalaku kau ikat di kepalamu
Agar tetap kita semangat meski jalani hidup dengan sekarat
Purwokerto, 2 Desember 2014

Moh. Ghufron Cholid
Perempuan Bermata Purnama

perempuan bermata purnama

menepikan gulita di tiap helaan nafasnya

garis-garis usia di wajahnya
begitu karib menggaris nasib

menerjemah hidup sepenuh yakin
menjemput bahagia seutuh batin

Madura, 2 Desember 2014

Rusli Marzuki Saria
Kurajut benang di rodaroda berputar
nasib berputar tenunan usia
aku bertahan dalam anyian benang
ragi dan warna saling berpantun
Slamet Riyadi Sabrawi
Ribuan benang merah merajut waktu pada wajahmu. Memintal kerut pada kulit jarimu. Bersaga menepis jelaga usia.

Pada putaran ke berapa enggan kau menghitungnya. Kain menjadi dan doa talkin kau susun melipat usiamu yg genting.

Hari Nugroho Sugiharto
Jemariku tak sekuat dulu
Rambutku tak sehitam dulu
Kulitku tak sekencang dulu
Umurkupun tak semuda dulu
Tapi jiwaku masih yg dulu
Kupintal benang ini
Helai demi helai
Walau mata tak muda lagi
Demi mengisi perut ini
Damar Anggara ·
merahlah dalam diam,
kuputar seumpama nasib diri,
kukuh mempertahan tradisi,menjaga warisan leluhur,
o,
merahlah manis asa

akulah penyulam nasib diri,
di kediaman harihari

restu tuhan mengikut jua,
syalala

Mona Yolanda ·
“Pintalan masa”

Masa ini sudah panjang berlalu

Terangkum dlm roda pintalan yg kau putar

Masa mu dengan pipi semburat merah

Berangsur baur dengan kerut masa yg terasa kian berat

Namun putih yg melarut dihitam rambut yg kini kelabu

Tak pernah bisa memupus asa

Seiring tangan yg trs memintal merahnya benang ini

Ria Resky Ilham ·
Ini tentang masa
Dimana ada tua, juga muda
Hanyalah masalah waktu
Bertalu, kemudian menjadi lagu
Maju, tapi juga lalu

Ini tentang kisah
Yang kadang kau lihat susah, tapi ternyata mudah
Semrawut menggulung, lalu membulat dengan rapih
Dari ia Sang Maha.

Aduhai, menjadi tua bukanlah dosa
Melainkan fakta untuk diterima.

Savinprivat Aya ·
andai kata ini dunia
bukankah aku yang berkuasa?
benang merah semua kehidupan
kujaga tak kusut tiap putaran..
aha ,sebenarnya bukan
ini hanya takdir yang kujalankan..
jalan yg kuanggap ditakdirkan..

Khair Lazuardi ·
Di merahnya terpintal asa
Di lingkarnya terbelit cipta
Di tangannya tergenggam rasa
Di kerutnya tergurat cerita

Lelah tak menjadikannya kesah
Peluh tak menjadikannya keluh

Di dada ada harap dan dekap

(November, 2014)

M Alif Marufy
Selepas Maghrib

*klik*
“Kita lihat, berapa kata tersulut”
“Apa sudah selesai? Boleh kulanjutkan karyaku?”
“Ah coba kalau warnaku biru ya”
“Hei, aku disini! Jangan abaikan”
“Kuharap kau tetap tegar disana”
“Jadi, kau menyebut komentarmu itu puisi?”
“ooh…” *abaikan*
“Sudahlah, cuma kata bisa apa? Kembali berkerja!”

Gunawan Hamimsyah New ·
Benang Merah
Benang merah yang menggulung
Merajut hari hari yang penuh mimpi
Mimpi akan sebuah tujuan yang belum pasti
Mimpi yang masih penuh misteri
Tapi…
Tak perlu nenek takut dengan mimpi mimpi itu
Karena perjuangan adalah kenyataan dalam hidup
Agar hidup jadi lebih betarti..
Kelak penerusmu akan menghargaimu
Membanggakanmu karena semangat hidupmu
Benang merah yang pernah menggulung
Benang merah yang pernah kau rajut
Akan menjadi bukti terindah
Sebagai bukti perjuangan hidupmu

Atikah Zata Amani ·
Mak,
Dulu kau jalin urat semburat demi nasi barang sesuap ditengahnya ada janji putaran roda kalau hidup akan meningkat

Mak, kini urat mu tak lagi kuat dan putaran roda kian melambat sejenak baru kuingat peluh basahmu nampak diliang lahat, ditengah hujan dan matahari yang datang terlambat

MT Mudjaki ·
Batas Ibu; Tak Sebatas Lekangnya Waktu

Aku….
Seorang ibu yang tak mengenal, dimana titik kejenuhan hidup itu menghadang
Karena dan sebab…
Pada garis guratan otot memajang bingkai, itulah kesaksian jalan kesabaranku
Demikianpun juga…
Pada pintalan serat benang mengulir wujud, itulah kesaksian jalan kasih sayangku

Wahai anakku : Wahai semesta rayaku
Tersenyumlah…
Atas jerih payah yang telah aku berikan untukmu;
sebagai seorang ibumu….

.Semarang, 30/11/2014

Bima Aditiawan Putra
RODI

Darah hitam
langit pekat
Semangat memberat
ke liang lahat.

Prambanan, September 2014

Eko YePe Sementara
Kafan ini selesai kutenun saat ajalku tiba

Dedari Rsia ·
Kau memintal keperihan
Dengan warna urat rapuh
Semburat garam air mata
Menjadi kain hidup
Yang dicelup sepuh anak anakmu

Memanjangkan benang
Menghitung sisa usia
Waktu yang tak pernah sia sia
Karena gemetar tanganmu
Adalah tarian penuh keindahan
Tenun jalan masa depan

Alda Muhsi
Anakku, jika ketika kau pulang aku telah tiada
Jangan cari di mana
Anggap saja kecupan tadi sebagai salam perpisahan
Lalu kenakanlah tenunan merah ini
Yang melambangkan tegar dan keberanian
Agar nanti tak susut keriput kulitmu dihisap malam

Kirom Semburat Cahaya 
Yang Terdalam

Dari sudut matamu yang tak pernah bisa terpejam
Kau titip seribu cinta di atas benang yang senantiasa kau pintal
Sedang dari ubanmu berjatuhan kenangankenangan yang
Tengah kau luruskan bersama benang yang kusut
Dan dari warna serupa
Waktu demi waktu
Pudar warna pipimu
Pudar pula benang merah
Dalam putaran roda kayu itu

Tri Jengky
Seakan paham arti benang merah yang kau pintal

Namun putaran roda takan pernah mau bergulir padamu

Kau masih tetap memutar arti benang merah yang berarti bagi orang lain

Syifa Khumairah
Sisa-sisa embun di sudut senyumnya ; si wanita pemintal
benang

Ketika parodi kehidupan melenggang memilukan
Menyisakan luka hingga tak tertera
Menyakitkan!.

Di bawah nama senja, dia masih saja terduduk memeluk naskah hidupnya
Mengeja dunia dengan sisa-sisa embun di sudut senyum sengir
Yang memaksanya, untuk selalu memintal benang merah kehidupan bersama senja ; seorang diri

Gubug Kecil, 03.12.2014

Fransisco Bahtiar Mumen
oh

Biolen Fernando Sinaga

Kaupintal kain,kusulam kata.
Dari tanganmu untuk raga,
dari kalbuku untuk jiwa.

Medan, Desember 2014

Advertisements
Penulis dan Karya di “Indonesian Poetry Battle on Facebook #1”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s